Bahasa Indonesia Dipelajari Generasi Muda Rusia, Bukti Bahasa Nusantara Mendunia

Mazaya Farandy

November 4, 2026

6
Min Read
Bahasa Indonesia kini dipelajari generasi muda Rusia melalui kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow.

sekitarmalangraya – Bahasa Indonesia kini dipelajari generasi muda Rusia melalui kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow.

Perkembangan ini menjadi salah satu gambaran bahwa bahasa dari Nusantara semakin menarik perhatian masyarakat internasional, tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga pintu untuk mengenal kebudayaan dan kehidupan Indonesia.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyebut kelas BIPA KBRI Moskow diikuti 149 pemelajar.

Angka tersebut menunjukkan antusiasme peserta yang terlibat dalam program di Moskow, bukan jumlah keseluruhan warga Rusia yang mempelajari bahasa nasional Indonesia.

Di saat yang sama, penyelenggaraan Kongres Bahasa Indonesia di Higher School of Economics University (HSE University) pada 28 Oktober 2026 memperlihatkan adanya ruang pertemuan yang lebih luas bagi mahasiswa, akademisi, pengajar, dan Indonesianis.

Fenomena ini menarik karena pengajaran bahasa Indonesia di Rusia bukan hal baru. Ada sejarah akademik yang telah berlangsung selama beberapa dekade, sekaligus upaya baru untuk memperkuat pembelajaran dan kerja sama kebudayaan.

Meski demikian, pengembangan bahasa tersebut di negara itu masih menghadapi tantangan yang perlu ditangani secara berkelanjutan.

149 Pemelajar Rusia Mengikuti Kelas BIPA

Program BIPA menjadi salah satu jalur utama bagi warga negara asing untuk mempelajari bahasa Indonesia secara terstruktur.

Di Moskow, kelas yang diselenggarakan KBRI Moskow saat ini diikuti 149 pemelajar. Informasi tersebut disampaikan Kemendikdasmen dalam siaran pers pada 1 November 2026 dan kembali diberitakan ANTARA pada 2 November 2026.

Jumlah itu perlu dibaca sesuai konteksnya. Sebanyak 149 orang merupakan peserta kelas BIPA KBRI Moskow, bukan hasil pendataan seluruh warga Rusia yang belajar bahasa tersebut di berbagai universitas atau lembaga.

Pembedaan ini penting agar perkembangan pembelajaran tidak digambarkan dengan angka yang melampaui data tersedia.

Program BIPA di Rusia juga pernah dibuka kembali pada Juli 2025 dengan jumlah peserta yang sama. Saat itu, Kemendikdasmen menjelaskan bahwa pembelajaran dilaksanakan secara daring hingga akhir 2025 dan mencakup enam tingkat, yakni BIPA 1 sampai BIPA 6.

Tingkatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dirancang untuk mengakomodasi kemampuan peserta dari tingkat dasar hingga tingkat lanjut.

Melalui pembelajaran bahasa, peserta asing dapat mengenal kosakata, tata bahasa, serta cara berkomunikasi dalam berbagai situasi.

Materi kebahasaan juga dapat menjadi pintu untuk memahami kebiasaan, nilai sosial, dan keragaman budaya Indonesia.

Karena itu, BIPA tidak hanya berfungsi sebagai kelas bahasa, tetapi juga sarana pertukaran pengetahuan dan pengenalan budaya.

Baca Juga : OBASINDO 2026 Dorong Pelajar Lebih Mengenal Sejarah dan Budaya Indonesia

Pembelajaran Bahasa Indonesia di Rusia Memiliki Sejarah Panjang

Ketertarikan masyarakat Rusia terhadap bahasa nasional kita telah tumbuh sejak lama. Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia, Jose Tavares, menyampaikan bahwa pengajaran bahasa Indonesia di Universitas Negeri Moskow atau Lomonosov Moscow State University telah dimulai sejak akhir 1950-an.

Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan pembelajaran bahasa antara Indonesia dan Rusia tidak muncul secara tiba-tiba karena tren internasionalisasi belakangan ini.

Keberadaan pengajaran di lingkungan universitas menunjukkan bahasa nasional telah menjadi bagian dari kajian akademik di Rusia selama beberapa generasi.

Selain Universitas Negeri Moskow, bahasa tersebut kini juga dipelajari di HSE University. Kampus itu menjadi lokasi Kongres Bahasa Indonesia pada 28 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 140 mahasiswa, akademisi, pengajar, dan Indonesianis yang membahas posisi serta pengembangan bahasa nasional di tingkat global.

Pembelajaran di perguruan tinggi dapat memperluas pemahaman peserta melampaui percakapan sehari-hari. Bahasa ini juga dapat dipelajari melalui kajian sastra, sejarah, masyarakat, dan kebudayaan.

Dengan demikian, mahasiswa memiliki kesempatan untuk memahami Indonesia melalui sumber dan perspektif yang lebih beragam.

