Kemenkes Catat 174 Ribu Kasus ISPA Imbas Karhutla, 40 Ribu di Antaranya Balita

Bima Yoga

September 23, 2026

3
Min Read
Kemenkes Catat 174 Ribu Kasus ISPA Imbas Karhutla, 40 Ribu di Antaranya Balita
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengungkapkan sebanyak 174.694 warga terjangkit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak Agustus lalu.

sekitarmalangraya – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengungkapkan sebanyak 174.694 warga terjangkit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak Agustus lalu.

Dari jumlah tersebut, sekitar 40.363 kasus di antaranya dialami oleh balita.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti menjelaskan bahwa data tersebut merupakan hasil pemantauan surveilans kesehatan yang dilakukan secara berkala sejak Agustus hingga 21 September 2026.

Menurutnya, dari total kasus tersebut, masih ada 4.533 warga yang hingga kini tercatat aktif terkena ISPA.

“Dari hasil pemantauan surveilans kesehatan, kasus ISPA pada wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan ini, kita lihat ada 174.694 kasus ISPA dari Agustus sampai 21 September kemarin. Dan untuk hari ini, ada 4.533. Jadi yang sisanya sudah sembuh atau sehat kembali,” jelas Suyanti dalam konferensi pers daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemenko Polkam, Selasa (22/9).

Baca Juga: Kebakaran Toko Kelontong Galunggung Malang, Korban Tewas Terjebak Asap

40 Ribu Balita Terdampak ISPA di Tujuh Provinsi Prioritas

Suyanti menjelaskan bahwa data kasus ISPA tersebut berasal dari tujuh provinsi yang menjadi wilayah prioritas dalam penanganan karhutla, yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

“Dan ini untuk kita kategorikan untuk balita dan di atas balita. Untuk kasus balita itu ada sekitar 40.363 pasien atau kasus. Nah, ini semua terdampak dari data tujuh provinsi,” katanya.

Ia turut menjelaskan berbagai dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat paparan asap karhutla secara berkepanjangan, mulai dari gangguan pernapasan ringan hingga risiko penyakit yang lebih serius bagi kelompok rentan di masyarakat.

“Asap dari karhutla ini mengandung partikel halus PM2,5, kemudian berbagai polutan lain yang tentunya mengganggu kesehatan. Dampaknya dapat berupa infeksi saluran pernapasan akut dengan gejala batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan, kemudian asma, PPOK atau penyakit paru obstruktif kronis,” ungkap Suyanti.

Ia menambahkan bahwa paparan asap secara terus-menerus juga dapat menimbulkan iritasi pada mata serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan lain, terutama bagi kelompok lanjut usia.

“Kemudian juga bisa menyebabkan iritasi mata, seperti mata merah, gatal, dan perih akibat paparan asap, kemudian juga tentunya bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, tekanan darah yang terutama meningkat pada lansia. Tentu kita harus menjaga kelompok rentan, yaitu anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, PPOK, maupun pekerja yang di luar ruangan,” sambungnya.

Baca Juga: Berawal dari 1 Titik Warteg! Korsleting Listrik Picu Kebakaran Membara di Kebayoran Lama

Suyanti menegaskan bahwa Kemenkes terus berupaya mengendalikan dampak kesehatan akibat karhutla melalui berbagai langkah promotif dan preventif.

Upaya tersebut mencakup edukasi masyarakat, pemantauan penyakit terkait karhutla, hingga surveilans kualitas udara di wilayah terdampak.

“Tentunya kita berusaha untuk mengendalikan dampak kesehatan akibat karhutla ini dengan melakukan promotif dan preventif, dengan edukasi dan promosi bagaimana mengurangi risiko krisis kesehatan akibat karhutla kepada masyarakat, melakukan pemantauan penyakit terkait kebakaran hutan seperti ISPA, pneumonia, asma, kemudian iritasi mata dan iritasi kulit, termasuk melakukan surveilans kualitas udara,” jelasnya.

Kemenkes turut menerbitkan surat kewaspadaan kepada Dinas Kesehatan dan fasilitas kesehatan di daerah terdampak agar dapat menyiapkan layanan kesehatan yang memadai serta memberikan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat setempat mengenai bahaya paparan asap karhutla.

“Menerbitkan surat kewaspadaan untuk Dinas Kesehatan dan fasilitas kesehatan agar menyiapkan fasilitas layanan kesehatan dan memberi edukasi kepada masyarakat,” pungkasnya.

Masyarakat di wilayah terdampak karhutla diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat kualitas udara memburuk, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.

Kelompok rentan seperti balita, lansia, dan ibu hamil perlu mendapatkan perhatian khusus mengingat kondisi tubuh mereka yang lebih rentan terhadap dampak buruk paparan asap kebakaran hutan dan lahan.

One response to “Kemenkes Catat 174 Ribu Kasus ISPA Imbas Karhutla, 40 Ribu di Antaranya Balita”

  1. […] Baca Juga: Kemenkes Catat 174 Ribu Kasus ISPA Imbas Karhutla, 40 Ribu di Antaranya Balita […]

Leave a Comment

Related Post