Candi Gentong, Jejak Majapahit yang Menyimpan Misteri Sejarah

Mazaya Farandy

October 22, 2026

6
Min Read
Candi Gentong menyimpan jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

sekitarmalangraya – Candi Gentong menyimpan jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Situs peninggalan arkeologi ini bukan hanya menyisakan struktur bangunan dari bata merah, tetapi juga menyimpan temuan yang berkaitan dengan tradisi Buddha pada masa kerajaan-kerajaan Jawa kuno.

Bentuk bangunannya yang kini tidak lagi utuh justru menghadirkan pertanyaan tentang fungsi, usia, dan kehidupan keagamaan masyarakat pada masa lalu.

Keberadaan dua kompleks bangunan serta penemuan stupika dan fragmen arca Buddha membuat situs ini memiliki nilai penting bagi penelitian sejarah.

Lantas, apa yang membuat Candi Gentong menarik untuk dikunjungi dan bagaimana peninggalan ini membantu kita memahami sejarah Majapahit?

Penelusuran terhadap catatan pelestarian dan penelitian arkeologi dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, sekaligus menunjukkan bahwa tidak semua misteri masa lalu telah terjawab.

Candi Gentong, Situs Bersejarah di Kawasan Trowulan

Candi Gentong terletak di Desa Jambumente, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Lokasinya berada di sebelah timur Candi Brahu, salah satu bangunan bersejarah yang dikenal di kawasan peninggalan Majapahit.

Kawasan Trowulan sendiri menyimpan beragam tinggalan arkeologi yang membantu peneliti mempelajari perkembangan kehidupan politik, sosial, dan keagamaan pada masa Jawa kuno.

Menurut Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, kompleks ini terdiri atas dua bagian, yakni Candi Gentong I di sisi selatan dan Candi Gentong II di sisi utara. Keduanya berada dalam satu garis sumbu, tetapi memiliki susunan struktur yang tidak sepenuhnya sama.

Kompleks tersebut tercatat sebagai bagian dari cagar budaya nasional dengan nama Kompleks Trowulan: Candi Gentong I dan II.

Data resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat penetapannya melalui Surat Keputusan Nomor 177/M/1998 tertanggal 21 Juli 1998.

Status tersebut memperlihatkan bahwa situs ini bukan sekadar tumpukan bata kuno, melainkan warisan arkeologi yang memiliki nilai penting untuk sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan.

Bagi pengunjung yang tertarik pada wisata sejarah, keberadaannya menawarkan kesempatan untuk mengenal peninggalan masa lalu melalui bukti yang masih dapat diteliti.

Baca Juga : Batik Blimbing Malang, Warisan Budaya Lokal yang Menyimpan Identitas Daerah

Asal-usul Nama Candi Gentong dan Sejarah Penemuannya

Nama Candi Gentong berkaitan dengan bentuk gundukan reruntuhan yang terlihat sebelum dilakukan penggalian.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI menjelaskan bahwa masyarakat melihat gundukan besar dengan bagian tengah berlubang menyerupai gentong.

Di sekitar lokasi juga ditemukan fragmen gentong, sehingga nama tersebut kemudian digunakan untuk menyebut situsnya.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa keberadaan bangunan ini telah diketahui sejak masa penelitian arkeologi awal di Trowulan. Peneliti J.W.B. Wardenaar melaporkan tinggalan arkeologi di kawasan tersebut pada 1815.

Sementara itu, R.D.M. Verbeek mencatat keberadaan Candi Gentong dalam tulisannya pada 1890. Penelitian berikutnya dilakukan oleh Knebel pada 1907 dan N.J. Krom pada 1923.

Rangkaian catatan tersebut memperlihatkan bahwa situs ini telah menarik perhatian peneliti selama lebih dari satu abad.

Namun, pencatatan awal tidak berarti seluruh bagian bangunan masih utuh saat ditemukan kembali. Ketika diteliti, Candi Gentong sudah berupa reruntuhan, sehingga para arkeolog perlu membaca bentuk struktur dan temuan material untuk memahami susunan aslinya.

Sejarah penemuan itu juga mengingatkan bahwa nama populer sebuah situs terkadang berasal dari pengamatan masyarakat, bukan dari prasasti yang secara langsung menyebut nama bangunan tersebut.

Temuan Arkeologi Mengungkap Jejak Buddha pada Masa Lampau

Salah satu hal yang membuat Candi Gentong menarik adalah temuan benda-benda yang berkaitan dengan tradisi Buddha.

