sekitarmalangraya – Jaranan Trenggalek merupakan salah satu kesenian tradisional yang memiliki hubungan kuat dengan kehidupan masyarakat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
Di tengah perkembangan hiburan modern dan perubahan kebiasaan generasi muda, keberadaan kesenian ini menghadapi tantangan untuk tetap dikenal sekaligus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Salah satu bentuk yang paling dikenal adalah Turonggo Yakso yang berkembang dari Kecamatan Dongko. Kesenian tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan tari dengan properti berbentuk kuda, tetapi juga membawa latar budaya yang berkaitan dengan kehidupan agraris masyarakat setempat.
Perkembangannya hingga kini menunjukkan bahwa tradisi dapat memperoleh ruang baru tanpa harus kehilangan akar budayanya.
Jaranan Trenggalek dan Akar Tradisi dari Dongko
Jaranan Trenggalek, khususnya Turonggo Yakso, memiliki kaitan erat dengan tradisi Baritan yang hidup di masyarakat Desa Dongko.
Berdasarkan keterangan Pemerintah Desa Dongko, Baritan merupakan upacara adat yang berkembang dalam kehidupan masyarakat agraris dan dilaksanakan setelah aktivitas pertanian.
Tradisi tersebut berkaitan dengan ungkapan syukur serta harapan atas keselamatan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Dalam perkembangannya, kesenian jaranan kemudian digunakan sebagai bagian dari pertunjukan dalam rangkaian tradisi tersebut.
Pemerintah Desa Dongko mencatat bahwa sekitar dekade 1970-an terdapat upaya mengembangkan bentuk jaranan yang kemudian melahirkan Turonggo Yakso. Kesenian itu selanjutnya berkembang dan mendapatkan pembinaan melalui berbagai festival.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek juga mencatat Turonggo Yakso sebagai kesenian jaranan yang berasal dari Kecamatan Dongko.
Kesenian ini berkaitan dengan tradisi Baritan dan tercatat sebagai bagian dari warisan budaya tak benda Kabupaten Trenggalek.
Baca Juga : Bahasa Daerah Masuk Era AI, Bisakah Teknologi Bantu Jaga Budaya?
Turonggo Yakso Punya Identitas yang Berbeda dari Jaranan Lain
Salah satu ciri khas yang membuat jaranan Trenggalek mudah dikenali adalah bentuk properti Turonggo Yakso.
Berbeda dari gambaran kuda pada jaranan secara umum, properti Turonggo Yakso memadukan bentuk kuda dengan karakter yaksa atau buto yang digambarkan sebagai sosok raksasa. Properti tersebut secara tradisional menggunakan bahan kulit lembu atau kerbau yang ditatah dan dihias.
Karakter visual tersebut kemudian dipadukan dengan gerakan tari yang gagah, dinamis, dan atraktif. Disbudpar Jawa Timur menjelaskan bahwa sejumlah gerakan dalam Turonggo Yakso memiliki keterkaitan dengan aktivitas masyarakat agraris Dongko, seperti berjalan menuju sawah, mengolah lahan, menanam, merawat tanaman, hingga memanen.
Makna yang dibawa tidak berhenti pada unsur pertunjukan. Latar Baritan memberikan hubungan antara kesenian, kehidupan pertanian, rasa syukur, serta harapan terhadap keselamatan masyarakat.
Karakter yaksa atau buto juga memiliki pemaknaan simbolik mengenai kekuatan atau hawa nafsu yang perlu dikendalikan.
Karena itu, memahami jaranan Trenggalek tidak cukup hanya dengan melihat penari, musik, properti, dan gerakannya. Ada latar kehidupan masyarakat yang ikut membentuk identitas kesenian tersebut.
Jaranan Trenggalek Masuk Panggung Nasional lewat Festival
Perkembangan jaranan Trenggalek terlihat melalui penyelenggaraan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026.
Disbudpar Jawa Timur menyebut festival tersebut berlangsung pada 20–26 September 2026 di Alun-Alun Trenggalek dan menjadi salah satu event yang masuk dalam Karisma Event Nusantara atau KEN 2026.
