sekitarmalangraya – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur belum sepenuhnya padam.
Hingga Senin, 19 Oktober 2026, api masih terpantau menyala di empat kawasan gunung, yakni Bromo, Sigiran, Arjuno-Welirang atau Ringgit, hingga kawasan pegunungan di Situbondo, sejak mula kejadian pada Jumat malam, 16 Oktober 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa kebakaran di kawasan Gunung Bromo bermula dari area Bukit Kembang dan kini meluas hingga wilayah penanjakan di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
“Tim gabungan melakukan pemadaman menggunakan 1 unit truck damkar dan 1 unit mobil tangki air,” kata Gatot kepada wartawan, Minggu, 18 Oktober 2026.
Angin Kencang dan Medan Terjal Hambat Proses Pemadaman
Selain di Bromo, karhutla juga terus berlangsung di wilayah Gunung Arjuno, tepatnya di area Gunung Ringgit, Desa Ledug, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Gatot menjelaskan bahwa lokasi api di titik tersebut saat ini berada di balik puncak Gunung Ringgit, sehingga pemadaman secara manual oleh petugas di lapangan sulit dilakukan.
“Api saat ini berada di balik puncak Gunung Ringgit, sehingga tidak memungkinkan pemadaman secara manual dikarenakan medan yang terjal,” jelasnya.
Baca Juga: Pendidikan Merata Bukan Sekadar Janji, Pembiayaan Adil Jadi Kunci
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menambahkan bahwa luas lahan yang terbakar di kawasan Bromo atau Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah mencapai 75,37 hektare.
Selain Bromo dan Arjuno-Welirang, karhutla turut melanda kawasan Gunung Sigiran di Kabupaten Mojokerto, serta tiga titik api baru yang membakar kawasan Tamankursi, Kabupaten Situbondo, dan wilayah perbatasan Probolinggo-Jember.
Angin kencang yang bertiup di sepanjang kawasan pegunungan menjadi salah satu kendala utama yang mempercepat penyebaran api, selain kondisi topografi wilayah yang berbukit dan sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Tim gabungan dari BPBD Jawa Timur bersama instansi terkait terus berupaya memperkuat penanganan, termasuk mengerahkan Tim Reaksi Cepat untuk menembus kawasan hutan guna memadamkan api secara manual di titik-titik yang masih bisa dijangkau.
Rangkaian karhutla di kawasan Bromo kali ini turut diwarnai duka mendalam, menyusul gugurnya empat petugas gabungan saat menjalankan misi pemadaman pada Kamis, 15 Oktober 2026, dengan dua petugas lain mengalami luka bakar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa tersebut, sekaligus menegaskan pentingnya keselamatan personel di lapangan dalam setiap operasi pemadaman karhutla ke depan.
BNPB menekankan bahwa kesiapan sarana pendukung, penerapan prosedur keselamatan, serta kemampuan mengevakuasi personel secara cepat menjadi bagian penting dari upaya pengurangan risiko bagi petugas yang bertugas di medan berat seperti kawasan pegunungan Bromo dan Arjuno.
Setiap keputusan di lapangan, menurut BNPB, perlu terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi kebakaran serta ancaman yang dihadapi personel.
Sebelumnya, kebakaran di kawasan Bromo juga sempat memaksa evakuasi sekitar 110 pendaki yang berada di jalur Arjuno-Welirang akibat meluasnya titik api, meski seluruh pendaki dilaporkan berhasil dievakuasi dengan selamat.
Kondisi kemarau panjang yang melanda Jawa Timur turut menjadi faktor yang memperbesar risiko kebakaran di kawasan hutan dan lahan pegunungan sepanjang Oktober 2026 ini.
Masyarakat maupun pendaki diimbau untuk sementara waktu menghindari aktivitas di kawasan gunung yang masih berstatus rawan karhutla, serta terus memantau informasi resmi dari BPBD setempat sebelum melakukan pendakian atau kunjungan wisata.
Baca Juga: Sekjen PBB Puji Peran Indonesia dalam Menjaga Perdamaian Dunia
Dengan masih berlangsungnya proses pemadaman di empat kawasan pegunungan tersebut, tim gabungan berharap kondisi cuaca dapat lebih mendukung dalam beberapa hari ke depan, sehingga seluruh titik api dapat segera dikendalikan tanpa menimbulkan korban maupun kerugian yang lebih besar.









Leave a Comment