Candi Sawentar, Jejak Sejarah Majapahit yang Masih Menyimpan Cerita

Mazaya Farandy

September 21, 2026

5
Min Read
Candi Sawentar menjadi salah satu peninggalan sejarah di Kabupaten Blitar yang masih menyimpan cerita tentang kehidupan dan kebudayaan masyarakat Jawa pada masa lampau.

sekitarmalangraya – Candi Sawentar menjadi salah satu peninggalan sejarah di Kabupaten Blitar yang masih menyimpan cerita tentang kehidupan dan kebudayaan masyarakat Jawa pada masa lampau.

Berada di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, bangunan ini tidak hanya menarik karena bentuk arsitekturnya, tetapi juga karena namanya dikaitkan dengan Lwang Wentar dalam Kitab Negarakertagama.

Keberadaannya menjadi pengingat bahwa wilayah Blitar memiliki hubungan penting dengan perkembangan sejarah Jawa, termasuk pada masa Majapahit.

Membicarakan peninggalan seperti ini sebenarnya bukan hanya soal melihat bangunan tua. Di balik batu dan reliefnya terdapat informasi tentang kepercayaan, bahasa, arsitektur, serta cara masyarakat pada masa lalu membangun dan memaknai ruang. Lantas, apa yang membuat Candi Sawentar masih menarik untuk dibicarakan hingga sekarang?

Candi Sawentar dan Jejak Sejarah di Blitar

Candi Sawentar terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Blitar mencatatnya sebagai salah satu peninggalan sejarah di wilayah tersebut.

Dalam sumber resmi pemerintah daerah, nama candi ini juga dikaitkan dengan Lwa Wentar yang disebut dalam Kitab Negarakertagama.

Keterkaitan tersebut membuat pembahasan mengenai Candi Sawentar tidak dapat dilepaskan dari sejarah Majapahit. Namun, asal-usul pembangunannya perlu disampaikan secara hati-hati.

Kompas mencatat bahwa para ahli masih berbeda pendapat apakah Candi Sawentar I dibangun pada masa Kerajaan Singasari atau Majapahit.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Blitar menyebut candi tersebut diduga dibangun pada awal berdirinya Majapahit.

Perbedaan tersebut justru memperlihatkan bahwa peninggalan sejarah perlu dipahami berdasarkan sumber dan kajian, bukan hanya berdasarkan cerita yang beredar.

Bentuk Candi Sawentar yang Memiliki Ciri Khas

Secara fisik, Candi Sawentar I tersusun dari bagian kaki, tubuh, dan atap. Bangunannya menggunakan batu andesit dengan ukuran sekitar 9,53 meter panjang, 6,86 meter lebar, dan 10,65 meter tinggi. Data tersebut dicatat oleh Pemerintah Kabupaten Blitar dalam informasi mengenai candi.

Pada bangunan ini juga terdapat sejumlah unsur arsitektur dan relief yang berkaitan dengan latar belakang keagamaannya.

Kompas mencatat adanya relief naga bersayap pada bagian kaki serta relief kepala kala pada tubuh candi. Terdapat pula relung yang dahulu digunakan untuk menempatkan arca-arca Hindu.

Salah satu unsur yang menarik adalah yoni dengan hiasan Garudeya. Keberadaan motif tersebut menjadi salah satu petunjuk mengenai latar belakang Hindu pada bangunan ini.

Pemerintah Kabupaten Blitar juga menyebut adanya pahatan burung garuda yang berkaitan dengan kendaraan Dewa Wisnu.

Kalau sejarah menjelaskan konteks keberadaan sebuah candi, bentuk fisiknya membantu masyarakat sekarang melihat bagaimana kebudayaan masa lalu diwujudkan melalui bangunan, ornamen, dan simbol.

Baca Juga : Sowan Artinya Apa? Memahami Tradisi Bertamu dalam Budaya Jawa

Candi Sawentar dalam Perjalanan Sejarah Jawa

Hubungan Candi Sawentar dengan sejarah Majapahit menjadi salah satu bagian yang membuatnya penting untuk dipelajari.

Dalam Kitab Negarakertagama, terdapat penyebutan Lwang Wentar Manguri Blitar yang oleh sejumlah ahli diartikan berkaitan dengan Candi Sawentar I. Naskah tersebut ditulis pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, penguasa Majapahit pada 1350–1389.

Namun, penyebutan nama dalam naskah kuno tidak otomatis menyelesaikan seluruh pertanyaan mengenai sejarah bangunan.

