Bahasa Daerah Makin Terancam, Apa yang Bisa Dilakukan Generasi Muda?

Mazaya Farandy

October 7, 2026

5
Min Read
Bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya Indonesia, tetapi keberadaannya menghadapi tantangan ketika penggunaannya mulai berkurang di tengah perubahan pola komunikasi generasi muda.

sekitarmalangraya – Bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya Indonesia, tetapi keberadaannya menghadapi tantangan ketika penggunaannya mulai berkurang di tengah perubahan pola komunikasi generasi muda.

Indonesia memiliki 718 bahasa daerah yang telah diidentifikasi dan divalidasi. Namun, jumlah tersebut tidak berarti seluruhnya berada dalam kondisi aman.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyebut sebagian bahasa berada dalam status rentan, mengalami kemunduran, terancam punah, hingga kritis.

Kondisi tersebut membuat pelestarian bahasa tidak cukup hanya dilakukan dengan mencatat kosakata atau menyusun kamus.

Bahasa perlu tetap digunakan agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, peran anak muda menjadi penting, terutama ketika kehidupan sehari-hari semakin dipengaruhi bahasa Indonesia, bahasa asing, bahasa pergaulan, dan komunikasi digital.

Mengapa Bahasa Daerah Mulai Terancam?

Badan Bahasa mencatat Indonesia memiliki 718 bahasa daerah. Hingga 2025, program Revitalisasi Bahasa Daerah telah menjangkau 120 bahasa di 38 provinsi.

Program tersebut dilakukan melalui kerja sama pemerintah, pemerintah daerah, sekolah, masyarakat, guru, dan generasi muda.

Namun, revitalisasi tidak berarti seluruh persoalan telah selesai. Badan Bahasa menyebut hasil kajian vitalitas terhadap 113 bahasa menunjukkan adanya bahasa yang sudah punah, sementara sebagian lainnya berada pada kondisi kritis, terancam punah, mengalami kemunduran, atau rentan.

Ancaman tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk hilangnya sebuah bahasa secara tiba-tiba. Salah satu persoalan dapat muncul ketika bahasa semakin jarang digunakan oleh penuturnya, terutama generasi muda.

Anak-anak dan remaja mungkin masih mengenal sejumlah kosakata, tetapi belum tentu menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

Perubahan lingkungan komunikasi ikut memengaruhi kondisi tersebut. Sekolah umumnya menggunakan bahasa Indonesia, sementara ruang digital memperkenalkan berbagai istilah baru dari bahasa asing maupun bahasa populer.

Jika bahasa ibu semakin jarang digunakan di rumah dan lingkungan sosial, proses pewarisannya dapat melemah.

Baca Juga : Batik Parang dan Filosofinya, Mengapa Motif Ini Begitu Melekat dengan Budaya Jawa?

Ketika Bahasa Daerah Mulai Jauh dari Generasi Muda

Bahasa tidak dapat bertahan hanya karena tercatat dalam buku, kamus, atau arsip. Bahasa harus digunakan dalam kehidupan nyata.

Kemendikdasmen menegaskan bahwa bahasa daerah perlu tetap hidup dari ruang kelas hingga ruang digital.

Dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026, pemerintah juga menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam pelestarian bahasa ibu.

Hal tersebut menunjukkan bahwa mengenal bahasa daerah saja belum cukup. Seorang anak mungkin dapat menyebutkan nama bahasa yang digunakan keluarganya, tetapi keberlangsungannya sangat bergantung pada apakah bahasa tersebut masih dipakai untuk berbicara, bercerita, bercanda, menulis, menyanyi, atau berinteraksi.

Karena itu, persoalan pelestarian sebenarnya berkaitan dengan kebiasaan. Jika bahasa ibu hanya digunakan ketika mengikuti kegiatan sekolah atau festival, ruang hidupnya akan tetap terbatas.

Sebaliknya, penggunaan sederhana dalam percakapan keluarga dapat membuat bahasa tersebut tetap relevan.

Generasi Muda Bisa Membawa Bahasa Daerah ke Ruang Digital

Teknologi digital sering dianggap menjadi salah satu penyebab bahasa daerah semakin jarang digunakan. Namun, ruang digital juga dapat dimanfaatkan untuk membuat bahasa tersebut lebih dekat dengan generasi muda.

