sekitarmalangraya – Pemerintah Thailand meminta masyarakat menyiapkan tas darurat yang dapat memenuhi kebutuhan dasar selama 72 jam pertama ketika terjadi bencana atau keadaan darurat.
Imbauan tersebut disampaikan Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana (DDPM) pada 2 November 2026, di tengah meningkatnya perhatian sejumlah negara terhadap persediaan kebutuhan darurat.
Meski muncul bersamaan dengan kabar puluhan negara yang meminta warganya menyimpan makanan dan perlengkapan penting, pemerintah Thailand menegaskan imbauan itu bukan tanda bahwa negara sedang menghadapi ancaman konflik.
Persiapan tas darurat merupakan bagian dari edukasi kesiapsiagaan bencana yang telah dilakukan DDPM.
Direktur Jenderal DDPM Nirat Pongsitthaworn mengatakan, Thailand tidak termasuk negara yang secara khusus diminta bersiap menghadapi kemungkinan dampak konflik di Timur Tengah.
Namun, masyarakat tetap perlu mempunyai perlengkapan dasar untuk menghadapi berbagai keadaan yang tidak terduga.
Nirat menjelaskan, sejumlah negara telah mengimbau penduduknya menyiapkan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok untuk persediaan selama tiga hari.
Sementara di Thailand, tas darurat dipandang sebagai langkah pencegahan yang berlaku untuk berbagai risiko, bukan hanya konflik antarnegara.
“Setiap rumah tangga harus memiliki tas darurat agar, jika terjadi keadaan darurat, baik itu bencana alam, perang siber, atau konflik internasional, mereka dapat segera membawanya saat mengevakuasi daerah yang berisiko,” kata Nirat.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul juga meminta masyarakat tetap waspada, tetapi tidak panik dalam menyikapi perkembangan situasi internasional.
Ia menyampaikan bahwa Thailand memiliki ketahanan pangan yang cukup dan mengingatkan warga agar tidak bereaksi berlebihan terhadap imbauan negara lain.
Isi tas darurat dan alasan persiapan 72 jam
DDPM menyebut 72 jam pertama setelah bencana sebagai periode penting. Dalam rentang tersebut, warga di wilayah terdampak mungkin harus memenuhi kebutuhan sendiri sambil menunggu pemerintah mengerahkan petugas dan menyalurkan bantuan.
Ketersediaan air, makanan, obat-obatan, serta alat komunikasi dapat membantu keluarga bertahan pada tahap awal keadaan darurat.
Baca Juga: Prabowo Terima Surat Kepercayaan dari 11 Duta Besar Negara Sahabat
Departemen tersebut merekomendasikan enam kelompok perlengkapan untuk dimasukkan ke dalam tas. Kelompok pertama mencakup obat-obatan, perlengkapan pertolongan pertama, obat pribadi, dan catatan kesehatan.
Kedua, makanan siap santap serta air minum. DDPM menyarankan persediaan air sebanyak tiga liter per orang per hari.
Kelompok ketiga adalah alat komunikasi dan perlengkapan pendukung, seperti telepon seluler, pengisi daya portabel, senter, baterai cadangan, radio, serta peluit.
Radio dapat digunakan untuk memperoleh informasi apabila jaringan internet atau komunikasi terganggu.
Selanjutnya, warga dianjurkan menyimpan dokumen penting dan uang tunai dalam wadah tahan air. Perlengkapan kebersihan pribadi, termasuk tisu, sikat gigi, pasta gigi, dan kantong sampah, juga perlu disiapkan.
Kelompok terakhir meliputi pakaian ganti, jas hujan, topi, selimut, atau kantong tidur.
DDPM mengingatkan bahwa tas sebaiknya ringan, tahan air, dan ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau. Isi tas juga perlu diperiksa secara berkala untuk memastikan peralatan berfungsi serta makanan dan obat-obatan belum kedaluwarsa.
Imbauan tersebut ditujukan untuk menghadapi beragam risiko, mulai dari banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, wabah penyakit, kebakaran, kerusuhan, hingga gangguan akibat tindakan manusia.
Karena itu, pemerintah Thailand menempatkan persiapan 72 jam sebagai bagian dari kesiapsiagaan umum.
Pemerintah juga meminta keluarga menyesuaikan isi tas dengan kondisi masing-masing anggota rumah tangga. Kebutuhan bayi, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, maupun orang yang mengonsumsi obat rutin perlu diperhitungkan.
Persediaan tidak harus disiapkan sekaligus, tetapi dapat dilengkapi bertahap dan disimpan di tempat yang diketahui seluruh anggota keluarga agar mudah diambil saat evakuasi setiap saat tanpa menunda langkah penyelamatan.
Pada 5 November 2026, Kementerian Luar Negeri Thailand turut menjelaskan bahwa seruan sejumlah negara untuk menyimpan persediaan darurat merupakan langkah pencegahan rutin, bukan indikasi bahwa situasi telah mencapai tingkat krisis.
Juru bicara kementerian Jaitai Upakarnitiket menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan dan menyiapkan rencana bantuan bagi warga Thailand di luar negeri.
Baca Juga: UU Perpajakan Digugat ke MK, Pembalut Wanita Diminta Bebas Pajak
Dengan penjelasan tersebut, imbauan menyiapkan tas darurat di Thailand perlu dipahami sebagai langkah antisipasi, bukan pengumuman keadaan darurat nasional.









Leave a Comment