Hubungan antara nama Lwang Wentar dan situs Candi Sawentar merupakan bagian dari penafsiran sejarah yang perlu dilihat berdasarkan kajian para ahli.

Hal tersebut penting karena sejarah tidak selalu menghadirkan jawaban tunggal. Sebuah bangunan dapat mempunyai lapisan cerita yang berbeda, mulai dari periode pembangunan, perubahan lingkungan, fungsi keagamaan, hingga proses penemuannya kembali.

Candi Sawentar I sendiri ditemukan kembali pada 1915 oleh Oudheidkundige Dienst atau Dinas Purbakala pada masa Hindia Belanda.

Penggalian kemudian dilakukan untuk menyingkap bangunan yang sebagian tertimbun material akibat erupsi Gunung Kelud.

Mengapa Candi Sawentar Penting bagi Pelestarian Budaya?

Candi Sawentar tidak hanya mempunyai nilai sebagai bangunan bersejarah. Keberadaannya juga dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai kebudayaan masa lalu.

Penelitian yang diterbitkan pada 2026 dalam jurnal ULIL ALBAB menemukan bahwa candi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah dan memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata.

Penelitian itu juga mencatat bahwa kesadaran masyarakat terhadap kebermaknaan peninggalan tersebut masih perlu dikembangkan.

Di sinilah pelestarian budaya memiliki makna yang lebih luas. Menjaga peninggalan sejarah bukan sekadar mempertahankan batu agar tetap berdiri, tetapi juga memastikan pengetahuan mengenai situs tersebut tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Bahasa dan istilah sejarah juga menjadi bagian dari proses tersebut. Nama seperti Lwang Wentar menunjukkan bahwa peninggalan sejarah dapat berhubungan dengan sumber tertulis dari masa lalu.

Ketika istilah dan nama tersebut dipelajari, masyarakat tidak hanya mengenal sebuah lokasi, tetapi juga dapat memahami bagaimana suatu wilayah disebut dan dicatat dalam tradisi penulisan Jawa kuno.

Candi Sawentar dan Cara Generasi Kini Mengenal Sejarah

Generasi sekarang mempunyai banyak cara untuk mengenal sejarah. Buku pelajaran tetap penting, tetapi keberadaan situs secara langsung dapat memberikan pengalaman yang berbeda.

Ketika melihat struktur candi, relief, dan lingkungan tempat peninggalan tersebut berada, pembelajaran sejarah menjadi lebih konkret.

Candi Sawentar dapat menjadi salah satu media untuk memahami hubungan antara bangunan, kepercayaan, bahasa, dan kehidupan masyarakat masa lalu.

Penelitian akademik terbaru juga menunjukkan bahwa masyarakat yang memahami kebermaknaan situs dapat ikut berperan dalam menjaga dan merawat peninggalan sejarah sebagai bagian dari pelestarian budaya.

Karena itu, mengenalkan sejarah tidak cukup hanya dengan menyebut nama kerajaan atau tahun pembangunan.

Informasi juga perlu disampaikan dengan membedakan fakta yang telah terdokumentasi dari dugaan maupun interpretasi.

Cara tersebut membantu generasi muda mengenal sejarah secara lebih kritis sekaligus menghargai peninggalan budaya.

Baca Juga : Candi Brahu, Jejak Sejarah Majapahit yang Masih Berdiri hingga Kini

Candi Sawentar, Jejak Sejarah yang Belum Selesai Bercerita

Pada akhirnya, Candi Sawentar masih menyimpan cerita bukan semata karena bangunannya telah bertahan dari masa lalu.

Nilainya juga terletak pada berbagai informasi yang dapat dipelajari dari sana, mulai dari arsitektur, relief, latar keagamaan, istilah dalam sumber sejarah, hingga kaitannya dengan perkembangan kebudayaan Jawa.

Hubungannya dengan Majapahit juga perlu dipahami secara proporsional. Ada sumber yang mengaitkannya dengan Lwang Wentar dalam Negarakertagama dan ada pula perbedaan pendapat mengenai periode pembangunannya.

Justru dari sinilah masyarakat dapat belajar bahwa sejarah merupakan bidang yang terus dikaji berdasarkan bukti.

Candi Sawentar akhirnya bukan hanya sebuah bangunan kuno di Blitar. Ia menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, sekaligus ruang untuk memahami bahwa budaya dapat diwariskan melalui batu, tulisan, bahasa, simbol, dan pengetahuan yang terus dipelajari.

Selama cerita tersebut tetap dirawat dan dikaji, jejak sejarahnya akan tetap mempunyai makna bagi generasi berikutnya.

Leave a Comment

Related Post