Kongres Bahasa Indonesia di Moskow Perkuat Internasionalisasi Bahasa

Kongres Bahasa Indonesia di HSE University menjadi salah satu agenda untuk mempertemukan komunitas pembelajar dan pemerhati Indonesia di Rusia.

Mengangkat tema “Bahasa Indonesia di Pentas Global: Tantangan, Peluang, dan Masa Depan”, kegiatan tersebut membahas bagaimana bahasa nasional dapat semakin hadir dalam ruang akademik, diplomasi, perdagangan, dan kebudayaan internasional.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menekankan bahwa internasionalisasi tidak cukup diukur dari bertambahnya jumlah orang yang belajar.

Menurutnya, pengembangan juga perlu meningkatkan fungsi dan daya guna bahasa tersebut dalam kehidupan masyarakat global.

Pemerintah telah menyusun Peta Jalan Penginternasionalan Bahasa Indonesia 2025–2045. Dalam siaran pers Kemendikdasmen, Indeks Penginternasionalan Bahasa Indonesia tercatat naik dari 51,44 pada 2024 menjadi 52,99 pada 2025. Pemerintah menargetkan indeks tersebut mencapai 55,87 pada 2029.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Moskow, Khoirul Rosyadi, menyampaikan bahwa kongres akan dilanjutkan sebagai agenda tahunan.

Jika konsisten dilaksanakan, forum tersebut berpotensi menjaga komunikasi antara pengajar, akademisi, mahasiswa, dan Indonesianis dari berbagai generasi.

Tantangan Memperluas Pembelajaran Bahasa Indonesia di Rusia

Di balik perkembangan tersebut, pengajaran bahasa nasional di Rusia masih menghadapi sejumlah kendala. Jose Tavares menyebut keterbatasan jumlah pengajar, minimnya bahan ajar yang disesuaikan dengan penutur bahasa Rusia, serta pentingnya menjaga keberlanjutan program pembelajaran.

Ketersediaan pengajar menjadi unsur penting karena pembelajaran bahasa membutuhkan pendampingan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta.

Pengajar juga perlu memahami metode penyampaian materi agar peserta dapat menguasai keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis secara bertahap.

Bahan ajar yang sesuai dengan latar belakang bahasa peserta juga berpengaruh terhadap proses belajar. Perbedaan struktur bahasa, pelafalan, dan konteks budaya dapat menjadi tantangan bagi pemelajar.

Materi yang disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan penutur bahasa Rusia berpotensi membantu proses pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami.

Keberlanjutan program pun tidak kalah penting. Kelas yang berjalan secara konsisten memberi kesempatan kepada peserta untuk meningkatkan kemampuan, sementara kerja sama antarkampus dan lembaga dapat memperkuat dukungan pengajar maupun materi pembelajaran.

Hal ini membutuhkan koordinasi antara institusi pendidikan di Indonesia, perwakilan diplomatik, dan mitra di Rusia.

Baca Juga : Bukan Sekadar Seragam, Jumat Budaya Ajarkan Makna Identitas Jawa

Bahasa Indonesia Berpeluang Semakin Dikenal di Dunia

Perkembangan di Rusia merupakan bagian dari upaya yang lebih luas. Kemendikdasmen mencatat hingga Oktober 2026 program BIPA telah menjangkau 62 negara melalui 520 lembaga penyelenggara dengan lebih dari 234.000 pemelajar aktif.

Data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa nasional telah memiliki jaringan lintas negara, meskipun capaian setiap wilayah dapat berbeda.

Posisi bahasa Indonesia di tingkat internasional juga memperoleh pengakuan melalui penetapannya sebagai salah satu bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada 20 November 2023.

Pengakuan ini menjadi modal diplomasi bahasa, tetapi tidak otomatis membuat bahasa tersebut digunakan secara luas dalam seluruh forum internasional.

Penguatan pembelajaran, penerjemahan karya, pertukaran akademik, dan pemanfaatan bahasa dalam berbagai bidang tetap diperlukan.

Di Rusia, kegiatan kongres, kelas BIPA, serta keberadaan pembelajaran di perguruan tinggi dapat menjadi fondasi untuk memperluas hubungan budaya.

Ketika seseorang mempelajari bahasa suatu negara, ia juga berkesempatan memahami cara masyarakatnya menyampaikan gagasan, membangun hubungan, dan mengekspresikan identitas.

Minat generasi muda Rusia menjadi kabar positif bagi perkembangan bahasa nasional. Namun, peluang tersebut perlu diikuti dukungan nyata, mulai dari ketersediaan pengajar hingga materi yang relevan.

Dengan pengembangan yang konsisten, bahasa Indonesia tidak hanya dikenal sebagai bahasa persatuan di dalam negeri, tetapi juga semakin berperan sebagai jembatan persahabatan dan pertukaran budaya di dunia.

Leave a Comment

Related Post