Bahasa Daerah Terancam Luntur, Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 Jadi Upaya Pelestarian

Mazaya Farandy

October 26, 2026

6
Min Read
Bahasa daerah tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga menyimpan cerita, pengetahuan, dan identitas budaya suatu masyarakat.

sekitarmalangraya – Bahasa daerah tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga menyimpan cerita, pengetahuan, dan identitas budaya suatu masyarakat.

Upaya menjaga keberlangsungannya dilakukan melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat Provinsi Jawa Timur yang memberi ruang bagi siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama untuk menunjukkan kemampuan berbahasa serta bersastra.

Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan tersebut pada 20–21 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD), yang mendorong generasi muda agar tidak sekadar mengenal bahasa ibu, tetapi juga mempelajari dan menggunakannya.

Festival menjadi tahap apresiasi bagi peserta yang telah mengikuti proses pembelajaran dan seleksi di daerah masing-masing.

Menurut Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Puji Retno Hardiningtyas, FTBI bukan sekadar perlombaan. Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap usaha siswa dalam mempelajari dan melestarikan bahasa daerah.

Penyelenggara berharap pengalaman mengikuti festival dapat menumbuhkan kebanggaan sekaligus mendorong penggunaan bahasa ibu secara berkelanjutan.

Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 Libatkan 168 Siswa dari 12 Daerah

Selebrasi FTBI tingkat Provinsi Jawa Timur 2026 diikuti 168 siswa SD dan SMP. Mereka merupakan peraih juara pertama pada FTBI tingkat kabupaten atau kota dari 12 daerah di Jawa Timur.

Para peserta didampingi 72 guru master yang terlibat dalam proses pembelajaran dan pengimbasan program revitalisasi bahasa.

Berdasarkan laporan resmi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, kegiatan selebrasi berlangsung di Gedung Graha Utama Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur.

Selain peserta dan pendamping, kegiatan tersebut melibatkan juri, panitia, perwakilan instansi pemerintah, serta unsur dinas pendidikan dari daerah yang berpartisipasi.

Keterlibatan peserta dari berbagai wilayah memperlihatkan bahwa pelestarian bahasa membutuhkan dukungan bersama.

Sekolah berperan dalam proses pembelajaran, guru membantu siswa mengembangkan keterampilan, sedangkan pemerintah daerah mendukung pelaksanaan program di wilayah masing-masing. FTBI juga menjadi bagian dari tahapan yang lebih panjang.

Program revitalisasi mencakup koordinasi dengan pemerintah daerah, penyusunan modul pembelajaran, bimbingan teknis bagi guru utama, pengimbasan materi kepada guru dan siswa, hingga pelaksanaan festival secara berjenjang. Dengan alur tersebut, kegiatan tidak hanya berpusat pada penampilan saat perlombaan berlangsung.

Baca Juga : Egrang, Permainan Tradisional yang Menguji Keseimbangan dan Ketekunan

Tiga Bahasa Daerah Jadi Fokus Selebrasi FTBI Jawa Timur

FTBI Jawa Timur 2026 memberi perhatian pada tiga bahasa, yaitu bahasa Jawa, bahasa Madura, dan bahasa Jawa dialek Using.

Ketiganya menjadi bagian dari kekayaan kebahasaan di Jawa Timur yang perlu dikenalkan kepada generasi muda melalui kegiatan pembelajaran dan ekspresi budaya.

Pemilihan tiga bahasa tersebut tidak berarti bahasa lain di Jawa Timur kurang penting. Festival ini berfokus pada bahasa yang menjadi sasaran program revitalisasi di wilayah peserta pada penyelenggaraan tahun ini.

Setiap bahasa memiliki kekhasan dalam kosakata, tuturan, karya sastra, dan tradisi yang berkembang di masyarakat penuturnya.

Bahasa Jawa dialek Using, misalnya, berkaitan dengan kehidupan masyarakat penutur Using, terutama di Banyuwangi.

Sementara itu, bahasa Madura digunakan dalam berbagai lingkungan sosial masyarakat Madura dan wilayah lain tempat penuturnya tinggal.

Bahasa Jawa juga memiliki ragam tuturan dan tradisi yang beragam sesuai konteks sosial serta wilayah pemakaiannya.

Melalui pembelajaran yang terarah, siswa dapat mengenali bahasa tersebut bukan sebagai materi hafalan semata, melainkan sebagai sarana untuk memahami cerita, nilai, dan kebiasaan masyarakat. Upaya ini juga dapat membantu mereka menghargai perbedaan bahasa di lingkungan sekitarnya.

Beragam Lomba Jadi Ruang Ekspresi Bahasa dan Sastra Daerah

FTBI 2026 menghadirkan sejumlah cabang lomba yang menggabungkan keterampilan lisan, tulisan, dan sastra.

Berdasarkan keterangan Balai Bahasa Jawa Timur, lomba secara luring mencakup menulis aksara Jawa, menulis carakan Madura, menulis cerita pendek berbahasa Jawa, serta menulis cerita pendek berbahasa Madura.