Dalam kegiatan ekskavasi dan pemugaran yang berlangsung pada 1994/1995 hingga 1996/1997, peneliti menemukan kumpulan stupika, arang, serta dua fragmen arca Buddha.

Temuan tersebut dilaporkan berasal dari kompleks Candi Gentong I. Stupika merupakan stupa berukuran kecil yang memiliki makna dalam tradisi Buddha.

Benda-benda yang ditemukan di situs ini terbuat dari tanah liat dan memuat inskripsi berupa mantra Buddha pada bagian bawahnya. Bentuknya memberikan petunjuk mengenai praktik keagamaan serta penggunaan benda simbolis pada masa lalu.

Penelitian yang diterbitkan dalam buku akademik Buddhist Dynamics in Premodern and Early Modern Southeast Asia oleh Titi Surti Nastiti juga membahas stupika dan segel Buddha dari Candi Gentong.

Kajian tersebut memperlihatkan bahwa benda-benda itu dapat diteliti melalui bentuk, inskripsi, dan perbandingannya dengan temuan dari situs lain.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI turut mencatat hasil penanggalan karbon terhadap arang dari lokasi tersebut, yakni 1470 ± 100 M. Hasil itu ditafsirkan dalam laporan sebagai petunjuk yang menghubungkan situs dengan periode pemerintahan Hayam Wuruk.

Meski demikian, penanggalan material arang tidak selalu identik dengan waktu pembangunan seluruh struktur atau pembuatan setiap artefak. Karena itu, penentuan usia situs perlu dibaca berdasarkan konteks temuan dan penelitian yang tersedia.

Keunikan Struktur Candi Gentong dari Bata Merah

Selain artefaknya, struktur bangunan Candi Gentong memperlihatkan teknik konstruksi yang menarik untuk dipelajari.

Menurut catatan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, bangunan ini menggunakan bata merah yang disusun melalui teknik gosok maupun dengan spesi berbahan tanah liat.

Candi Gentong I memiliki susunan persegi bertingkat yang mengelilingi bagian pusat. Struktur tersebut dilengkapi ruang atau lorong di antara lapisan bangunan.

Sementara itu, Candi Gentong II memiliki struktur utama berbentuk persegi yang dikelilingi beberapa struktur lebih kecil. Bagian bangunannya yang tersisa terutama berupa fondasi dan struktur bawah.

Susunan itu menjadi bahan penting untuk memahami rancangan bangunan suci pada masa lalu. Laporan pelestarian menyebut susunan Candi Gentong I memiliki bentuk mandala stupa.

Istilah tersebut berkaitan dengan pola penataan unsur bangunan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh fungsi ritual yang pernah berlangsung di lokasi tersebut.

Karena sebagian besar bangunan telah runtuh, penafsiran mengenai bentuk utuhnya perlu bertumpu pada pengukuran struktur yang tersisa, hasil ekskavasi, serta perbandingan arkeologis. Dengan cara itu, rekonstruksi sejarah tidak bergantung pada dugaan semata.

Baca Juga : Tradisi Nyewu dalam Budaya Jawa, Makna Doa dan Kebersamaan yang Tetap Terjaga

Mengapa Candi Gentong Penting untuk Dilestarikan?

Candi Gentong memiliki nilai lebih dari sekadar objek kunjungan wisata. Situs ini menyimpan informasi tentang arsitektur bata, artefak keagamaan, serta perkembangan tradisi Buddha di kawasan yang berkaitan dengan sejarah Majapahit.

Temuan tersebut membantu memperkaya pemahaman bahwa kehidupan keagamaan pada masa Jawa kuno memiliki jejak material yang beragam.

Pelestarian juga penting karena struktur bata dan artefak arkeologi dapat mengalami kerusakan akibat cuaca, pertumbuhan tanaman, maupun aktivitas manusia.

Perlindungan kawasan, penelitian yang bertanggung jawab, dan penyampaian informasi yang akurat diperlukan agar peninggalan tersebut tetap dapat dipelajari generasi berikutnya.

Bagi pengunjung, wisata sejarah tidak harus berhenti pada mengambil foto atau melihat bangunan kuno. Membaca informasi situs, mengikuti aturan kunjungan, dan tidak memindahkan benda dari kawasan cagar budaya merupakan cara sederhana untuk ikut menjaga warisan tersebut.

Candi Gentong menunjukkan bahwa reruntuhan pun dapat menyimpan pengetahuan penting. Meski sejumlah pertanyaan mengenai fungsi dan sejarahnya masih memerlukan penelitian, bukti arkeologi yang tersedia sudah memberikan alasan kuat untuk menghargai dan melestarikannya.

Leave a Comment

Related Post