Festival tersebut menghadirkan beberapa kategori, mulai dari Turonggo Yakso Bocah dan Remaja, Turonggo Yakso tingkat SMA–Umum berskala nasional, hingga kategori Non-Turonggo Yakso tingkat nasional.
Peserta juga tidak hanya berasal dari Trenggalek sehingga kegiatan tersebut membuka ruang pertemuan bagi kelompok seni dari berbagai daerah.
Kehadiran festival memberikan fungsi yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan. Seni tradisi dapat diperkenalkan kepada masyarakat melalui ruang publik sekaligus menjadi sarana bagi kelompok seni untuk menampilkan kreativitas mereka.
Disbudpar Jawa Timur juga menempatkan festival tersebut sebagai bagian dari pengembangan seni tradisi dan daya tarik wisata berbasis budaya.
Masuknya Festival Jaranan Trenggalek Terbuka dalam daftar KEN 2026 menunjukkan bahwa kesenian lokal memiliki ruang dalam agenda pariwisata budaya tingkat nasional.
Namun, eksistensi sebuah festival belum dengan sendirinya menjamin keberlanjutan tradisi. Proses pewarisan kepada generasi berikutnya tetap menjadi bagian penting.
Generasi Muda Jadi Bagian Penting dalam Pelestarian Jaranan
Keterlibatan anak-anak dan remaja menjadi salah satu hal yang menarik dari perkembangan jaranan Trenggalek.
Pada Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026, terdapat kategori khusus Turonggo Yakso Bocah dan Remaja.
Kehadiran kategori tersebut memberikan ruang bagi generasi muda untuk mempelajari sekaligus menampilkan seni tradisi.
Keterlibatan pelajar juga terlihat dalam pertunjukan kolosal Turonggo Yakso pada 2024. Dokumen resmi Pemkab Trenggalek mencatat sebanyak 2.708 penari dari berbagai usia, mulai dari pelajar SD hingga SMA, terlibat dalam pertunjukan yang digelar dalam rangkaian tradisi Ngetung Batih di Kecamatan Dongko.
Data tersebut menunjukkan adanya ruang keterlibatan generasi muda dalam seni tradisi. Namun, pelestarian tidak hanya berarti mengikutsertakan anak-anak dalam sebuah pertunjukan.
Mereka juga perlu memahami sejarah, simbol, nilai, musik, gerak, serta konteks sosial yang membentuk kesenian tersebut.
Dengan pemahaman itu, generasi muda tidak sekadar menjadi penampil, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pewarisan budaya.
Baca Juga : Bahasa Kaili di Tengah Perubahan Zaman, Mengapa Perlu Terus Dilestarikan?
Jaranan Trenggalek di Era Modern, Bisakah Tetap Bertahan?
Jaranan Trenggalek menghadapi lingkungan budaya yang terus berubah. Pilihan hiburan semakin beragam, sementara generasi muda juga semakin dekat dengan konten digital.
Kondisi tersebut membuat keberadaan seni tradisi membutuhkan cara pengenalan yang mampu menjangkau masyarakat masa kini.
Festival dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan tradisi dengan masyarakat modern. Kompetisi antarkelompok, kategori untuk anak dan remaja, serta skala nasional membuat kesenian tidak hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap dipentaskan dan dipelajari.
Festival 2026 juga memperlihatkan bahwa seni tradisi dapat ditempatkan berdampingan dengan kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Namun, mempertahankan identitas tetap menjadi bagian penting dalam proses pengembangan. Perubahan bentuk penyajian dapat terjadi mengikuti perkembangan zaman, tetapi pemahaman terhadap akar budaya perlu tetap dijaga.
Pada akhirnya, keberlanjutan jaranan Trenggalek tidak hanya bergantung pada banyaknya pertunjukan. Tradisi akan terus hidup ketika ada generasi yang mau mempelajarinya, komunitas yang terus mengajarkannya, ruang untuk menampilkannya, serta masyarakat yang memahami nilai di balik pertunjukan.
Dengan cara tersebut, modernisasi tidak harus menjadi akhir bagi kesenian tradisional. Justru, ruang baru dapat menjadi jalan agar warisan budaya dari Dongko tetap dikenal, dipelajari, dan berkembang tanpa kehilangan identitasnya.









Leave a Comment