Tembung Sanepa dalam Bahasa Jawa, Pengertian dan Contohnya dalam Percakapan

Mazaya Farandy

September 28, 2026

5
Min Read
Tembung sanepa merupakan salah satu bentuk ungkapan dalam bahasa Jawa yang menarik karena maknanya tidak selalu sama dengan arti kata-kata penyusunnya.

sekitarmalangraya – Tembung sanepa merupakan salah satu bentuk ungkapan dalam bahasa Jawa yang menarik karena maknanya tidak selalu sama dengan arti kata-kata penyusunnya.

Dalam percakapan sehari-hari, ungkapan semacam ini dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan secara menyangatkan, bahkan dengan memilih kata yang secara harfiah justru berlawanan dengan maksud sebenarnya.

Bagi pembelajar bahasa Jawa, tembung sanepa penting dipahami karena ungkapan ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya bekerja melalui arti kamus.

Konteks, hubungan antarkata, dan kebiasaan pemakaian turut menentukan maksud yang hendak disampaikan. Karena itu, memahami sanepa tidak cukup dengan menerjemahkan setiap kata secara terpisah.

Apa Itu Tembung Sanepa dalam Bahasa Jawa?

Dalam kajian Peribahasa dalam Bahasa Jawa terbitan Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sanepa ditempatkan sebagai salah satu jenis ungkapan dalam khazanah peribahasa Jawa.

Kajian tersebut menjelaskan bahwa sanepa mengandung makna penyangatan, sementara strukturnya dapat berupa adjektiva yang diikuti nomina.

Sederhananya, tembung sanepa adalah ungkapan yang digunakan untuk menyatakan suatu keadaan secara sangat kuat dengan memakai pasangan kata yang menghasilkan kesan berlawanan.

Makna akhirnya tidak diperoleh dari arti harfiah saja, tetapi dari hubungan kedua unsur dalam ungkapan tersebut.

Contohnya adalah “arum jamban”. Kata arum berarti harum, sedangkan jamban merujuk pada tempat yang secara konteks tidak identik dengan keharuman. Dalam sanepa, gabungan tersebut justru dipakai untuk menyatakan bahwa suatu bau sangat busuk.

Karakter tersebut membuat tembung sanepa berbeda dari kalimat biasa. Pembaca atau pendengar perlu memahami maksud ungkapan secara utuh agar tidak keliru menangkap pesan.

Baca Juga : Sejarah Bahasa Indonesia, dari Bahasa Melayu hingga Menjadi Bahasa Persatuan

Ciri-Ciri Tembung Sanepa

Salah satu ciri utama tembung sanepa adalah adanya makna penyangatan. Sebuah keadaan tidak hanya digambarkan sebagai “harum”, “ringan”, atau “manis”, tetapi dibuat lebih kuat melalui pasangan kata tertentu.

Ciri berikutnya adalah hubungan makna yang tidak selalu berjalan secara harfiah. Buku Peribahasa dalam Bahasa Jawa memberikan contoh “anteng kitiran”.

Anteng berarti tenang, sedangkan kitiran adalah benda yang terus berputar ketika terkena angin. Gabungan tersebut digunakan untuk menggambarkan orang yang banyak tingkah.

Contoh lain ialah “landhep dhengkul”. Landhep berarti tajam, sedangkan dhengkul berarti lutut. Secara harfiah, keduanya terdengar tidak lazim jika digunakan untuk menggambarkan kemampuan berpikir. Dalam pemakaian sanepa, ungkapan tersebut bermakna seseorang yang sangat bodoh.

Dari contoh tersebut terlihat bahwa sanepa memiliki bentuk ringkas, tetapi membutuhkan pengetahuan konteks untuk memahaminya. Karena itu, menerjemahkan kata per kata sering kali tidak menghasilkan makna yang tepat.

Contoh Tembung Sanepa dan Artinya

Ada banyak contoh tembung sanepa yang masih dikenal dalam pembelajaran bahasa Jawa. Beberapa di antaranya dapat membantu melihat pola makna yang khas.

