sekitarmalangraya – Inovasi siswa SDN Sawojajar 5 Kota Malang kembali mendapat pengakuan di tingkat internasional.
Keisha Aqilla Rafanda meraih Gold Award dalam The 13th Indonesia Inventors Day (IID) 2026 melalui karya COCO SNOW, camilan berbahan kelapa tanpa tambahan gula yang dikembangkan dengan teknologi freeze-drying.
Prestasi tersebut diraih dalam ajang yang berlangsung pada 3–6 Oktober 2026 di Jakarta. IID 2026 mempertemukan 543 tim dengan lebih dari 2.000 peserta dari 21 negara.
Keisha tidak hanya membawa produk untuk dipamerkan, tetapi juga harus menjelaskan gagasan, proses pembuatan, teknologi, karakteristik produk, dan peluang pasarnya di hadapan juri.
“Happy, kaget, dan terharu,” ujar Keisha dalam keterangan yang diterima ANTARA di Surabaya, Selasa (6/10).
COCO SNOW lahir dari kebutuhan Keisha mencari camilan yang dapat dikonsumsi tanpa gula dan susu. Produk tersebut memanfaatkan rasa manis alami dari air kelapa.
Bahan kemudian diproses menggunakan teknologi freeze-drying, yaitu metode pengeringan beku dengan membekukan bahan, mengeluarkan kandungan air dalam kondisi vakum, serta menggunakan paparan panas sangat rendah.
Melalui inovasi itu, Keisha tidak hanya mempelajari pengolahan bahan pangan. Ia juga mendapatkan pengalaman memahami teknologi dan kebutuhan konsumen.
Proses tersebut memperlihatkan bagaimana gagasan sederhana dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki konsep, metode pengolahan, dan nilai yang dapat dipresentasikan dalam kompetisi.
Baca Juga : Pemkab Malang Siapkan Desa untuk Jadi Percontohan Bebas Sound Horeg
Keisha Presentasikan Inovasi dalam Bahasa Inggris
Salah satu tantangan dalam kompetisi tersebut adalah presentasi di hadapan juri. Keisha menyampaikan penjelasan menggunakan bahasa Inggris, termasuk ketika menjawab pertanyaan mengenai proses pembuatan, teknologi yang digunakan, karakteristik produk, hingga peluang pasar COCO SNOW.
Setelah mendengar penjelasan Keisha, salah seorang juri memberikan apresiasi dengan mengatakan, “Your parents must be proud of you.”
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pengalaman Keisha saat harus mempertanggungjawabkan inovasi yang dikembangkannya di depan juri internasional.
Keisha sempat mengira dirinya tidak memperoleh penghargaan ketika namanya tidak dipanggil pada kategori elementary.
Namun, namanya kemudian dipanggil pada kelompok peserta di atas kategori tersebut dan dinyatakan meraih Gold Award dalam acara awarding di SMESCO Indonesia, Jakarta.
Menurut situs resmi Indonesia Inventors Day, ajang tersebut merupakan platform internasional bagi inventor dan ilmuwan untuk mempresentasikan inovasi serta penemuan.
Kompetisinya juga menjadi ruang untuk menampilkan produk, sampel, prototipe, atau mock-up kepada peserta dan pengunjung.
Bagi Keisha, penghargaan di IID 2026 bukan menjadi pengalaman pertama di kompetisi inovasi. Pada Februari 2026, ia sebelumnya meraih Gold Medal dalam AISEEF 2026 di Universitas Diponegoro melalui Smart Coklat. Produk tersebut berupa cokelat vegan dengan tambahan omega-3 nabati, vitamin, dan mineral.
Pengalaman sebelumnya ikut mendukung keberanian Keisha ketika kembali mengikuti kompetisi. Dalam pengembangan COCO SNOW, ia memperoleh dukungan orang tua yang membantu menyediakan peralatan, mendampingi pemilihan bahan baku, dan memberikan ruang untuk bereksperimen.
Keisha juga menyampaikan cita-citanya menjadi pebisnis. Pengalaman mengembangkan produk membuatnya belajar mengenali bahan, memahami teknologi, sekaligus menjelaskan gagasan kepada orang lain.
Prestasi ini menunjukkan bahwa inovasi di lingkungan sekolah dasar dapat berkembang melalui proses belajar, eksperimen, dan kesempatan mengikuti kompetisi.
Lebih dari sekadar penghargaan, pengalaman Keisha mempertemukan pembelajaran sains, teknologi, komunikasi, kreativitas, dan keberanian tampil dalam satu proyek.
Dengan capaian tersebut, COCO SNOW menjadi contoh bahwa gagasan siswa dapat dibawa ke ruang kompetisi internasional ketika mendapatkan dukungan dan kesempatan untuk dikembangkan.
Inovasi yang berangkat dari kebutuhan sederhana pun dapat menjadi sarana bagi siswa untuk belajar menguji ide, menyampaikan solusi, dan mengenal proses pengembangan produk sejak dini.
Capaian tersebut juga memperlihatkan bahwa proses belajar dapat berlangsung di luar ruang kelas. Kompetisi memberi ruang bagi siswa untuk menguji pengetahuan melalui persoalan nyata, menyusun penjelasan, menerima pertanyaan, dan memperbaiki cara menyampaikan gagasan.
Inovasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi rumit. Pengamatan terhadap kebutuhan sehari-hari dapat menjadi titik awal ketika siswa memperoleh kesempatan bereksperimen dan pendampingan yang memadai.
Pengalaman tersebut dapat membantu siswa memahami bahwa inovasi baru membutuhkan proses, keberanian mencoba, dan kesiapan menerima masukan.
Baca Juga : DPR Ketok Palu, UU Pelindungan Ketenagakerjaan Resmi Disahkan









Leave a Comment