Candi Brahu, Jejak Sejarah Majapahit yang Masih Berdiri hingga Kini

Mazaya Farandy

September 18, 2026

5
Min Read
Candi Brahu merupakan salah satu peninggalan arkeologis di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang menyimpan jejak panjang sejarah dan kebudayaan Jawa masa lampau.

sekitaramalangraya – Candi Brahu merupakan salah satu peninggalan arkeologis di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang menyimpan jejak panjang sejarah dan kebudayaan Jawa masa lampau.

Bangunan berbahan bata merah ini tidak hanya menarik karena bentuknya yang masih dapat dilihat hingga sekarang, tetapi juga karena keberadaannya berkaitan dengan perkembangan kawasan Trowulan yang dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam kajian peninggalan Majapahit.

Keberadaan bangunan kuno seperti ini menjadi penting karena sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk catatan tertulis.

Struktur bangunan, bahan penyusun, tata ruang, hingga temuan di sekitarnya juga dapat menjadi sumber informasi untuk memahami kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Candi Brahu dan Jejak Sejarah Majapahit

Candi Brahu berada di wilayah Trowulan, Mojokerto, sebuah kawasan yang memiliki banyak tinggalan arkeologis. Data resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat candi ini sebagai bagian dari Kompleks Trowulan dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional melalui SK Nomor 177/M/1998 pada 21 Juli 1998.

Hubungan Candi Brahu dengan sejarah Majapahit perlu dipahami secara hati-hati. Trowulan memang memiliki banyak tinggalan yang berkaitan dengan perkembangan sejarah Majapahit.

Tetapi tidak semua bangunan yang berada di kawasan tersebut dapat langsung diberi tanggal atau dikaitkan dengan tokoh tertentu tanpa bukti arkeologis yang memadai.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI mencatat bahwa keberadaan Candi Brahu telah didokumentasikan pada 1815 ketika Wardenaar melakukan pencatatan peninggalan arkeologi di Mojokerto atas tugas Raffles. Catatan tersebut kemudian dimasukkan dalam karya Raffles, History of Java, yang terbit pada 1817.

Riwayat pencatatan tersebut menunjukkan bahwa peninggalan ini telah menjadi bagian dari perhatian penelitian peninggalan arkeologi sejak masa kolonial. Namun, sejarah bangunannya sendiri jauh lebih tua daripada catatan tersebut.

Baca Juga : Salam Rahayu Artinya Apa? Ungkapan Spiritual dalam Budaya Jawa

Bentuk Candi Brahu yang Memiliki Ciri Khas

Salah satu hal yang membuat Candi Brahu menarik untuk dipelajari adalah karakter bangunannya. Seperti sejumlah bangunan purbakala di Trowulan, bangunan ini menggunakan bata sebagai material utama.

Data Balai Pelestarian Kebudayaan menyebutkan bahwa bangunan ini memiliki bagian kaki, tubuh, dan atap. Bangunannya juga menghadap ke barat.

Pada bagian tubuh terdapat sejumlah penampil pada dinding, sementara bagian dalam memiliki bilik.

Struktur bangunan yang tersisa memperlihatkan bagaimana teknologi konstruksi masa lalu menghasilkan bangunan yang mampu bertahan dalam waktu panjang.

Ciri arsitekturnya juga menjadi salah satu dasar munculnya dugaan mengenai latar keagamaan bangunan tersebut.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI menyebut Candi Brahu diduga berlatar belakang agama Buddha berdasarkan gaya bangunan dan sisa hiasan pada bagian atap yang diduga berkaitan dengan bentuk stupa.

Hal ini penting karena bangunan candi tidak hanya dapat dipahami dari bentuk fisiknya. Arsitektur, orientasi bangunan, hiasan, dan temuan arkeologis dapat membantu peneliti menyusun gambaran mengenai fungsi serta konteks kebudayaan suatu situs.

Candi Brahu Tidak Hanya Menyimpan Nilai Sejarah

Nilai Candi Brahu tidak berhenti pada usia bangunan atau kaitannya dengan sejarah kerajaan. Situs ini juga menjadi bagian dari warisan budaya yang menyimpan informasi mengenai cara manusia membangun, menjalankan kehidupan keagamaan, dan membentuk ruang budaya pada masa lalu.

