Ritual Hodo Situbondo, Warisan Leluhur dengan Makna Mendalam

Mazaya Farandy

October 29, 2026

6
Min Read
Ritual Hodo merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yang menyimpan nilai spiritual, seni, dan kebersamaan.

sekitarmalangraya – Ritual Hodo merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yang menyimpan nilai spiritual, seni, dan kebersamaan.

Tradisi ini dikenal sebagai upacara memohon hujan kepada Allah SWT, terutama ketika masyarakat menghadapi musim kemarau.

Di balik rangkaian doa, tembang, musik, dan tarian, terdapat warisan pengetahuan lokal yang terus dijaga oleh masyarakat pendukungnya.

Keberadaan tradisi tersebut memperlihatkan bahwa budaya tidak hanya hadir sebagai pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari cara masyarakat memaknai hubungan dengan lingkungan dan Sang Pencipta. Ritual Hodo pun memiliki arti penting dalam menjaga identitas lokal di tengah perubahan zaman.

Mengenal Ritual Hodo, Tradisi Khas Masyarakat Situbondo

Tradisi ini berpusat di Padukuhan Pariopo, Dusun Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus. Menurut catatan pada laman Warisan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hodo tercatat sebagai warisan budaya dari Kabupaten Situbondo dengan kategori adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan.

Pemerintah menetapkan Hodo sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019 melalui Surat Keputusan Nomor 362/M/2019. Penetapan tersebut menjadi pengakuan terhadap nilai budaya yang hidup dan diwariskan dalam masyarakat.

Ritual Hodo biasanya dilaksanakan pada penghujung musim kemarau. Pemerintah Kabupaten Situbondo menyebut tradisi ini digelar setiap 10 Oktober oleh masyarakat setempat.

Pelaksanaannya bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari amanah leluhur yang dipertahankan oleh para penerus tradisi.

Keberadaan Hodo juga menunjukkan bahwa identitas budaya suatu daerah dapat tumbuh dari praktik masyarakat dalam menghadapi kondisi alam.

Tradisi ini menyimpan ingatan kolektif mengenai harapan akan hujan, keselamatan, dan keberlangsungan kehidupan warga.

Baca Juga : Hari Sumpah Pemuda ke-98, Memahami Makna Persatuan bagi Generasi Muda

Asal-Usul dan Tujuan Ritual Hodo bagi Masyarakat Pariopo

Tujuan utama Ritual Hodo adalah memohon turunnya hujan, keselamatan warga, serta perlindungan terhadap kehidupan dan hasil pertanian.

Harapan tersebut berkaitan dengan kondisi masyarakat yang menggantungkan sebagian kehidupannya pada ketersediaan air dan keadaan alam.

Dalam catatan Warisan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat cerita mengenai asal-usul Hodo yang dikaitkan dengan seorang tawanan Belanda yang melarikan diri ke kawasan Pariopo.

Wilayah yang digambarkan tandus itu kemudian menjadi latar cerita tentang upaya memohon hujan melalui semedi di sebuah gua yang dikenal sebagai Goa Masali.

Cerita tersebut merupakan bagian dari riwayat tradisi yang diwariskan dan dicatat dalam sumber kebudayaan, bukan bukti sejarah yang seluruh detailnya telah terverifikasi secara independen.

Karena itu, kisah asal-usulnya perlu dipahami sebagai narasi budaya yang membantu masyarakat menjelaskan makna ritual.

Bagi masyarakat pendukungnya, Hodo menjadi bentuk ikhtiar spiritual. Keyakinan terhadap makna ritual merupakan bagian dari pengalaman budaya warga, tetapi tidak berarti upacara tersebut secara ilmiah terbukti menyebabkan hujan turun.

Pembedaan ini penting agar tradisi dihormati tanpa mengubah kepercayaan menjadi klaim sebab-akibat yang belum terbukti.

Rangkaian Prosesi Hodo dan Makna di Balik Pojhian Hodo

Pelaksanaan Ritual Hodo terdiri atas beberapa tahapan yang menggabungkan doa, tindakan simbolis, musik, dan gerak tari.

Berdasarkan catatan pemerintah daerah serta pemberitaan mengenai tradisi ini, rangkaian awal mencakup pembacaan doa di Puncak Masali atau Gunung Sanuri. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyucian diri di sumber mata air dan kawasan Batu Tomang.

Semedi juga menjadi bagian dari rangkaian yang dikenal dalam tradisi tersebut. Setelah tahapan awal, para pelaku melaksanakan prosesi utama yang diiringi tembang dan tarian. Nasi tumpeng diarak menuju lokasi upacara, kemudian ditempatkan di tengah lingkaran pelaku ritual.

Salah satu unsur yang menonjol adalah Pojhian Hodo, yaitu lantunan puji-pujian yang berpadu dengan musik tradisional.