Tembung sanepa
Maksud
Ambune arum jambanBaunya sangat busuk
Bobote abot kapukBobotnya sangat ringan
Eseme pait maduSenyumnya sangat manis
Polahe anteng kitiran Tingkahnya banyak
Pikirane landhep dhengkulPikirannya sangat bodoh
Rasane legi bratawaliRasanya sangat pahit
Dedege dhuwur kencurTingginya sangat pendek
Guyone sepi pasarCandanya sangat ramai
Kawruhe jeru tapak meriPengetahuannya sangat sedikit
Utange arang wulu kucingUtangnya sangat banyak

Contoh “bobote abot kapuk” menunjukkan pola yang mudah dikenali. Abot berarti berat, sedangkan kapuk dikenal ringan. Karena itu, maksud ungkapannya justru mengarah pada keadaan yang sangat ringan.

Begitu pula “eseme pait madu”. Madu secara umum dikenal manis, sehingga kata pait yang dipasangkan dengan madu menghasilkan ungkapan yang secara harfiah terasa berlawanan. Maksudnya adalah senyum yang sangat manis.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa unsur pembanding dalam sanepa bukan dipilih secara acak. Kata benda yang menjadi bagian ungkapan membantu menghasilkan gambaran tertentu sehingga maksud penyangatan dapat dipahami.

Mengapa Makna Tembung Sanepa Berbeda dari Arti Harfiahnya?

Perbedaan antara arti harfiah dan maksud sebenarnya menjadi bagian paling penting dalam memahami tembung sanepa. Ungkapan tersebut bekerja melalui bahasa kiasan.

Kata-kata penyusunnya membentuk gambaran yang kemudian ditafsirkan sebagai keadaan yang ingin ditegaskan.

Misalnya, “bobote abot kapuk” akan terasa janggal jika diterjemahkan mentah sebagai “beratnya berat kapas”.

Kapas justru diasosiasikan dengan sesuatu yang ringan. Ketidakselarasan itulah yang membantu pembaca menangkap maksud sebenarnya, yaitu sangat ringan.

Dengan pola seperti ini, pembaca sebaiknya tidak terburu-buru mencari arti setiap kata. Lebih tepat jika ungkapan dibaca sebagai satu kesatuan, kemudian dicari keadaan yang ingin ditekankan.

Hal tersebut juga menunjukkan bahwa bahasa Jawa memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan maksud. Ungkapan tidak selalu dibuat lugas.

Ada bentuk-bentuk yang mengandalkan rasa bahasa, kebiasaan masyarakat, dan pengetahuan terhadap perbandingan yang digunakan.

Baca Juga : Wayang Jemblung Kediri, Kesenian Tutur yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Tembung Sanepa sebagai Kekayaan Bahasa Jawa

Keberadaan tembung sanepa memperlihatkan bahwa bahasa Jawa memiliki kekayaan cara untuk menyampaikan keadaan.

Pesan dapat dibuat lebih hidup melalui ungkapan yang singkat, tetapi memiliki lapisan makna di balik kata-katanya.

Dalam buku Peribahasa dalam Bahasa Jawa, peribahasa Jawa ditempatkan sebagai bagian dari kebudayaan yang juga berkaitan dengan penyampaian pesan dan ajaran moral.

Hal ini menunjukkan bahwa mempelajari ungkapan tradisional tidak hanya berguna untuk mengetahui arti kata, tetapi juga membantu memahami cara masyarakat menggunakan bahasa dalam konteks budaya.

Bagi generasi muda, mengenal tembung sanepa dapat menjadi salah satu cara mempertahankan pengetahuan tentang bahasa Jawa.

Ungkapan seperti “arum jamban”, “pait madu”, atau “landhep dhengkul” mungkin terdengar unik jika pertama kali didengar, tetapi justru keunikan tersebut membuatnya menarik untuk dipelajari.

Memahami sanepa juga mengajarkan bahwa bahasa tidak selalu bisa diterjemahkan secara lurus. Ada konteks, perbandingan, dan kebiasaan yang ikut menentukan arti.

Karena itu, mempelajari bahasa Jawa bukan hanya menghafalkan kosakata, melainkan juga memahami bagaimana sebuah ungkapan digunakan untuk menggambarkan keadaan secara khas.

Leave a Comment

Related Post