Wayang Jemblung Kediri, Kesenian Tutur yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Mazaya Farandy

September 25, 2026

5
Min Read
Wayang Jemblung merupakan kesenian tradisional asal Kabupaten Kediri yang memiliki karakter berbeda dari pertunjukan wayang yang umumnya dikenal masyarakat.

sekitarmalangraya – Wayang Jemblung merupakan kesenian tradisional asal Kabupaten Kediri yang memiliki karakter berbeda dari pertunjukan wayang yang umumnya dikenal masyarakat.

Kesenian ini mengandalkan kemampuan bertutur, pantun, parikan, senggakan, serta iringan musik tradisional untuk membangun cerita di hadapan penonton.

Keberadaan Wayang Jemblung menjadi menarik ketika kesenian tradisional harus berhadapan dengan perubahan selera masyarakat dan berkembangnya hiburan digital.

Meski demikian, kesenian ini masih berupaya dipertahankan melalui inovasi pertunjukan dan pengenalan kepada generasi muda.

Wayang Jemblung Kediri, Kesenian Tradisional yang Mengandalkan Tutur

Wayang Jemblung adalah salah satu kesenian tradisional yang berkembang di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur menyebut kekhasan kesenian ini terletak pada cara penyampaian cerita melalui tutur, pantun, parikan, serta iringan musik tradisional berbahan kulit.

Karakter tersebut membuat Wayang Jemblung berbeda dari bentuk wayang yang menggunakan boneka atau gambar sebagai peraga utama.

Kajian dalam Khasanah Ilmu: Jurnal Pariwisata dan Budaya mengelompokkan Wayang Jemblung sebagai salah satu pertunjukan wayang tanpa peraga.

Artinya, kekuatan pertunjukan lebih banyak bertumpu pada kemampuan para pemain dalam membangun cerita dan suasana melalui bahasa serta musik.

Wayang Jemblung juga tercatat dalam daftar ragam wayang Indonesia yang diterbitkan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kesenian ini menjadi bagian dari keragaman tradisi pewayangan yang berkembang di Indonesia.

Baca Juga : Kenapa Bahasa Jawa Punya Tingkatan? Ini Alasan di Balik Ngoko, Madya, dan Krama

Dari Mana Nama Wayang Jemblung Berasal?

Nama Wayang Jemblung memiliki keterkaitan dengan tokoh dalam salah satu lakon yang dibawakan.

Menurut pelestari Edy Prasetyo dalam wawancara yang dimuat Disbudpar Jawa Timur, istilah tersebut berkaitan dengan tokoh Jemblung Marmoyo dan Jemblung Marmadi dalam lakon Babat Menak.

Dalam pertunjukannya juga terdapat tokoh punakawan khas bernama Kiai Kedrah. Tokoh tersebut tidak hanya memberikan warna dalam cerita, tetapi juga berperan menyampaikan pesan moral kepada penonton.

Salah satu lakon yang banyak dibawakan adalah Babat Menak. Cerita tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain Wong Agung Jayengrono, Adipati Marmoyo, dan Marmadi.

Melalui cerita dan dialog antartokoh, pertunjukan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan berbagai pesan yang berkaitan dengan kehidupan.

Karakter bertutur menjadi bagian penting dalam kesenian ini. Karena tidak mengandalkan peraga berupa boneka atau gambar, kemampuan pemain dalam menghidupkan tokoh melalui suara, dialog, pantun, dan respons antarpemain menjadi sangat menentukan jalannya pertunjukan.

Cerita dan Musik Menjadi Bagian Penting Pertunjukan

Kekuatan Wayang Jemblung tidak hanya terletak pada cerita, tetapi juga pada perpaduan antara kemampuan bertutur dan musik.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur mencatat bahwa instrumen tradisional yang digunakan antara lain kendang, terbang, ketuk, serta jedor atau beduk.

Jedor memiliki fungsi penting dalam iringan karena menjadi penanda gong sekaligus memberikan tekanan pada struktur musik pertunjukan. Sementara itu, instrumen lainnya membantu membangun suasana yang mengikuti alur cerita.

Selain musik, pemain juga harus menguasai sejumlah kemampuan khusus. Disbudpar Jawa Timur mencatat bahwa kemampuan mendalang, berpantun, melakukan parikan, dan menguasai senggakan menjadi bagian penting dalam Wayang Jemblung.

