sekitarmalangraya – OBASINDO menjadi salah satu upaya mengenalkan budaya, sejarah, dan bahasa Indonesia kepada generasi muda melalui pendekatan edukatif.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi, pemahaman terhadap identitas bangsa perlu terus diperkuat agar pelajar tidak hanya akrab dengan perkembangan zaman, tetapi juga mengenali akar sejarah serta keberagaman budaya yang membentuk Indonesia.
Olimpiade Budaya, Sejarah, dan Bahasa Indonesia (OBASINDO) dijadwalkan berlangsung di Kota Malang pada 18 November 2026.
Kegiatan ini menyasar siswa SMP atau sederajat se-Jawa Timur. Melalui kompetisi tersebut, penyelenggara ingin menghadirkan ruang belajar yang mendorong peserta memahami warisan bangsa secara lebih mendalam.
Materi kebudayaan tidak cukup hanya dikenalkan sebagai pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga perlu dikaitkan dengan kehidupan dan cara pandang generasi muda.
OBASINDO 2026 Hadir di Kota Malang untuk Pelajar Jawa Timur
OBASINDO akan diselenggarakan di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang, pada Rabu, 18 November 2026.
Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian acara nasional bertajuk IBU PERTIWI: NAWA BHUMI NITIMIRA yang berlangsung pada 17–19 November 2026 di lokasi yang sama.
Kegiatan tersebut ditujukan bagi siswa SMP atau sederajat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Dengan sasaran peserta pada jenjang pendidikan menengah pertama, OBASINDO berupaya memperkenalkan pengetahuan kebangsaan sejak usia sekolah.
Meski berbentuk olimpiade, nilai yang dibawa tidak berhenti pada kompetisi. Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi pelajar untuk melihat sejarah dan budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
TosanAji.id bersama Bakorwil III Malang, Yayasan Sekolah Budaya Tunggulwulung, Yayasan Lingkar Sosial (LINKSOS), serta mitra kerja lainnya menyiapkan rangkaian kegiatan tersebut.
Informasi penyelenggaraan ini disampaikan melalui pemberitaan Disway Malang pada 14 Oktober 2026. Kehadiran sejumlah pihak dari unsur kebudayaan dan pendidikan memperlihatkan adanya kolaborasi untuk memperluas ruang edukasi budaya di daerah.
Baca Juga : Bukan Sekadar Seragam, Jumat Budaya Ajarkan Makna Identitas Jawa
OBASINDO Kenalkan Budaya, Sejarah, dan Bahasa Indonesia
Sesuai namanya, OBASINDO berfokus pada tiga bidang, yakni budaya, sejarah, dan bahasa Indonesia. Ketiganya saling berkaitan dalam membentuk pemahaman mengenai identitas bangsa.
Sejarah membantu pelajar mengenali perjalanan masyarakat Indonesia, budaya memperlihatkan keragaman tradisi dan nilai yang hidup di tengah masyarakat, sedangkan bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi sekaligus pemersatu.
Mengenal budaya bukan hanya mengetahui nama tarian, pakaian adat, rumah tradisional, atau upacara dari berbagai daerah.
Pelajar juga perlu memahami alasan suatu tradisi tumbuh, nilai yang dijaga masyarakat, serta perubahan yang terjadi seiring perkembangan zaman.
Pemahaman seperti ini dapat menumbuhkan sikap menghargai perbedaan, terutama di negara yang memiliki latar belakang suku, bahasa daerah, dan kebiasaan yang beragam.
Hal serupa berlaku dalam pembelajaran sejarah. Peristiwa masa lalu tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki konteks sosial, politik, dan kebudayaan.
Dengan mengenali konteks tersebut, siswa dapat memahami mengapa suatu peristiwa penting dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan bangsa saat ini.
Bahasa Indonesia juga memiliki kedudukan penting dalam membangun hubungan antarmasyarakat. Penguasaan bahasa nasional membantu warga dari latar daerah berbeda berkomunikasi.
Di sisi lain, penghargaan terhadap bahasa daerah tetap diperlukan karena bahasa merupakan bagian dari kekayaan budaya. Melalui OBASINDO, ketiga bidang itu ditempatkan sebagai pengetahuan yang saling melengkapi.
Pembelajaran Sejarah Tidak Hanya Mengandalkan Hafalan
Ketua Yayasan Insan Mutia, Muhammad Ali Yasin, menjelaskan bahwa OBASINDO diharapkan mendorong kemampuan berpikir kritis, analitis, dan evaluatif.
Menurutnya, edukasi sejarah tidak seharusnya hanya berorientasi pada hafalan peristiwa, tanggal penting, maupun nama tokoh.
Pendekatan tersebut penting karena memahami sejarah membutuhkan kemampuan membaca hubungan sebab akibat, membandingkan informasi, dan menilai suatu peristiwa berdasarkan konteksnya.
