Festival 28 Bahasa, Cara Unik Mengenalkan Keberagaman Budaya Nusantara

Mazaya Farandy

November 6, 2026

5
Min Read
Festival 28 Bahasa menjadi salah satu cara kreatif untuk memperkenalkan keberagaman bahasa dan budaya Indonesia kepada generasi muda.

sekitarmalangraya – Festival 28 Bahasa menjadi salah satu cara kreatif untuk memperkenalkan keberagaman bahasa dan budaya Indonesia kepada generasi muda.

Melalui kegiatan yang diselenggarakan SMK Bakti Karya Parigi di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, siswa menampilkan kekayaan daerah melalui pertunjukan seni, penggunaan bahasa ibu, pakaian adat, rumah tradisional, hingga makanan khas Nusantara.

Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pelestarian bahasa dapat dilakukan melalui pengalaman bersama, bukan hanya lewat pembelajaran di dalam kelas.

Festival 28 Bahasa ke-9 berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat melaporkan kegiatan tersebut dihadiri sekitar 2.000 pengunjung dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2018, festival ini telah menampilkan sedikitnya 65 bahasa daerah dalam sembilan kali penyelenggaraan.

Angka tersebut merupakan akumulasi dari seluruh penyelenggaraan, bukan jumlah bahasa yang tampil khusus pada edisi 2026. Pembedaan ini penting agar pembaca memperoleh gambaran yang tepat mengenai skala kegiatan.

Lebih dari sekadar perayaan, festival ini menjadi ruang perjumpaan antarsiswa dengan latar belakang budaya berbeda untuk saling mengenal dan menghargai.

Festival 28 Bahasa ke-9 Hadirkan Keberagaman Budaya Nusantara

SMK Bakti Karya Parigi menyelenggarakan Festival 28 Bahasa sebagai ruang untuk memperkenalkan sekaligus merawat kekayaan budaya Indonesia.

Pemilihan 28 Oktober memberi makna tersendiri karena kegiatan berlangsung pada momentum Hari Sumpah Pemuda.

Peringatan tersebut mengingatkan masyarakat bahwa persatuan Indonesia tumbuh di tengah keberagaman identitas, termasuk bahasa daerah.

Menurut laporan Dinas Pendidikan Jawa Barat, Kepala SMK Bakti Karya Parigi, Jujun Junaedi, menyampaikan bahwa festival telah menampilkan sedikitnya 65 bahasa daerah sejak 2018.

Selama sembilan kali pelaksanaan, kegiatan ini berkembang menjadi perayaan yang melibatkan berbagai bentuk ekspresi budaya.

Sekolah tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga memberi kesempatan kepada siswa untuk memperkenalkan tradisi yang mereka kenal dari daerah asal.

Festival 28 Bahasa juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Rangkaian kegiatan merupakan hasil kolaborasi alumni, relawan, siswa, dan guru.

Panitia lapangan turut bekerja sama dengan SMAN 1 Sidamulih, sedangkan Unlocking Nusantara menjadi salah satu mitra kegiatan. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan dukungan CSR PT APN juga disebut dalam laporan penyelenggaraan.

Baca Juga : Bahasa Baku Mulai Terlupakan, Kebiasaan Gen Z di Media Sosial Jadi Sorotan

Pawai Budaya hingga Dongeng Daerah Meriahkan Festival 28 Bahasa

Keberagaman dalam festival ditampilkan melalui berbagai kegiatan yang dapat disaksikan secara langsung. Pawai budaya, tarian daerah, musik, orasi, dan dongeng berbahasa daerah menjadi bagian dari rangkaian acara.

Siswa juga memperkenalkan pakaian adat serta rumah tradisional yang dibuat untuk menggambarkan kekhasan wilayah masing-masing.

Kuliner turut menjadi bagian penting dari pengalaman lintas budaya tersebut. Sekitar 30 jenis makanan khas Nusantara hasil olahan siswa disajikan kepada pengunjung.

Kehadiran makanan tradisional membuat pengenalan budaya tidak hanya berlangsung melalui suara dan pertunjukan, tetapi juga melalui cita rasa dan proses pengolahan yang memiliki cerita tersendiri.

Festival 28 Bahasa memperlihatkan bahwa bahasa dan budaya saling berkaitan. Sebuah dongeng daerah, misalnya, bukan sekadar rangkaian cerita, melainkan juga membawa kosakata, nilai, dan cara pandang masyarakat yang mewariskannya.

