sekitarmalangraya – Jayanti Renggo Fest #2 menjadi salah satu upaya masyarakat Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, untuk menjaga keberlanjutan kesenian dan tradisi lokal.
Festival yang dijadwalkan berlangsung pada 19–21 November 2026 ini menghadirkan pertunjukan seni, tarian tradisional, serta perlombaan yang melibatkan masyarakat.
Kegiatan tersebut memberi ruang bagi budaya setempat untuk ditampilkan sekaligus dikenalkan kepada generasi muda.
Mengusung tema “Mengenang Kejayaan Candirenggo, Menghidupkan Ekonomi Rakyat”, acara ini digagas Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) bersama Karang Taruna Candirenggo.
Rangkaian kegiatan akan berlangsung mulai pelataran Arca Dwarapala hingga Jalan Kartanegara Barat. Selain agenda budaya, panitia juga menyiapkan bazar dan pameran produk usaha lokal.
Kehadiran Jayanti Renggo Fest #2 menjadi menarik karena pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial.
Warga diberi kesempatan untuk terlibat, menyaksikan pertunjukan, mengikuti perlombaan, dan mengenal kembali kesenian yang tumbuh di lingkungan mereka.
Keterlibatan semacam ini dapat menjadi salah satu cara menjaga tradisi agar tetap hadir dalam kehidupan masyarakat.
Jayanti Renggo Fest #2 Hadirkan Ruang Pelestarian Budaya Singosari
Jayanti Renggo Fest #2 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, yakni 19 sampai 21 November 2026. Penyelenggaraannya melibatkan unsur masyarakat kelurahan, terutama LPMK dan Karang Taruna Candirenggo.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan peran organisasi lokal dalam menginisiasi kegiatan yang mengangkat identitas wilayah sekaligus membuka ruang partisipasi warga.
Ketua panitia, Kusria Arifino, menyampaikan bahwa festival tersebut tidak sekadar menjadi acara hiburan. Dalam keterangannya kepada media, ia menyebut kegiatan ini sebagai momentum untuk merawat tradisi, mempererat kebersamaan, dan menggerakkan potensi masyarakat melalui UMKM lokal.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penyelenggara ingin menghubungkan pelestarian budaya dengan kehidupan sosial dan ekonomi warga.
Tema yang diangkat juga menempatkan sejarah Candirenggo sebagai bagian penting dari identitas masyarakat. Meski demikian, upaya mengenang masa lalu tidak harus berhenti pada cerita kejayaan kerajaan.
Festival dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan ekspresi budaya yang masih hidup, memberi kesempatan kepada pelaku seni, dan mengajak warga ikut menjaga warisan lokal.
Dalam konteks itu, Jayanti Renggo Fest #2 memiliki fungsi lebih luas daripada agenda hiburan. Kegiatan yang melibatkan masyarakat berpotensi mempertemukan generasi yang masih mengenal tradisi dengan anak-anak yang sedang belajar memahami kesenian daerah.
Interaksi tersebut penting agar pengetahuan budaya tidak hanya tersimpan dalam cerita, tetapi juga dialami melalui kegiatan bersama.
Baca Juga : Festival 28 Bahasa, Cara Unik Mengenalkan Keberagaman Budaya Nusantara
Kesenian Lokal dan Topeng Malangan Meriahkan Festival
Sejumlah agenda kesenian disiapkan untuk mengisi festival, termasuk pertunjukan seni dan tarian tradisional dari warga Singosari.
Panitia juga menjadwalkan lomba mewarnai topeng Malangan, lomba menggambar, serta lomba musik. Rangkaian tersebut menghadirkan bentuk partisipasi yang beragam, mulai dari menyaksikan pertunjukan hingga terlibat langsung dalam kegiatan kreatif.
Topeng Malangan menjadi salah satu unsur budaya yang mendapat ruang pengenalan melalui perlombaan mewarnai.
Kegiatan ini dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal bentuk, ragam visual, dan keberadaan seni topeng yang berkembang di Malang.
Namun, lomba mewarnai tentu berbeda dari pertunjukan tari topeng. Keduanya dapat saling melengkapi dalam memperkenalkan kekayaan seni kepada masyarakat.
Melalui agenda tersebut, Jayanti Renggo Fest #2 tidak hanya menyasar penonton dewasa, tetapi juga memberi ruang bagi anak-anak dan generasi muda.
Lomba menggambar dan musik memungkinkan peserta mengekspresikan kreativitas, sedangkan pertunjukan seni memberi kesempatan kepada warga untuk melihat kesenian lokal secara langsung.