Salah satu contohnya adalah PARASALI atau Pelindungan Bahasa dan Sastra Bali. Aplikasi berbasis edutainment tersebut memadukan kamus, permainan, dan nyanyian dalam bahasa Bali untuk meningkatkan ketertarikan generasi muda terhadap aksara dan sastra Bali. Hingga 2026, aplikasi tersebut telah digunakan oleh 61.628 pengguna.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa teknologi tidak harus selalu menjadi lawan dalam upaya pelestarian. Media sosial, video pendek, podcast, permainan, aplikasi, dan berbagai bentuk konten digital dapat menjadi sarana memperkenalkan kembali kosakata serta cerita lokal.

Generasi muda juga dapat membuat konten sederhana menggunakan bahasa daerah, seperti video percakapan, cerita pendek, ulasan makanan tradisional, musik, komedi, atau penjelasan mengenai istilah khas suatu daerah.

Dengan begitu, bahasa tidak hanya disimpan sebagai warisan masa lalu, tetapi digunakan dalam konteks yang dekat dengan kehidupan sekarang.

Sekolah dan Keluarga Punya Peran Penting

Tanggung jawab pelestarian tidak seharusnya dibebankan sepenuhnya kepada generasi muda. Keluarga memiliki posisi penting karena rumah menjadi salah satu ruang pertama seorang anak mengenal bahasa.

Sekolah juga dapat memperkuat penggunaan bahasa ibu melalui pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa.

Dalam praktik yang dicatat Balai Bahasa Provinsi Bali, terdapat pembelajaran kelas awal yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar setelah siswa mengalami kesulitan memahami materi ketika pembelajaran menggunakan bahasa Indonesia.

Pendekatan tersebut dilakukan melalui kegiatan bermain, bernyanyi, kartu huruf, membaca gambar, dan menulis secara bertahap.

Hasil yang dilaporkan menunjukkan suasana kelas menjadi lebih aktif dan kemampuan literasi dasar siswa meningkat.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa bahasa daerah dan bahasa Indonesia tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat digunakan sesuai kebutuhan dan konteks pembelajaran.

Ketika keluarga menggunakan bahasa ibu dalam percakapan dan sekolah memberikan ruang yang tepat untuk mempelajarinya, anak mendapatkan pengalaman bahwa bahasa daerah masih memiliki fungsi.

Baca Juga : Wayang Krucil Kediri, Warisan Unik dengan Filosofi Mendalam

Bahasa Daerah Tidak Cukup Hanya Dilestarikan, Harus Dipakai

Pelestarian bahasa pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang jumlah bahasa yang berhasil dicatat, tetapi juga tentang keberlanjutan penggunaannya.

Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana generasi muda dilibatkan secara langsung. Kegiatan tersebut menghadirkan 137 peserta yang mewakili 105 bahasa dan dialek dari 36 provinsi.

Para peserta merupakan siswa sekolah dasar dan menengah yang mengikuti program revitalisasi di daerah masing-masing.

Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa anak muda bukan sekadar objek pelestarian. Mereka dapat menjadi penutur, pencipta karya, sekaligus penyebar penggunaan bahasa di lingkungan masing-masing.

Langkahnya pun tidak harus selalu besar. Menggunakan bahasa ibu bersama keluarga, menulis cerita dengan kosakata lokal, menyanyikan lagu daerah, membuat konten digital, atau mengajak teman mengenal istilah khas daerah merupakan bentuk penggunaan yang dapat memperpanjang ruang hidup bahasa.

Badan Bahasa sendiri menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, daerah, sekolah, masyarakat, dan generasi muda dalam revitalisasi.

Dengan demikian, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menjaga bahasa agar tidak hilang dari catatan, tetapi bagaimana membuatnya tetap dibutuhkan dalam kehidupan.

Ketika generasi muda masih merasa bahasa daerah relevan untuk berbicara, berkarya, dan mengekspresikan identitas, peluang keberlangsungannya akan semakin terbuka.

Leave a Comment

Related Post