sekitarmalangraya – Turonggo Yakso merupakan kesenian jaranan khas Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang menyimpan kisah tentang kehidupan masyarakat agraris, rasa syukur, dan perjuangan mengendalikan sifat buruk.
Tarian ini tidak hanya menampilkan gerak dinamis dengan properti kuda berwajah raksasa, tetapi juga membawa nilai budaya yang diwariskan melalui pertunjukan dan pembelajaran antargenerasi.
Karena itu, memahami kesenian ini tidak cukup hanya dengan melihat bentuk kostum atau gerakan penarinya. Latar kehidupan, cerita yang dibawakan, serta nilai yang ditafsirkan masyarakat juga menjadi bagian penting dari warisan tersebut.
Mengenal Turonggo Yakso, Kesenian Khas Kabupaten Trenggalek
Turonggo Yakso dikenal sebagai salah satu kesenian tradisional yang menjadi identitas budaya Trenggalek. Ciri visualnya mudah dikenali melalui properti jaranan berbentuk tubuh kuda dengan wajah menyerupai raksasa.
Bentuk itu berbeda dari gambaran kuda pada sejumlah kesenian jaranan lain dan berkaitan dengan tokoh dalam cerita yang melatarbelakanginya.
Dalam penjelasan yang disampaikan melalui pemberitaan ANTARA, “turonggo” berarti kuda, sedangkan “yakso” dimaknai sebagai buto atau raksasa.
Perpaduan bentuk tersebut menjadi unsur penting dalam penyajian tari. Penari menggerakkan properti jaranan mengikuti irama musik, membangun suasana pertunjukan yang dinamis sekaligus menyampaikan kisah melalui gerak.
Profil Desa Wisata Bumi Turonggo Yakso mencatat penggunaan instrumen seperti kendang, slompret, kethuk, kenong, gong, angklung, kentongan, simbal, dan jedhor. Perpaduan musik tradisional dengan gerakan penari membantu membentuk karakter pertunjukan.
Keunikan kesenian ini bukan semata-mata terletak pada rupa properti yang menyerupai makhluk raksasa. Bentuk visual itu terkait dengan cerita tentang pertarungan antara watak angkara murka dan sosok kesatria yang mampu mengendalikannya. Unsur cerita inilah yang membuat tarian tersebut memiliki lapisan makna di luar fungsi hiburan.
Baca Juga : Egrang, Permainan Tradisional yang Menguji Keseimbangan dan Ketekunan
Asal-Usul Turonggo Yakso dari Tradisi Baritan
Menurut tulisan sejarah yang dimuat di situs resmi Desa Dongko, kesenian ini berakar pada upacara adat Baritan yang hidup dalam masyarakat agraris setempat.
Tradisi tersebut diselenggarakan sebagai bentuk komunikasi spiritual dan ungkapan syukur kepada Tuhan.
Pelaksanaannya berkaitan dengan kehidupan petani, termasuk harapan agar ternak terhindar dari penyakit dan sawah ladang terlindungi dari gangguan.
Sumber Desa Dongko menyebut Baritan berlangsung pada bulan Sura atau Muharam, dengan hari dan tanggal yang ditentukan oleh sesepuh adat.
Para petani yang memelihara ternak membawa perlengkapan upacara, termasuk ambeng, longkong, serta tali dari bambu yang disebut dadung.
Rangkaian itu menunjukkan hubungan erat antara adat, pertanian, peternakan, dan keyakinan masyarakat pada masa tersebut.
Dalam catatan yang sama, setelah upacara Baritan, masyarakat mengadakan pertunjukan hiburan. Ketika kebiasaan lama mulai ditinggalkan, pada 1971 penilik kebudayaan Sutyono bersama seniman Desa Dongko berupaya menghadirkan bentuk kesenian yang dapat menarik kembali partisipasi masyarakat.
Jaranan dipilih sebagai pengganti hiburan langen tayub dalam rangkaian yang berkaitan dengan Baritan, lalu unsur estetikanya dikembangkan menjadi tari Turonggo Yakso.
Pada dekade 1980-an, kesenian ini berkembang di Dongko dan kemudian meluas ke berbagai kelompok di luar daerah asalnya.
Perjalanan tersebut memperlihatkan upaya masyarakat mempertahankan warisan lokal sekaligus mengembangkannya sebagai seni pertunjukan.
Makna Filosofis di Balik Gerakan dan Cerita Turonggo Yakso
Profil Desa Wisata Bumi Turonggo Yakso menjelaskan cerita tentang Dadung Awuk, sosok raja siluman yang digambarkan memiliki watak angkara murka dan mengganggu ketenteraman warga.
Penunggang kuda dalam tarian melambangkan kesatria yang mampu menaklukkan serta mengendalikan watak tersebut.
Tafsir ini menempatkan pertunjukan sebagai gambaran pertarungan antara sifat buruk dan keberanian untuk mengarahkannya.