Siswa, misalnya, tidak cukup hanya mengingat kapan sebuah peristiwa terjadi. Mereka juga perlu mempelajari latar belakang, pihak yang terlibat, serta dampak yang ditimbulkan.
Kompetisi edukatif dapat menjadi salah satu cara untuk memantik rasa ingin tahu. Ketika pengetahuan disajikan melalui tantangan pembelajaran, peserta memiliki dorongan untuk mencari informasi, menghubungkan berbagai fakta, dan menguji pemahaman.
Namun, manfaat kegiatan semacam ini tetap bergantung pada materi dan proses belajar yang dijalankan. Karena itu, esensi OBASINDO bukan semata-mata menentukan siapa yang unggul, melainkan memperluas pemahaman peserta terhadap kebudayaan dan perjalanan bangsa.
Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, juga menilai edukasi budaya, sejarah, dan bahasa Indonesia penting di tengah kemajuan teknologi digital.
Ia menyebut pemahaman terhadap ketiga bidang tersebut berperan dalam memperkuat jati diri bangsa, pembentukan karakter, dan identitas nasional. Pandangan itu menjadi salah satu landasan penyelenggaraan kegiatan.
Kolaborasi Penyelenggara Dukung Edukasi Kebudayaan
Persiapan OBASINDO melibatkan beberapa organisasi dan mitra. Dalam pemberitaan Disway Malang, TosanAji.id disebut bekerja bersama Bakorwil III Malang, Yayasan Sekolah Budaya Tunggulwulung, Yayasan Lingkar Sosial (LINKSOS), serta mitra lainnya.
Sementara itu, Yayasan Insan Mutia turut menggerakkan penyelenggaraan olimpiade tersebut bersama TosanAji.id dan para pakar edukasi serta literasi kebudayaan.
Tim kerja TosanAji.id dan Yayasan Insan Mutia juga mematangkan persiapan, skema, sistem, serta aplikasi pendukung. Rapat koordinasi finalisasi platform dilaksanakan di kantor Yayasan Insan Mutia, Kabupaten Malang, pada 13 Oktober 2026.
Informasi tersebut menunjukkan bahwa penyelenggara sedang menyiapkan aspek teknis sebelum kegiatan berlangsung.
CEO TosanAji.id, Wahyu Eko Setiawan, menyampaikan harapan agar OBASINDO mendapat dukungan fasilitasi dari Kementerian Kebudayaan RI.
Ia mengaitkan kegiatan ini dengan penguatan promosi kebudayaan melalui media dan edukasi, pengembangan konten budaya digital, serta platform distribusi dan kerja sama konten budaya.
Arah tersebut sejalan dengan kerangka pemajuan kebudayaan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Regulasi tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam upaya perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Meski demikian, pelaksanaan OBASINDO tetap merupakan kegiatan tersendiri yang disiapkan para penyelenggaranya.
Baca Juga : Tari Rondhing Pamekasan, Warisan Budaya Madura yang Sarat Makna
OBASINDO Jadi Peluang Menumbuhkan Kecintaan terhadap Warisan Bangsa
Pengenalan budaya dan sejarah kepada pelajar memiliki arti penting bagi keberlanjutan identitas bangsa. Pengetahuan tersebut dapat membantu generasi muda memahami bahwa keberagaman bukan sekadar perbedaan, melainkan bagian dari pengalaman panjang masyarakat Indonesia.
Sikap menghargai tradisi dan sejarah juga dapat tumbuh ketika pelajar memperoleh kesempatan untuk mempelajarinya secara terbuka dan kritis.
Harapan itu sejalan dengan pernyataan Asep Kusdinar mengenai pentingnya menumbuhkan kecintaan terhadap leluhur, pahlawan, nilai perjuangan bangsa, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Sementara itu, Muhammad Ali Yasin menekankan pemahaman mendalam terhadap perjalanan sejarah, dinamika budaya, dan pembentukan karakter bangsa sebagai hal yang ingin didorong melalui platform OBASINDO.
Bagi pelajar, mengenal warisan bangsa tidak berarti harus menolak perubahan. Justru, pemahaman budaya dapat menjadi bekal untuk menyaring informasi, menghormati perbedaan, dan mengambil bagian dalam perkembangan masyarakat.
Teknologi digital pun dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan pengetahuan budaya melalui konten yang mudah diakses, selama informasi yang disebarkan tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui penyelenggaraan yang dijadwalkan di Malang, OBASINDO diharapkan membuka ruang bagi siswa SMP atau sederajat di Jawa Timur untuk mendalami tiga bidang tersebut.
Kegiatan ini sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan kebudayaan perlu hadir dalam bentuk yang dekat dengan generasi muda.
Dengan begitu, sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, budaya tidak sekadar menjadi tontonan, dan bahasa Indonesia tetap dipahami sebagai bagian penting dari identitas bersama.









Leave a Comment