Kenapa Bahasa Jawa Punya Tingkatan? Ini Alasan di Balik Ngoko, Madya, dan Krama

Mazaya Farandy

September 24, 2026

5
Min Read
Bahasa Jawa memiliki tingkatan tutur yang membuat seseorang tidak selalu menggunakan pilihan kata yang sama ketika berbicara dengan orang lain.

sekitarmalangraya – Bahasa Jawa memiliki tingkatan tutur yang membuat seseorang tidak selalu menggunakan pilihan kata yang sama ketika berbicara dengan orang lain.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan konsep unggah-ungguh, yaitu tata krama dalam berbahasa yang membantu penutur menyesuaikan tuturannya dengan lawan bicara dan situasi.

Bagi penutur yang tumbuh dalam lingkungan Jawa, perubahan dari ngoko ke krama mungkin terdengar biasa.

Namun, bagi orang yang baru mempelajarinya, sistem tersebut dapat menimbulkan pertanyaan: mengapa satu maksud yang sama harus disampaikan dengan kata yang berbeda?

Jawabannya tidak hanya berkaitan dengan kosakata. Tingkatan dalam bahasa Jawa juga mencerminkan cara penutur menempatkan hubungan sosial, rasa hormat, dan kedekatan dengan orang yang diajak berbicara.

Kajian Universitas Gadjah Mada menyebut tingkat tutur seperti ngoko, madya, dan krama dapat menunjukkan sikap penutur terhadap lawan bicara yang memiliki posisi berbeda.

Apa Itu Tingkatan Bahasa Jawa?

Tingkatan dalam bahasa Jawa dikenal melalui konsep unggah-ungguh atau unda-usuk basa. Sederhananya, konsep ini mengatur pilihan ragam bahasa yang digunakan berdasarkan hubungan antara penutur dan lawan bicara.

Dalam salah satu klasifikasi yang banyak digunakan untuk menjelaskan bahasa Jawa kepada masyarakat umum, terdapat ngoko, madya, dan krama. Ketiganya memiliki karakter dan penggunaan yang berbeda. Namun, klasifikasi tersebut bukan satu-satunya pembagian yang dikenal dalam kajian linguistik.

Penelitian UGM mengenai tingkat tutur bahasa Jawa menjelaskan bahwa sistem tersebut memiliki pembagian yang lebih rinci.

Ngoko dapat memiliki beberapa varian, begitu pula madya dan krama. Karena itu, ketika membahas bahasa Jawa, pembagian menjadi tiga kelompok sebaiknya dipahami sebagai penyederhanaan agar lebih mudah dipelajari, bukan sebagai satu-satunya sistem yang berlaku di semua konteks.

Perbedaan tingkat tutur juga dapat berubah menurut dialek. Penelitian lain di UGM membandingkan bentuk krama dalam dialek Banyumas dan Yogyakarta-Surakarta dan menemukan adanya perbedaan penggunaan sejumlah bentuk kata.

Baca Juga : Gedhe Atine Tegese Apa? Memahami Makna Ungkapan Jawa yang Berkaitan dengan Sikap dan Karakter

Mengenal Bahasa Jawa Ngoko, Madya, dan Krama

Ngoko merupakan ragam yang umumnya digunakan dalam hubungan yang akrab atau ketika berbicara kepada orang yang lebih muda dalam konteks tertentu.

Ragam ini lebih dekat dengan percakapan sehari-hari dan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan jarak penghormatan yang tinggi.

Madya berada di antara penggunaan ngoko dan krama dalam sejumlah klasifikasi. Bentuk ini memiliki karakter tersendiri dan penggunaannya dapat berbeda berdasarkan situasi serta kebiasaan masyarakat penuturnya.

Sementara itu, krama merupakan ragam yang digunakan untuk menunjukkan penghormatan. Dalam berbagai kajian, krama berkaitan dengan komunikasi kepada orang yang lebih tua atau pihak yang perlu dihormati.

Contoh sederhana dapat dilihat dari pertanyaan mengenai makan. Dalam ragam ngoko, seseorang dapat mengatakan, “Kowe wis mangan?” Sementara dalam situasi yang membutuhkan penghormatan, bentuknya dapat berubah menjadi “Panjenengan sampun dhahar?”

Perbedaannya bukan hanya pada satu atau dua kata. Struktur dan pilihan leksikon secara keseluruhan dapat berubah mengikuti tingkat tutur yang digunakan.

Bahkan, kajian linguistik membedakan bentuk seperti ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu, dan krama alus.

Kapan Bahasa Jawa Ngoko dan Krama Digunakan?