Pesan tersebut dapat dibaca sebagai ajakan untuk mengendalikan nafsu dan perilaku yang merugikan. Kekuatan tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mengalahkan pihak lain, tetapi juga sebagai kecakapan mengendalikan diri. Tafsir ini merujuk pada penjelasan filosofis yang dicatat dalam profil desa wisata.
Cerita tarian ini juga berkaitan dengan kehidupan pertanian. ANTARA mengutip keterangan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek bahwa tokoh Dadung Awuk dikaitkan dengan penjagaan pertanian dan hewan peliharaan.
Dalam cerita pementasan, tokoh jahat disimbolkan melalui celeng dan barongan, sementara konflik berakhir dengan kemenangan pihak yang benar.
Hubungan itu mencerminkan kekhawatiran masyarakat agraris terhadap hama tanaman dan ancaman bagi ternak.
Gerakan tari dapat menggambarkan perjuangan melawan perusak tanaman, sekaligus suasana gembira ketika hasil pertanian dan ternak berada dalam keadaan baik.
Dengan demikian, kisahnya tidak hanya berkutat pada pertarungan tokoh, tetapi juga menyimpan harapan atas keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Penelitian Restu Hendriyani Magh’firoh dalam Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya edisi 2024 turut mengulas nilai spiritual, hiburan, pendidikan, rasa syukur, gotong royong, dan kesabaran dalam kesenian ini.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif serta kajian pustaka dan observasi. Hasilnya memperlihatkan bahwa makna tarian dapat dipahami melalui hubungan antara simbol pertunjukan dan falsafah hidup masyarakat Jawa.
Peran Turonggo Yakso dalam Identitas Budaya Trenggalek
Kesenian tradisional berperan sebagai penanda identitas daerah karena membawa cerita, bunyi, gerak, dan kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat.
Kesenian ini menjadi salah satu representasi budaya Trenggalek yang dapat diperkenalkan kepada penonton di luar wilayah asalnya.
Pada November 2022, Pemerintah Kabupaten Trenggalek menampilkan kesenian ini di Taman Mini Indonesia Indah sebagai bagian dari promosi seni budaya dan potensi pariwisata daerah.
Pementasan di ruang publik yang lebih luas memberi kesempatan kepada masyarakat dari berbagai daerah untuk mengenal tradisi Dongko.
Namun, promosi tidak semestinya hanya menonjolkan pertunjukan sebagai tontonan. Penjelasan mengenai asal-usul Baritan, simbol dalam cerita, serta konteks kehidupan petani dapat membantu penonton memahami mengapa kesenian ini bermakna bagi masyarakat pendukungnya.
Identitas budaya juga tidak berarti bentuk kesenian harus berhenti berkembang. Catatan Desa Dongko menyebut ragam gerak baru muncul dalam penyajian kelompok-kelompok jaranan seiring perkembangannya.
Perubahan dapat menjadi bagian dari dinamika seni, selama pelaku dan masyarakat tetap memberi perhatian pada sejarah serta nilai yang menjadi landasannya.
Baca Juga : Bahasa Daerah Terancam Luntur, Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 Jadi Upaya Pelestarian
Pelestarian Turonggo Yakso melalui Edukasi dan Wisata Budaya
Pelestarian kesenian ini dapat dilakukan melalui latihan rutin, pertunjukan, dokumentasi, dan pengenalan kepada generasi muda.
Salah satu contoh yang tercatat ialah Desa Wisata Bumi Turonggo Yakso di Desa Dongko, Kecamatan Dongko.
Profil pada platform Jadesta milik Kementerian Pariwisata mencantumkan kegiatan belajar tari Turonggo Yakso sebagai bagian dari atraksi wisata budaya.
Kegiatan pembelajaran memberi kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal kesenian melalui pengalaman langsung, bukan hanya menyaksikan pentas.
Sanggar serta kelompok seni juga berperan dalam meneruskan keterampilan dan pengetahuan dari pelaku yang lebih berpengalaman.
Meski demikian, pelestarian tidak dapat dibebankan hanya kepada penari atau pengelola wisata. Dukungan masyarakat, sekolah, pemerintah daerah, peneliti, dan media diperlukan untuk menjaga dokumentasi serta membuka ruang pertunjukan yang berkelanjutan.
Informasi yang disampaikan kepada publik sebaiknya bersumber dari pelaku budaya dan lembaga tepercaya agar cerita tidak berubah menjadi klaim yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Warisan ini memperlihatkan bagaimana kesenian dapat menyatukan sejarah lokal, keyakinan, pengalaman agraris, dan pesan moral.
Memahami latarnya membantu masyarakat menghargai tarian ini lebih dari sekadar hiburan. Dengan pembelajaran dan pementasan yang disertai penjelasan konteks, warisan budaya Trenggalek tersebut berpeluang terus dikenal tanpa kehilangan hubungan dengan akar tradisinya.









Leave a Comment