Instrumen yang digunakan antara lain gong, kendang, dan suling. Bunyi musik mengiringi suara para pelaku serta gerakan tari sehingga upacara memiliki unsur seni yang kuat.

Busana tradisional juga menjadi bagian dari identitas pertunjukan. Sumber kebudayaan mencatat penggunaan perlengkapan seperti odheng, selendang, gelang, dan sandal dari janur. Setiap unsur memperlihatkan hubungan antara tata cara adat, ekspresi artistik, dan simbol yang diwariskan.

Pada akhir rangkaian, masyarakat menikmati hidangan bersama. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial sekaligus mengungkapkan rasa syukur.

Dengan demikian, makna Ritual Hodo tidak terbatas pada permohonan hujan, tetapi juga mencakup kebersamaan dan kesinambungan tradisi.

Perpaduan Budaya Madura, Jawa, dan Islam dalam Ritual Hodo

Keunikan Hodo terlihat dari pertemuan berbagai unsur budaya dalam satu praktik adat. Pemberitaan Radar Situbondo menyebut puji-pujian dalam ritual ini memadukan bahasa Madura, Jawa, dan Arab. Doa serta tahlil juga menjadi bagian dari pelaksanaan upacara.

Perpaduan tersebut mencerminkan proses akulturasi, yakni pertemuan unsur budaya yang berkembang bersama tanpa harus menghilangkan seluruh ciri khas masing-masing.

Bahasa Madura dan Jawa memperlihatkan kekayaan lingkungan budaya setempat, sedangkan penggunaan bahasa Arab berkaitan dengan ungkapan keagamaan dalam ritual.

Pojhian Hodo juga menunjukkan bahwa bahasa memiliki fungsi lebih luas daripada menyampaikan informasi sehari-hari.

Dalam tradisi lisan, bahasa dapat menjadi sarana untuk menyimpan ingatan, mengekspresikan harapan, serta meneruskan nilai kepada generasi berikutnya.

Melalui tembang dan puji-pujian, pengetahuan budaya diwariskan bukan hanya lewat penjelasan tertulis, tetapi juga melalui pendengaran, pengulangan, dan keterlibatan langsung.

Inilah salah satu alasan dokumentasi bahasa dan musik tradisional penting dilakukan, terutama ketika jumlah pelaku yang menguasai tradisi tidak banyak.

Baca Juga : Turonggo Yakso, Warisan Budaya Trenggalek dengan Filosofi Mendalam

Upaya Melestarikan Ritual Hodo agar Dikenal Generasi Muda

Pelestarian Ritual Hodo membutuhkan keterlibatan masyarakat adat, pemerintah, pendidik, dan generasi muda. Para pelaku tradisi memiliki peran penting dalam menjaga ketentuan prosesi serta menyampaikan pengetahuan kepada penerusnya.

Pemerintah dapat mendukung melalui dokumentasi, kegiatan kebudayaan, dan ruang pengenalan yang tidak menghilangkan nilai sakral tradisi.

Menurut berita resmi Pemerintah Kabupaten Situbondo pada Oktober 2026, tetua pelestari Hodo, Haji Muhammad Hariyono, menjelaskan bahwa kelompok pelaku ritual berjumlah 17 orang dan jumlah tersebut dipertahankan sesuai ketentuan adat.

Informasi ini menunjukkan pentingnya menghormati aturan komunitas ketika tradisi diperkenalkan kepada khalayak luas.

Pemerintah Kecamatan Asembagus juga menyampaikan rencana menggelar Festival Budaya Hodo pada 2027. Rencana tersebut diharapkan menjadi kesempatan memperkenalkan kekayaan budaya setempat sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda.

Namun, pengenalan melalui festival tetap perlu disertai pemahaman mengenai konteks, makna, dan batasan adat.

Sekolah dan komunitas budaya dapat ikut berperan dengan mengenalkan tradisi lokal melalui bahan pembelajaran, dokumentasi audiovisual, wawancara dengan pelaku, serta kegiatan diskusi.

Dokumentasi sebaiknya melibatkan masyarakat pemilik tradisi agar informasi yang disampaikan tidak terlepas dari pengetahuan dan perspektif mereka.

Pada akhirnya, Ritual Hodo merupakan warisan budaya yang menghubungkan spiritualitas, bahasa, seni, dan kebersamaan masyarakat Situbondo.

Melestarikannya bukan hanya menjaga sebuah upacara tetap berlangsung, melainkan juga memastikan nilai serta pengetahuan yang menyertainya dapat dipahami generasi berikutnya.

Penghormatan terhadap pelaku adat dan penyampaian informasi yang akurat menjadi langkah penting agar tradisi ini terus dikenal tanpa kehilangan maknanya.

Leave a Comment

Related Post