sekitarmalangraya – Bahasa Baku semakin jarang terlihat dalam percakapan digital sehari-hari ketika generasi muda terbiasa memakai istilah gaul, singkatan, dan campuran bahasa di media sosial.
Ungkapan seperti “spill”, “healing”, “valid”, atau bentuk pemendekan kata kerap muncul dalam komentar maupun pesan singkat.
Kebiasaan tersebut memperlihatkan kreativitas pengguna dalam berkomunikasi, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang kemampuan anak muda menyesuaikan pilihan kata ketika memasuki situasi resmi.
Fenomena ini tidak berarti generasi muda telah meninggalkan bahasa Indonesia. Bahasa terus berkembang mengikuti perubahan masyarakat dan teknologi.
Persoalan yang perlu diperhatikan justru kemampuan membedakan ragam bahasa sesuai tujuan, lawan bicara, dan tempat komunikasi berlangsung.
Penggunaan bahasa santai di antara teman tentu berbeda dengan penyusunan tugas akademik, surat resmi, atau penyampaian pendapat dalam forum formal.
Bahasa Baku dan Bahasa Gaul Memiliki Fungsi Berbeda
Bahasa Baku merupakan ragam bahasa yang mengikuti kaidah dan konvensi bahasa Indonesia yang telah ditetapkan, termasuk pilihan kata, ejaan, serta tata bahasa.
Ragam ini dibutuhkan dalam komunikasi resmi, pendidikan, administrasi, dan penulisan yang menuntut kejelasan.
Penggunaannya membantu pesan disampaikan secara lebih konsisten sehingga dapat dipahami oleh pembaca dari latar belakang berbeda.
Sementara itu, bahasa gaul berkembang secara lebih spontan dalam kelompok sosial tertentu. Bentuknya dapat berupa singkatan, plesetan, istilah populer, serapan bahasa asing, hingga perubahan makna kata.
Ragam tersebut sering dipakai untuk membangun kedekatan, menunjukkan identitas kelompok, atau membuat percakapan terasa lebih ringan.
Balai Bahasa Sumatera Barat melalui artikel “Bahasa Gaul Generasi Z dan Alpha: Antara Kreativitas Berbahasa dan Problematika Bahasa Indonesia” pada 20 September 2026 membahas penggunaan bahasa gaul, istilah asing, singkatan, dan campur kode di media sosial.
Pembahasan itu menunjukkan bahwa kreativitas berbahasa dapat berjalan berdampingan dengan persoalan ketika pengguna kesulitan mengalihkan ragam informal ke situasi formal.
Karena itu, bahasa gaul tidak tepat langsung dianggap sebagai ancaman. Penggunaannya dapat diterima selama sesuai konteks dan tidak menghilangkan kemampuan seseorang memakai Bahasa Baku ketika diperlukan.
Kemampuan berpindah ragam atau menyesuaikan bahasa justru menjadi bagian penting dari kecakapan berkomunikasi.
Baca Juga : Bahasa Indonesia Dipelajari Generasi Muda Rusia, Bukti Bahasa Nusantara Mendunia
Media Sosial Memengaruhi Kebiasaan Berbahasa Generasi Muda
Media sosial menyediakan ruang komunikasi yang cepat, singkat, dan berlangsung hampir tanpa jeda. Pengguna sering menulis komentar spontan, membalas unggahan, atau mengirim pesan tanpa melalui proses penyuntingan.
Situasi ini mendorong penggunaan singkatan, kosakata populer, emoji, serta campuran bahasa yang dianggap lebih praktis.
Tren digital juga membuat istilah tertentu menyebar dengan cepat. Kata yang awalnya digunakan oleh komunitas terbatas dapat menjadi populer setelah muncul dalam video, siaran langsung, atau unggahan kreator konten.
Generasi muda kemudian mengadopsinya untuk mengikuti percakapan dan membangun rasa kebersamaan di ruang digital.
Kebiasaan tersebut dapat memengaruhi pilihan kata di luar media sosial apabila pengguna tidak terbiasa memeriksa kembali bentuk bahasa yang digunakan. Namun, pengaruh itu tidak berlangsung sama pada setiap orang.
Lingkungan keluarga, sekolah, kebiasaan membaca, serta pengalaman menulis juga ikut membentuk kemampuan berbahasa seseorang.
Penelitian yang diterbitkan Jurnal Media Akademik pada 4 November 2026 melibatkan 25 mahasiswa berusia 16–25 tahun.
Hasil penelitian tersebut mencatat 88% responden menggunakan bahasa gaul dari sesekali hingga sangat sering.
Sebanyak 44% mengaku terkadang tidak sengaja menggunakan bahasa gaul saat mengerjakan tugas, sedangkan 52% menyatakan mampu membedakan konteks formal dan informal.
Angka tersebut memberikan gambaran tentang pengalaman responden dalam penelitian, bukan potret seluruh mahasiswa atau Gen Z di Indonesia.