Begitu pula musik dan orasi dalam bahasa ibu yang memberi kesempatan kepada penutur muda untuk menggunakan bahasa tersebut di hadapan khalayak.

Dengan bentuk kegiatan yang beragam, pengunjung dapat mengenal budaya melalui pengalaman langsung. Namun, pertunjukan dalam satu hari tentu bukan pengganti proses belajar yang berkelanjutan.

Festival justru dapat menjadi pintu masuk agar masyarakat tertarik mempelajari lebih jauh bahasa, tradisi, dan sejarah daerah yang diperkenalkan.

Festival 28 Bahasa Menjadi Media Pembelajaran Multikultural bagi Siswa

Nilai pendidikan dari kegiatan ini terletak pada proses yang dijalani siswa, bukan hanya penampilan pada hari pelaksanaan.

Mereka perlu mencari informasi mengenai budaya, menyiapkan materi, berlatih, bekerja sama, dan membagi tanggung jawab.

Proses tersebut memberi kesempatan untuk belajar menghargai tradisi sendiri sekaligus memahami kebudayaan teman dari daerah lain.

Pendekatan itu sejalan dengan penjelasan Kemendikdasmen melalui program Cerdas Berkarakter mengenai praktik Festival 28 Bahasa di SMK Bakti Karya Parigi.

Dalam praktik pembelajaran yang dijelaskan, kegiatan festival diintegrasikan ke dalam kurikulum sejak 2021.

Tahapannya mencakup diseminasi pengetahuan, latihan dan persiapan, pelaksanaan, serta evaluasi. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi menjadi bagian dari proses belajar.

Lingkungan sekolah yang mempertemukan siswa dari beragam latar belakang juga memberi ruang bagi pembelajaran multikultural.

Siswa dapat mengenali perbedaan melalui interaksi sehari-hari, kemudian mengujinya melalui kerja bersama dalam festival.

Pengalaman semacam ini berpotensi menumbuhkan keterampilan komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, dan sikap terbuka.

Festival 28 Bahasa juga memperlihatkan bahwa pendidikan budaya tidak harus selalu disampaikan melalui hafalan nama daerah atau pakaian adat.

Siswa dapat belajar dengan membuat karya, menceritakan tradisi, dan mendengarkan penjelasan teman. Meski begitu, informasi budaya tetap perlu disampaikan secara cermat agar tidak menimbulkan stereotip atau menyederhanakan tradisi suatu kelompok.

Baca Juga : Bahasa Indonesia Dipelajari Generasi Muda Rusia, Bukti Bahasa Nusantara Mendunia

Pelestarian Bahasa Daerah Perlu Dilakukan melalui Kegiatan Kreatif

Bahasa daerah merupakan bagian dari identitas masyarakat dan menyimpan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.

Di dalamnya terdapat ungkapan, cerita, istilah lokal, serta cara masyarakat memahami lingkungan. Ketika bahasa semakin jarang digunakan, sebagian pengetahuan yang melekat di dalamnya juga berisiko tidak tersampaikan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, Festival 28 Bahasa dapat menjadi contoh pendekatan kreatif untuk mendekatkan bahasa daerah kepada anak muda.

Penggunaan bahasa ibu dalam dongeng, musik, orasi, maupun percakapan memberi ruang bagi siswa untuk mempraktikkannya dalam konteks yang bermakna.

Kegiatan seperti ini juga dapat memperkuat rasa bangga terhadap asal-usul tanpa menempatkan satu bahasa lebih tinggi daripada bahasa lainnya.

Meski demikian, pelestarian tidak cukup dilakukan setahun sekali. Keluarga dapat membiasakan percakapan menggunakan bahasa daerah, sekolah bisa menyediakan ruang untuk karya dan cerita lokal, sedangkan komunitas dapat mendokumentasikan kosakata maupun tradisi lisan.

Upaya tersebut perlu dilakukan dengan menghormati pilihan bahasa setiap orang, termasuk masyarakat yang tumbuh dalam lingkungan multibahasa.

Festival 28 Bahasa pada akhirnya mengingatkan bahwa keberagaman bukan sekadar sesuatu yang dipamerkan, melainkan perlu dipahami dan dirawat melalui kebiasaan sehari-hari.

Pertunjukan budaya dapat menarik perhatian, tetapi keberlanjutan bahasa bergantung pada kesempatan untuk terus digunakan dan diwariskan.

Ketika generasi muda mau mendengar, mempelajari, dan memakai bahasa daerah, kekayaan budaya Nusantara memiliki peluang lebih besar untuk tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Leave a Comment

Related Post