sekitarmalangraya – Kabar gembira bagi para pendaki gunung di Jawa Timur. Setelah sempat tertutup selama lebih dari sebulan akibat bencana kebakaran hutan yang cukup luas, jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang resmi dibuka kembali untuk umum mulai Sabtu (26/9).
Kebakaran yang melanda kawasan tersebut sejak pertengahan Agustus lalu sempat memaksa ribuan calon pendaki menunda rencana perjalanan mereka.
Kepala UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, mengatakan keputusan pembukaan kembali diambil berdasarkan hasil pemantauan lapangan pascakebakaran yang menunjukkan kondisi sudah aman bagi aktivitas pendakian.
“Berdasarkan hasil monitoring lapangan pasca-kejadian kebakaran hutan, aktivitas pendakian Gunung Arjuno-Welirang resmi dibuka kembali pada Sabtu, 26 September 2026,” kata Agustiningtyas, Jumat (25/9).
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Pengumuman Nomor 500.4.6.10/1690/123.7.2/2026 yang diterbitkan UPT Tahura Raden Soerjo pada Selasa (22/9).
Ia menjelaskan, hasil pemantauan melalui sistem SiPongi maupun penyisiran petugas di lapangan tidak lagi mendeteksi adanya titik asap baru di kawasan Gunung Arjuno maupun gugusan pegunungan Anjasmoro sejak Senin (14/9).
Baca Juga: Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Seniman dan Budayawan Tutup Usia 73 Tahun
Empat Jalur Resmi dan Kuota Harian Pendakian Arjuno
Terdapat empat jalur resmi pendakian Gunung Arjuno-Welirang yang kembali dibuka, yaitu via Sumberbrantas di Kota Batu, Tretes dan Tambaksari di Kabupaten Pasuruan, serta Lawang di Kabupaten Malang.
Agustiningtyas menyebutkan, kuota pendakian yang dibuka tetap sama seperti sebelum penutupan, yakni sebanyak 550 orang per hari.
“Benar, pembukaan pendakian (Arjuno-Welirang) dilaksanakan 26 September 2026, untuk kuota tetap sama 550 orang per hari,” ujarnya.
Pemesanan tiket pendakian sudah dapat dilakukan mulai hari ini melalui aplikasi SIPENERANG maupun laman tiketpendakian.com.
Agustiningtyas menyampaikan, pihaknya akan mengutamakan pendaki yang sebelumnya sudah memiliki tiket namun terdampak penutupan akibat kebakaran, untuk melakukan penjadwalan ulang atau reschedule terlebih dahulu.
Ia menyebutkan, tercatat sekitar 3.700 pendaki yang terdampak akibat penutupan jalur pendakian tersebut.
Kebakaran hutan di kawasan Arjuno-Welirang sendiri terjadi pada 18 Agustus lalu, dan jalur pendakian resmi ditutup sehari setelahnya, yakni pada 19 Agustus 2026, guna memastikan keselamatan pendaki serta memberi ruang bagi proses pemadaman dan pemulihan kawasan.
Seluruh pendaki yang akan naik ke Gunung Arjuno-Welirang diwajibkan mempersiapkan diri dengan membaca dan mematuhi standar operasional prosedur atau SOP pendakian yang tercantum di laman resmi Tahura Raden Soerjo.
Para pendaki diimbau mempersiapkan kondisi fisik, mental, serta perlengkapan pendakian sejak jauh hari sebelum keberangkatan.
“Selalu jaga kebersihan dan kelestarian alam selama mendaki,” tegas Agustiningtyas.
Salah satu ketentuan yang ditekankan pihak pengelola adalah larangan membuat api unggun di seluruh area pendakian, mengingat aktivitas tersebut berpotensi memicu munculnya kembali titik api maupun asap di kawasan yang baru saja pulih dari kebakaran.
Petugas di setiap pos pendakian juga akan melakukan pengecekan terhadap barang bawaan maupun logistik setiap pendaki sebelum keberangkatan.
Selain itu, para pendaki turut diwajibkan membawa kembali seluruh sampah logistik mereka setelah turun dari gunung, sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian ekosistem kawasan Tahura Raden Soerjo.
Agustiningtyas menegaskan, kebijakan pembukaan ini bersifat kondisional dan dapat berubah sewaktu-waktu apabila terjadi cuaca ekstrem maupun kondisi darurat lain yang membahayakan keselamatan pendaki.
Baca Juga: Prabowo Resmi Bentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional
Pembukaan kembali jalur pendakian ini disambut baik oleh para pencinta alam yang selama sebulan lebih tidak dapat mendaki Gunung Arjuno-Welirang akibat penutupan.
Sebelumnya, sepanjang masa penutupan, petugas gabungan dari berbagai instansi terus melakukan upaya pemadaman, termasuk melalui pengeboman air atau water bombing dan penyisiran manual di titik-titik yang sulit dijangkau, hingga akhirnya kondisi kawasan dinyatakan benar-benar aman dari ancaman api maupun asap susulan.
Pihak pengelola berharap seluruh pendaki dapat turut menjaga kelestarian kawasan agar peristiwa kebakaran serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.
mengingat kebakaran hutan di kawasan pegunungan kerap sulit dipadamkan secara cepat akibat medan yang terjal dan minimnya sumber air di sekitar lokasi kejadian.









Leave a Comment