Penggunaan bahasa Jawa tidak cukup ditentukan oleh usia seseorang. Hubungan antara penutur dan lawan bicara, tingkat keakraban, situasi, serta konteks sosial juga dapat memengaruhi pilihan tutur.

Ngoko lazim digunakan dalam hubungan yang sudah akrab, misalnya antarteman sebaya yang memiliki kedekatan.

Orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda juga dapat menggunakan ngoko dalam konteks tertentu.

Sebaliknya, krama lebih sering digunakan ketika penutur ingin menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua atau dihormati.

Contohnya dapat terlihat dari perbedaan kata “aku” dan “kula”. Dalam percakapan tertentu, seseorang yang berbicara kepada teman dekat dapat menggunakan bentuk ngoko, sedangkan ketika berbicara dalam situasi yang membutuhkan tingkat kesopanan lebih tinggi, pilihan kata dapat berubah menjadi bentuk krama.

Hal serupa terjadi pada kata “arep” dan “badhe”. Keduanya memiliki makna yang berkaitan dengan keinginan atau rencana, tetapi penggunaannya berada dalam konteks tingkat tutur yang berbeda.

Karena itu, belajar bahasa Jawa bukan hanya menghafalkan pasangan kosakata. Penutur juga perlu memahami kepada siapa sebuah kata digunakan dan dalam situasi seperti apa.

Mengapa Orang Jawa Perlu Menyesuaikan Bahasa dengan Lawan Bicara?

Di sinilah hubungan antara bahasa dan budaya terlihat jelas. Dalam masyarakat Jawa, unggah-ungguh tidak hanya menyangkut benar atau salah secara tata bahasa, tetapi juga berkaitan dengan tata krama dan cara menunjukkan penghormatan.

Penelitian UGM mengenai bahasa Jawa krama pada masyarakat muda di Magelang menjelaskan bahwa unggah-ungguh diwujudkan melalui penggunaan tingkat tutur dan berkaitan dengan etika serta kesantunan dalam berkomunikasi.

Artinya, pilihan kata dapat menjadi cara untuk menunjukkan bagaimana seseorang memandang hubungan dengan lawan bicaranya.

Menggunakan krama kepada orang yang lebih tua, misalnya, dapat menjadi bentuk penghormatan dalam konteks budaya tertentu.

Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa semakin tinggi tingkat tutur selalu semakin baik. Penggunaan bahasa tetap harus mempertimbangkan situasi.

Menggunakan bentuk yang terlalu formal dalam percakapan antarteman dekat justru dapat terasa tidak alami.

Karena itu, unggah-ungguh lebih tepat dipahami sebagai kemampuan membaca konteks. Penutur perlu mengetahui kapan harus menggunakan bahasa yang akrab dan kapan perlu memilih bentuk yang lebih sopan.

Baca Juga : Minta Maaf dalam Budaya Jawa, Mengapa Cara Penyampaiannya Begitu Penting?

Tingkatan Bahasa Jawa Masih Digunakan di Kehidupan Sehari-hari

Meskipun penggunaan bahasa Indonesia semakin luas, bahasa Jawa masih digunakan dalam berbagai lingkungan masyarakat.

Tingkat tutur juga tetap dapat ditemukan dalam percakapan keluarga, lingkungan sosial, kegiatan budaya, hingga berbagai acara yang melibatkan masyarakat Jawa.

Penggunaan tersebut tidak selalu sama di setiap daerah. Perbedaan dialek dan kebiasaan lokal membuat bentuk bahasa Jawa yang digunakan masyarakat Banyumas, Yogyakarta, Surakarta, Jawa Timur, atau daerah lainnya dapat memiliki karakter masing-masing.

Kajian dialektologi UGM, misalnya, menunjukkan adanya perbedaan leksikal dan fonologis dalam penggunaan ngoko di Banyuwangi, Surabaya, Magetan, dan Solo.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bahasa Jawa bukan sistem yang sepenuhnya seragam. Bahasa berkembang bersama masyarakat yang menggunakannya.

Pada akhirnya, alasan bahasa Jawa memiliki tingkatan tidak dapat dilepaskan dari budaya komunikasi masyarakat penuturnya.

Ngoko, madya, dan krama bukan sekadar kumpulan kosakata yang harus dihafalkan, tetapi bagian dari cara masyarakat mengatur hubungan sosial melalui bahasa.

Memahami tingkatan bahasa Jawa berarti memahami bahwa sebuah ucapan tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga dapat menunjukkan kedekatan, jarak, dan penghormatan.

Karena itu, mempelajari unggah-ungguh dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal budaya Jawa melalui sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu percakapan.

Leave a Comment

Related Post