sekitarmalangraya – Bahasa daerah kini menghadapi tantangan baru sekaligus peluang baru ketika teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin masuk ke kehidupan sehari-hari.
Kehadiran AI membuat bahasa tidak lagi hanya digunakan dalam percakapan langsung, tetapi juga berpotensi hadir dalam aplikasi, mesin pencarian, penerjemah, hingga berbagai platform digital.
Bagi Indonesia yang memiliki keragaman bahasa, perkembangan tersebut membuka pertanyaan penting: bisakah AI ikut membantu menjaga bahasa daerah agar tetap digunakan generasi muda?
Pertanyaan itu semakin relevan setelah pemerintah mendorong agar bahasa daerah masuk ke dalam ekosistem AI.
Bahasa Daerah Menghadapi Tantangan di Era Digital
Bahasa daerah tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga membawa pengetahuan, cerita, nilai, dan identitas masyarakat yang menggunakannya.
Ketika penggunaan bahasa mulai berkurang di kehidupan sehari-hari, yang berisiko hilang bukan hanya kosakatanya, tetapi juga sebagian pengetahuan budaya yang melekat di dalamnya.
Badan Bahasa mencatat bahwa revitalisasi bahasa membutuhkan keterlibatan komunitas, keluarga, sekolah, dan pemanfaatan teknologi.
Dalam risalah kebijakannya, Badan Bahasa juga membahas integrasi AI sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah.
Persoalannya, ruang digital memiliki kebiasaan penggunaan bahasa yang berbeda. Generasi muda dapat berkomunikasi melalui media sosial, aplikasi percakapan, dan berbagai layanan digital dengan bahasa yang lebih dominan digunakan di internet.
Karena itu, keberadaan bahasa daerah di ruang digital menjadi bagian dari upaya membuat bahasa tersebut tetap relevan dengan perubahan zaman.
Hal ini bukan berarti bahasa daerah harus meninggalkan penggunaan tradisionalnya. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi ruang tambahan agar bahasa tetap ditemukan, dipelajari, dan digunakan.
Baca Juga : Bahasa Kaili di Tengah Perubahan Zaman, Mengapa Perlu Terus Dilestarikan?
Mengapa Bahasa Daerah Perlu Masuk ke Ekosistem AI?
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat pada Mei 2026 menyampaikan bahwa bahasa daerah perlu masuk ke ekosistem digital yang melibatkan AI agar tetap relevan dan terus digunakan generasi muda.
Ia juga mendorong pengembangan teknologi berbasis Large Language Model atau LLM agar bahasa daerah dapat digunakan secara lebih luas dalam aplikasi dan platform AI.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya perubahan cara melihat pelestarian bahasa. Menjaga bahasa tidak cukup hanya dengan mencatat kosakata atau mengajarkannya di kelas.
Bahasa juga perlu memiliki ruang untuk digunakan dalam lingkungan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.
Jika suatu bahasa dapat dikenali atau digunakan dalam teknologi, peluang untuk memanfaatkannya dalam berbagai layanan digital juga dapat terbuka.
Namun, hal tersebut membutuhkan proses panjang karena teknologi AI tidak dapat bekerja tanpa data bahasa yang memadai.
Di sinilah dokumentasi menjadi penting. Kosakata, teks, pelafalan, variasi bahasa, dan konteks penggunaan perlu dikumpulkan dengan memperhatikan kualitas serta keterwakilan penutur.
AI Bisa Membantu Dokumentasi dan Pembelajaran Bahasa Daerah
AI memiliki sejumlah potensi yang dapat dimanfaatkan dalam pelindungan bahasa. Risalah kebijakan Badan Bahasa menyebut beberapa peluang, antara lain dokumentasi melalui teknologi pengenalan suara, analisis linguistik, pengembangan alat pembelajaran berbasis AI, pemetaan bahasa, serta penerjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa daerah dan antarbahasa daerah.
Potensi tersebut dapat membuat proses belajar menjadi lebih dekat dengan kebiasaan generasi digital. Misalnya, teknologi dapat dikembangkan untuk membantu pengguna mengenali pelafalan, mencari arti kata, atau berlatih menggunakan kosakata dalam konteks tertentu.