Senggakan berupa sahutan atau respons vokal antarpemain dapat membantu membangun suasana pertunjukan.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa Wayang Jemblung bukan sekadar pertunjukan cerita. Ada keterampilan bahasa, musik, olah suara, dan interaksi antarpemain yang harus dikuasai secara bersamaan.

Dari sisi fungsi, kesenian ini juga mempunyai peran yang lebih luas daripada hiburan. Cerita dan dialog Wayang Jemblung dapat menjadi media penyampaian nilai moral, pendidikan, sosial, dan keagamaan.

Dengan demikian, pertunjukan menjadi sarana hiburan sekaligus penyampaian tuntunan kepada masyarakat.

Wayang Jemblung Menghadapi Tantangan Hiburan Digital

Keberlangsungan Wayang Jemblung menghadapi tantangan ketika pilihan hiburan masyarakat semakin beragam.

Disbudpar Jawa Timur mencatat kesenian ini pernah mengalami masa kejayaan, terutama pada era 1990-an hingga sekitar 2010–2014.

Setelah itu, perkembangan hiburan modern dan digital ikut menjadi tantangan karena minat penonton mengalami penurunan.

Salah satu persoalan yang disampaikan pelestari adalah bentuk pertunjukan yang dinilai sebagian masyarakat saat ini terasa monoton.

Kondisi tersebut menjadi alasan untuk mencari cara agar kesenian tetap dapat diterima tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Tantangan ini sebenarnya bukan hanya persoalan jumlah penonton. Ketika sebuah kesenian semakin jarang dipentaskan, kesempatan generasi muda untuk mengenal dan mempelajari keterampilan di dalamnya juga dapat ikut berkurang.

Dalam konteks Wayang Jemblung, persoalan regenerasi menjadi cukup penting karena keterampilan seperti mendalang, berpantun, melakukan parikan, memainkan instrumen, dan melakukan senggakan membutuhkan proses latihan yang tidak singkat.

Karena itu, mempertahankan kesenian tidak cukup hanya dengan menyimpan dokumentasi. Pengetahuan dan keterampilan yang membentuk pertunjukan juga perlu diteruskan kepada pemain berikutnya.

Baca Juga : Gedhe Atine Tegese Apa? Memahami Makna Ungkapan Jawa yang Berkaitan dengan Sikap dan Karakter

Inovasi dan Regenerasi untuk Menjaga Wayang Jemblung

Upaya mempertahankan Wayang Jemblung dilakukan melalui inovasi dengan tetap mempertahankan identitas utamanya.

Edy Prasetyo mengembangkan pertunjukan dengan menambahkan instrumen gamelan seperti kenong, saron, dan demung. Pertunjukan juga dikolaborasikan dengan campursari serta memanfaatkan unsur visual berupa video.

Adaptasi tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional tidak selalu harus mempertahankan seluruh bentuk pertunjukan secara kaku. Perubahan dapat dilakukan selama karakter utama dan nilai yang menjadi identitasnya tetap diperhatikan.

Selain inovasi, regenerasi juga menjadi bagian penting dalam pelestarian. Pengenalan Wayang Jemblung dilakukan kepada generasi muda, termasuk siswa sekolah menengah atas.

Salah satu pendekatannya adalah menggunakan format pertunjukan teatrikal agar kesenian lebih mudah dikenalkan kepada pelajar. Pelatihan juga dilakukan bagi siswa yang memiliki ketertarikan terhadap kesenian tersebut.

Menurut saya, langkah tersebut menjadi penting karena keberadaan Wayang Jemblung pada masa depan tidak hanya bergantung pada ada atau tidaknya pertunjukan, tetapi juga pada siapa yang mampu meneruskan keterampilannya.

Pada akhirnya, Wayang Jemblung menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat menghadapi perubahan zaman tanpa harus kehilangan identitas.

Tantangannya memang tidak sederhana, terutama ketika masyarakat memiliki semakin banyak pilihan hiburan.

Namun, inovasi, pendidikan budaya, dan regenerasi dapat menjadi jalan agar pengetahuan mengenai kesenian tersebut tetap hidup.

Wayang Jemblung bukan hanya cerita yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di dalamnya terdapat kemampuan berbahasa, musik, seni pertunjukan, serta nilai kehidupan yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Kediri.

Karena itu, menjaga keberlangsungannya berarti menjaga pula pengetahuan dan keterampilan yang membentuk kesenian tersebut.

Leave a Comment

Related Post