Adapun cabang yang dilaksanakan secara daring meliputi membaca puisi, mendongeng, komedi tunggal, pidato, dan menembang.

Bentuk lomba tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan kemampuan melalui cara yang berbeda, mulai dari menyusun cerita hingga menyampaikan gagasan di hadapan pendengar.

Ragam kegiatan itu memperlihatkan bahwa penggunaan bahasa daerah dapat hadir dalam berbagai bentuk ekspresi.

Menulis cerita melatih siswa menyusun gagasan dan mengembangkan kosakata, sedangkan mendongeng serta membaca puisi membantu mereka berlatih pengucapan, intonasi, dan pemahaman isi.

Lomba pidato dan komedi tunggal juga membuka ruang bagi siswa untuk menyampaikan pesan melalui bahasa yang dipelajari.

Sementara itu, menembang menghubungkan penggunaan bahasa dengan tradisi seni. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran bahasa tidak hanya berlangsung melalui buku atau penjelasan guru, tetapi juga lewat pengalaman berkarya dan tampil.

Penyelenggara menegaskan bahwa pelestarian seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Kepala Balai Bahasa Jawa Timur berharap pembelajaran bahasa dapat dijalankan secara nyata, sukarela, dan menyenangkan.

Harapan tersebut penting agar siswa mengikuti kegiatan bukan hanya demi memperoleh penghargaan, melainkan juga karena merasa dekat dengan bahasa dan budaya yang dipelajarinya.

Mengapa Bahasa Daerah Perlu Dikenalkan Sejak Dini?

Pengenalan bahasa ibu sejak masa kanak-kanak dapat membuka kesempatan bagi anak untuk berkomunikasi dengan keluarga dan memahami lingkungan budayanya.

Bahasa juga dapat membawa ungkapan khas, cerita rakyat, peribahasa, serta pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.

Ketika anak mempelajarinya, mereka mendapat kesempatan mengenali cara masyarakat menyampaikan pengalaman dan memaknai kehidupan.

Namun, pengenalan saja belum cukup untuk menjamin bahasa tetap digunakan. Anak perlu memiliki kesempatan untuk mendengar dan mempraktikkannya dalam percakapan sehari-hari.

Jika bahasa hanya muncul dalam pelajaran atau perlombaan, penggunaannya berisiko terbatas pada situasi tertentu.

Keluarga dapat mengambil peran dengan membiasakan percakapan menggunakan bahasa ibu sesuai kemampuan dan kebiasaan masing-masing.

Orang tua tidak harus mengajarkan seluruh kosakata sekaligus. Percakapan sederhana, cerita keluarga, lagu, atau permainan tradisional dapat menjadi pintu masuk yang dekat dengan kehidupan anak.

Sekolah dapat melengkapi upaya tersebut melalui kegiatan membaca cerita, menulis karya, berdialog, dan mengenalkan sastra setempat.

Guru juga perlu memperhatikan perbedaan kemampuan siswa agar pembelajaran berlangsung inklusif. Anak yang belum lancar berbahasa daerah sebaiknya diberi ruang untuk belajar tanpa dipermalukan atau dianggap kurang menghargai budayanya.

Baca Juga : Gobak Sodor Mulai Jarang Dimainkan, Mengapa Permainan Tradisional Ini Tetap Penting?

Pelestarian Bahasa Daerah Membutuhkan Peran Generasi Muda

Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 menunjukkan bagaimana sekolah, guru, pemerintah, dan siswa dapat terlibat dalam upaya revitalisasi.

Meski begitu, keberlanjutan pelestarian tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta atau cabang lomba. Hal yang tidak kalah penting ialah apakah pengalaman tersebut mendorong peserta untuk terus menggunakan bahasa yang dipelajari setelah kegiatan berakhir.

Generasi muda dapat ikut menjaga keberlangsungan bahasa melalui percakapan dengan keluarga, karya tulis, pertunjukan seni, maupun konten digital yang sesuai dengan konteksnya.

Teknologi dapat menjadi sarana memperkenalkan kosakata dan cerita kepada teman sebaya, selama penggunaan bahasa tetap memperhatikan makna serta ketepatan tuturan.

Di sisi lain, tanggung jawab tidak seharusnya dibebankan kepada anak saja. Dukungan guru, orang tua, komunitas budaya, dan pemerintah daerah diperlukan agar tersedia ruang belajar dan praktik yang konsisten.

Dokumentasi cerita lisan, bahan bacaan, serta kegiatan kebahasaan juga dapat membantu memperluas kesempatan belajar.

Pada akhirnya, bahasa daerah akan tetap hidup ketika digunakan dan diwariskan, bukan sekadar dikenang sebagai peninggalan masa lalu.

FTBI dapat menjadi pemantik kebanggaan, sedangkan keberlanjutannya bergantung pada kebiasaan sehari-hari dan dukungan lingkungan.

Dengan langkah yang berkesinambungan, generasi muda dapat mengenal warisan budayanya sekaligus meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Leave a Comment

Related Post