Salah satu informasi yang menarik adalah kaitan nama Brahu dengan Prasasti Alasantan. Prasasti yang ditemukan tidak jauh dari lokasi candi tersebut dikeluarkan pada masa pemerintahan Mpu Sindok pada 861 Saka atau 939 Masehi.

Di dalamnya disebutkan sebuah bangunan suci yang namanya dibaca sebagai Waharu atau Warahu. Nama tersebut kemudian diduga memiliki hubungan dengan nama Brahu yang digunakan sekarang.

Namun, hubungan tersebut tetap perlu disebut sebagai dugaan, bukan kepastian mutlak mengenai asal-usul nama.

Inilah pentingnya melihat peninggalan sejarah berdasarkan sumber arkeologis dan tidak mencampurkan interpretasi dengan fakta yang sudah dipastikan.

Candi Brahu juga memiliki cerita masyarakat yang mengaitkannya dengan tempat pembakaran jenazah raja Majapahit. Akan tetapi, Balai Pelestarian Kebudayaan mencatat bahwa penelitian tidak menemukan bekas abu mayat yang dapat memastikan fungsi tersebut.

Karena itu, cerita mengenai fungsi krematorium sebaiknya tidak disampaikan sebagai fakta sejarah yang sudah terbukti.

Mengapa Candi Brahu Penting untuk Dikenal Generasi Sekarang?

Mengenal Candi Brahu penting bukan hanya agar generasi sekarang mengetahui nama sebuah bangunan kuno.

Lebih dari itu, situs tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana penelitian sejarah dan arkeologi bekerja.

Generasi sekarang dapat belajar bahwa sebuah kesimpulan sejarah tidak selalu berasal dari satu cerita. Peneliti perlu membandingkan prasasti, struktur bangunan, temuan arkeologis, catatan lama, hingga hasil penelitian untuk memahami masa lalu.

Nilai edukasi tersebut semakin kuat karena Candi Brahu telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.

Pemerintah melalui Balai Pelestarian Kebudayaan juga mencatat berbagai bentuk pelestarian, termasuk inventarisasi, pemugaran, konservasi secara berkala, dan penempatan juru pelihara.

Dengan demikian, keberadaan peninggalan ini bukan hanya persoalan mempertahankan bangunan lama. Pelestarian juga berarti menjaga informasi dan pengetahuan yang dapat dipelajari dari peninggalan tersebut.

Baca Juga : Hitung Hari Jawa, Mengenal Sistem Penanggalan dalam Budaya Jawa

Candi Brahu dan Kawasan Bersejarah Trowulan

Candi Brahu tidak berdiri sendirian dalam konteks sejarah Trowulan. Di kawasan sekitarnya terdapat berbagai peninggalan arkeologis lain yang menunjukkan kompleksitas sejarah wilayah tersebut.

Balai Pelestarian Kebudayaan mencatat bahwa di sekitar situs ini dahulu terdapat beberapa bangunan lain, antara lain Candi Muteran, Candi Gedong, Candi Tengah, dan Candi Gentong.

Saat ini, Candi Brahu dan Candi Gentong menjadi dua peninggalan yang masih dapat ditemukan dari kelompok tersebut.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa memahami candi ini sebaiknya tidak dilakukan secara terpisah dari kawasan Trowulan. Setiap situs merupakan bagian dari lanskap sejarah yang lebih luas.

Pemerintah Kabupaten Mojokerto juga memasukkan kawasan Candi Brahu dalam kawasan wisata budaya di Trowulan. Namun, nilai situs ini tidak semata-mata terletak pada fungsi kunjungannya.

Keberadaannya sebagai cagar budaya membuat bangunan tersebut juga menjadi sumber pembelajaran sejarah, arkeologi, arsitektur, dan kebudayaan.

Pada akhirnya, Candi Brahu adalah salah satu peninggalan yang membantu masyarakat melihat masa lalu melalui bukti yang masih tersisa.

Bangunan bata tersebut mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga dapat ditemukan melalui struktur, prasasti, dan lanskap budaya.

Karena itu, memahami Candi Brahu tidak cukup hanya dengan mengetahui bahwa bangunan tersebut berada di Trowulan atau mengaitkannya dengan Majapahit.

Yang lebih penting adalah memahami nilai sejarahnya secara kritis, membedakan fakta dari dugaan, serta menjaga keberadaannya agar informasi tentang masa lalu tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Leave a Comment

Related Post