Jumlah responden yang terbatas membuat hasilnya tidak dapat digeneralisasi secara nasional. Meski demikian, temuan itu dapat menjadi pengingat bahwa kebiasaan berbahasa di ruang digital layak diperhatikan, terutama ketika terbawa ke kegiatan akademik.
Kesulitan Menggunakan Bahasa Baku dalam Situasi Formal
Kemampuan menggunakan Bahasa Baku dibutuhkan ketika seseorang menyusun laporan, mengerjakan tugas, menulis surat, mengikuti wawancara, atau menyampaikan gagasan dalam forum resmi.
Dalam konteks tersebut, pilihan kata dan susunan kalimat berpengaruh terhadap kejelasan pesan serta kesan profesional yang dibangun.
Kesulitan dapat muncul ketika seseorang terlalu terbiasa menulis secara spontan. Singkatan yang lazim dalam percakapan, misalnya, belum tentu sesuai untuk tugas sekolah atau dokumen resmi.
Begitu pula istilah asing dan ungkapan populer yang maknanya dipahami dalam kelompok tertentu, tetapi belum tentu jelas bagi pembaca umum.
Kementerian Agama melalui tulisan opini “Bulan Bahasa di Tengah Kemunduran Budaya Literasi” pada November 2026 menyoroti perubahan cara berkomunikasi generasi muda melalui media sosial dan pesan singkat.
Pokok persoalannya bukan semata-mata penggunaan bahasa gaul, melainkan kemampuan menempatkan ragam bahasa sesuai kebutuhan komunikasi.
Pandangan tersebut sejalan dengan pentingnya literasi bahasa di lingkungan pendidikan. Siswa dan mahasiswa perlu memahami bahwa komunikasi informal dan formal memiliki tuntutan berbeda.
Penguasaan Bahasa Baku tetap penting dalam membangun komunikasi yang jelas. Penguasaan Bahasa Baku bukan berarti harus menghilangkan gaya personal, melainkan memastikan gagasan tersampaikan dengan tepat ketika situasi mengharuskannya.
Badan Bahasa juga membahas kebutuhan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari dan ranah akademik.
Sementara itu, Permendikdasmen Nomor 2 Tahun 2025 menjadi salah satu rujukan regulasi terkait pengawasan penggunaan bahasa Indonesia.
Kedua rujukan tersebut memperlihatkan bahwa pemakaian bahasa Indonesia memiliki dimensi pendidikan dan tata kelola, bukan hanya persoalan tren kosakata.
Baca Juga : OBASINDO 2026 Dorong Pelajar Lebih Mengenal Sejarah dan Budaya Indonesia
Cara Menjaga Kemampuan Berbahasa Indonesia yang Baik
Menjaga kemampuan berbahasa dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Salah satunya adalah membaca berbagai jenis tulisan, seperti berita, buku, artikel ilmiah populer, dan karya sastra.
Paparan terhadap kalimat yang tersusun baik membantu pembaca mengenali pilihan kata, ejaan, serta struktur yang sesuai dengan konteks.
Latihan menulis juga penting dilakukan secara rutin. Siswa dapat membiasakan diri menyusun rangkuman, esai, atau laporan dengan memperhatikan ketepatan kata dan kalimat.
Setelah selesai, tulisan perlu dibaca ulang untuk menemukan singkatan percakapan, istilah yang kurang tepat, atau kalimat yang sulit dipahami.
Selain itu, pengguna media sosial dapat membiasakan diri memeriksa pilihan kata sebelum mengunggah tulisan yang bersifat informatif atau mewakili lembaga.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring dari Badan Bahasa dapat dimanfaatkan untuk memeriksa bentuk dan makna kata. Pedoman ejaan juga membantu memastikan penulisan sesuai kaidah.
Sekolah dan keluarga mempunyai peran dalam membangun kebiasaan tersebut. Guru dapat memberikan contoh penggunaan bahasa sesuai situasi, sedangkan keluarga dapat menciptakan lingkungan percakapan yang mendorong anak menyampaikan gagasan dengan jelas.
Pembelajaran tidak harus melarang bahasa gaul, tetapi perlu mengajarkan kapan ragam itu tepat digunakan dan kapan bahasa resmi lebih dibutuhkan.
Pada akhirnya, perkembangan bahasa merupakan hal yang wajar dalam kehidupan masyarakat. Generasi muda tetap dapat menggunakan istilah populer ketika berinteraksi secara santai tanpa mengabaikan kemampuan berbahasa dalam konteks pendidikan dan pekerjaan.
Tantangannya bukan memilih antara bahasa gaul atau Bahasa Baku, melainkan menguasai keduanya secara proporsional.
Dengan literasi, latihan, dan kesadaran konteks, bahasa Indonesia dapat terus berkembang tanpa kehilangan fungsi sebagai alat komunikasi yang jelas dan bermartabat.









Leave a Comment