Contoh pemanfaatan teknologi digital juga terlihat melalui Kamus Digital Bahasa Makassar–Bahasa Indonesia–Bahasa Inggris yang diluncurkan Kemendikdasmen pada Februari 2026.
Kamus tersebut memuat 4.358 entri kosakata, dilengkapi fitur video pelafalan dan kuis interaktif. Pengguna juga dapat mengusulkan kosakata baru yang kemudian diverifikasi oleh tim ahli.
Contoh tersebut memang bukan berarti seluruh teknologi tersebut merupakan AI. Namun, kehadirannya menunjukkan bagaimana digitalisasi dapat membuat sumber belajar bahasa lebih mudah dijangkau generasi muda.
Tantangan AI dalam Mengenali Bahasa Daerah
AI tidak otomatis menjadi solusi hanya karena mampu memproses bahasa. Justru, salah satu tantangan terbesarnya terletak pada data yang digunakan untuk membangun dan mengembangkan teknologi tersebut.
Bahasa daerah memiliki variasi kosakata, pelafalan, dialek, dan konteks budaya. Data yang terlalu sedikit atau tidak mewakili keragaman penutur dapat membuat sistem menghasilkan keluaran yang keliru.
Karena itu, penggunaan AI untuk bahasa daerah membutuhkan dokumentasi yang baik serta keterlibatan penutur dan ahli bahasa.
Ada pula persoalan mengenai bagaimana makna budaya diterjemahkan ke dalam sistem teknologi. Sebuah kata tidak selalu dapat dipahami hanya berdasarkan padanan katanya. Dalam konteks tertentu, ungkapan dapat memiliki makna sosial atau budaya yang lebih luas.
Karena itu, AI sebaiknya tidak diposisikan sebagai pengganti ahli bahasa atau penutur asli. Teknologi dapat membantu mengolah dan menyebarkan data, tetapi validasi manusia tetap diperlukan untuk memastikan informasi yang dihasilkan sesuai konteks.
Baca Juga : Aksara Jawa, Warisan Tulisan yang Tetap Hidup di Era Digital
AI Bisa Menjadi Alat Pelestarian, tetapi Penggunanya Tetap Manusia
Pada akhirnya, AI dapat menjadi salah satu alat untuk membantu menjaga bahasa daerah, tetapi teknologi tidak dapat menjadi satu-satunya penentu keberlangsungannya.
Bahasa tetap hidup ketika manusia menggunakannya dalam percakapan, keluarga, pendidikan, komunitas, dan berbagai aktivitas budaya.
Pemerintah sendiri menekankan pentingnya penggunaan nya dalam kehidupan sehari-hari. Atip Latipulhayat mengingatkan bahwa bahasa daerah tidak seharusnya berhenti sebagai materi di buku atau mata pelajaran, tetapi perlu hadir dalam proses pembelajaran dan kehidupan generasi muda.
Karena itu, hubungan antara AI dan bahasa daerah sebaiknya dilihat sebagai hubungan yang saling mendukung.
Teknologi dapat membantu mendokumentasikan, mempelajari, menerjemahkan, dan memperluas akses terhadap bahasa. Sementara itu, manusia tetap menjadi pihak yang membuat bahasa tersebut benar-benar digunakan.
Jika generasi muda menemukan bahasa daerah dalam aplikasi yang mereka gunakan, lalu tetap menggunakannya bersama keluarga dan komunitas, teknologi dapat menjadi jembatan antara warisan budaya dan kehidupan modern.
Namun, jika bahasa hanya tersimpan dalam sistem tanpa penutur yang aktif menggunakannya, teknologi tidak akan cukup untuk membuatnya tetap hidup.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai apakah AI bisa menjaga bahasa daerah mungkin tidak memiliki jawaban sesederhana ya atau tidak.
AI dapat membantu, tetapi keberlangsungan bahasa tetap bergantung pada manusia yang menuturkan, mengajarkan, mendokumentasikan, dan mewariskannya.
Di era digital, teknologi mungkin menjadi alat baru pelestarian, tetapi bahasa tetap membutuhkan manusia agar terus hidup.









Leave a Comment