Filosofi Ketupat dan Lepet Pasca Lebaran, Simbol Maaf dalam Tradisi Kupatan

Mazaya Farandy

September 10, 2026

4
Min Read
Hidangan ketupat merupakan simbol kebudayaan dan keagamaan yang sangat melekat dalam perayaan masyarakat Nusantara, terutama saat memasuki momen Syawalan.

sekitarmalangraya – Hidangan ketupat merupakan simbol kebudayaan dan keagamaan yang sangat melekat dalam perayaan masyarakat Nusantara, terutama saat memasuki momen Syawalan.

Tradisi tahunan ini dirayakan tepat seminggu pasca Hari Raya Idulfitri oleh masyarakat Jawa sebagai puncaknya perayaan kemenangan setelah berpuasa.

Kehadiran sajian khas ini tidak sekadar memanjakan lidah, melainkan menyimpan nilai-nilai luhur dan ajaran moral yang diwariskan oleh para leluhur sejak era Walisongo.

Penyajian hidangan khas ini selalu disandingkan dengan lepet, sejenis makanan berbahan dasar beras ketan dan kelapa parut yang dibungkus daun kelapa muda.

Kombinasi kedua kuliner tradisional ini menjadi identitas spiritual yang sarat akan pesan kerendahan hati serta permohonan ampunan antar-sesama manusia.

Melalui simbolisme makanan, masyarakat diajak untuk saling memaafkan segala kekhilafan dan mempererat kembali tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang.

Sejarah Tradisi Kupatan dan Ajaran Walisongo

Penyebaran tradisi perayaan ini tidak terlepas dari peran strategis Sunan Kalijaga dalam mendakwahkan ajaran Islam di Pulau Jawa melalui pendekatan kebudayaan lokal.

Beliau memperkenalkan dua istilah penting dalam perayaan Hari Raya, yaitu bakda lebaran yang dirayakan pada hari pertama Idulfitri serta bakda kupat yang diselenggarakan sepekan setelahnya.

Pendekatan kultural yang harmonis ini terbukti efektif menyatukan nilai-nilai keagamaan dengan kearifan lokal masyarakat setempat.

Sajian ketupat menjadi pusat dari perayaan bakda kupat karena proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang tinggi.

Pada hari perayaan tersebut, warga umumnya saling berkunjung ke rumah kerabat, tetangga, serta tokoh masyarakat untuk menikmati hidangan bersama.

Tradisi ini berhasil menciptakan ruang interaksi sosial yang hangat dan penuh keakraban di tengah kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga : Dihina Pengusaha Sound Horeg, Begini Respons MUI Jatim

Makna Filosofis Ketupat sebagai Pengakuan Kesalahan

Secara etimologi dalam bahasa Jawa, kata ketupat atau kupat merupakan akronim dari frasa ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan.

Nilai filosofis ini mengajarkan setiap orang untuk memiliki keberanian moral dalam mengakui kekhilafan yang pernah dilakukan kepada orang lain.

Bungkusan janur kuning yang melapisi beras di dalamnya melambangkan kesucian hati yang diharapkan dapat dicapai setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan.

Rumitnya anyaman janur pada ketupat mencerminkan keanekaragaman dan kompleksitas jalan hidup manusia yang dipenuhi dengan kesalahan serta rintangan.

Namun ketika bungkusan tersebut dibelah, terlihat bagian dalam berupa nasi putih yang bersih dan padat.

Hal ini menyimbolkan kebersihan hati dan kesucian jiwa seseorang yang telah saling memaafkan secara tulus dan ikhlas.

Lepet sebagai Simbol Pemutus Dendam dan Kesalahan

Pendamping setia sajian ketupat adalah lepet, yang namanya diambil dari akronim frasa silep kang rapat yang bermakna dikubur sampai rapat.

Filosofi mendalam dari lepet ini mengajarkan agar setiap kesalahan dan kekhilafan masa lalu yang telah dimaafkan hendaknya ditutup rapat-rapat.

Masyarakat diajak untuk tidak lagi mengungkit atau menyimpan dendam atas kesalahan orang lain di masa yang akan datang.

Bahan dasar lepet yang terbuat dari beras ketan memiliki sifat lengket setelah dimasak, yang melambangkan eratnya jalinan tali silaturahmi antar-warga.

Tali bambu yang mengikat bungkusan lepet mempertegas simbol kekuatan ikatan persaudaraan agar tidak mudah terlepas oleh perselisihan.

Kehadiran kuliner ini menjadi perlambang utuh dari proses penyucian diri dan penguatan kebersamaan sosial.

Fungsi Sosial dan Kebudayaan di Masyarakat Modern

Di era modern saat ini, perayaan tradisional berbasis sajian ketupat dan lepet tetap menjaga fungsinya sebagai perekat sosial di tengah dinamika masyarakat.

Meskipun pola kehidupan masyarakat telah berubah, urgensi nilai saling memaafkan dan menjaga silaturahmi tetap menjadi kebutuhan spiritual yang utama.

Perayaan ini terbukti mampu melintasi batas status sosial dan ekonomi dalam bingkai kebersamaan yang setara.

Anak-anak muda juga diajak untuk mengenalkan dan melestarikan pembuatan ketupat secara mandiri agar nilai sejarah di dalamnya tidak pudar ditelan zaman.

Antusiasme warga dalam menggelar acara kenduri atau selamatan kupatan di masjid dan balai desa menjadi bukti nyata kuatnya akar kebudayaan Nusantara.

Tradisi ini mengajarkan bahwa kuliner tradisional mampu menjadi media pendidikan karakter yang sangat efektif bagi generasi penerus.

Baca Juga : Daftar Harga BBM Terbaru di Jawa Timur per 10 September 2026, Cek Jenis yang Naik

Nilai Keberlanjutan dalam Tradisi Kupatan

Keberlanjutan perayaan berbasis sajian ketupat ini menunjukkan betapa kuatnya pesan perdamaian yang terkandung dalam warisan budaya leluhur.

Nilai-nilai toleransi, kerendahan hati, serta semangat gotong royong terrefleksikan secara nyata sejak proses persiapan bahan hingga pengolahan makanan bersama.

Tradisi ini menegaskan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta serta hubungan antar-sesama manusia.

Melalui perayaan ini, sajian ketupat dan lepet tidak sekadar menjadi menu makanan pelengkap hari raya, melainkan pilar penting penjaga nilai kemanusiaan.

Keikhlasan untuk saling memaafkan serta komitmen menjaga kerukunan menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.

Setiap butir beras yang diolah menjadi sajian khas ini membawa harapan akan kehidupan yang lebih baik dan penuh keberkahan.

Leave a Comment

Related Post