Pengenalan budaya kepada generasi muda membutuhkan pengalaman yang dekat dengan keseharian mereka.
Kegiatan kreatif dapat membantu membuat tradisi terasa lebih mudah dijangkau, tanpa menghilangkan nilai dan konteks asalnya.
Karena itu, festival masyarakat dapat menjadi salah satu sarana pendukung pendidikan budaya di luar ruang kelas.
Menghidupkan Kembali Identitas Budaya Candirenggo
Singosari memiliki jejak sejarah yang kuat, salah satunya tercermin melalui keberadaan Candi Singosari dan Arca Dwarapala.
Pemerintah Kabupaten Malang menjelaskan bahwa Candi Singosari merupakan peninggalan bercorak Hindu-Buddha yang berkaitan dengan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari. Sementara itu, Arca Dwarapala dikenal sebagai patung penjaga atau pengawal gerbang.
Latar sejarah tersebut memberi konteks bagi kegiatan budaya di Candirenggo. Meski festival tidak dapat menggantikan pembelajaran sejarah secara mendalam, kegiatan publik dapat menjadi pemantik rasa ingin tahu masyarakat terhadap peninggalan di sekitar tempat tinggalnya.
Warga dapat mengenali bahwa identitas daerah terbentuk dari hubungan antara sejarah, tradisi, karya seni, dan kehidupan sosial yang terus berkembang.
Jayanti Renggo Fest #2 juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Penyelenggara dapat menyediakan ruang dan jadwal, tetapi keberlanjutan kesenian bergantung pada partisipasi pelaku seni, komunitas, keluarga, sekolah, serta masyarakat yang bersedia mengenalkan dan mempraktikkannya.
Tantangan pelestarian bukan hanya menjaga agar pertunjukan tetap digelar. Pengetahuan tentang makna, teknik, dan latar kesenian juga perlu diteruskan.
Oleh sebab itu, ruang pertemuan antara seniman dan generasi muda menjadi penting agar tradisi tidak sekadar menjadi tontonan sesaat.
Festival dapat membuka kesempatan untuk membangun ketertarikan, yang kemudian dilanjutkan melalui latihan, komunitas, atau kegiatan budaya lainnya.
Baca Juga : Bahasa Baku Mulai Terlupakan, Kebiasaan Gen Z di Media Sosial Jadi Sorotan
Jayanti Renggo Fest Menjadi Bagian dari Singhasari Jayanti Festival 2026
Jayanti Renggo Fest #2 merupakan bagian dari rangkaian Singhasari Jayanti Festival 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Malang.
Namun, kedua kegiatan tersebut memiliki lokasi penyelenggaraan yang perlu dibedakan. Rangkaian Jayanti Renggo Fest berlangsung di kawasan Candirenggo, sedangkan agenda utama Singhasari Jayanti Festival dijadwalkan pada 21 November 2026 di pelataran Candi Singosari.
Pemerintah Kabupaten Malang sebelumnya juga menggelar Singhasari Jayanti Festival pada 2025 sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan Kerajaan Singhasari.
Dalam dokumentasi resminya, festival tersebut menampilkan sendratari yang mengangkat perjalanan sejarah kerajaan dan melibatkan sanggar seni dari sejumlah wilayah di Kabupaten Malang.
Pengalaman tahun sebelumnya menjadi konteks bahwa seni pertunjukan dapat digunakan untuk mengenalkan sejarah kepada publik.
Untuk edisi 2026, pemberitaan mengenai agenda utama menyebut rencana pertunjukan musik dan sendratari di kawasan candi.
Informasi tersebut merupakan rangkaian tersendiri dan tidak boleh disamakan dengan seluruh agenda Jayanti Renggo Fest #2 di Candirenggo.
Kedua kegiatan itu memperlihatkan adanya ruang kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam memperkenalkan kekayaan budaya Singosari.
Jayanti Renggo Fest #2 berangkat dari inisiatif organisasi masyarakat kelurahan, sementara festival di kawasan candi menjadi agenda pemerintah daerah. Keduanya dapat saling melengkapi dalam memperluas perhatian terhadap sejarah dan kesenian lokal.
Pada akhirnya, keberhasilan pelestarian budaya tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung selama acara. Hal yang lebih penting ialah tumbuhnya ketertarikan untuk mengenal, menghargai, dan meneruskan kesenian daerah setelah festival selesai.
Melalui partisipasi warga dan ruang tampil bagi pelaku seni, Jayanti Renggo Fest #2 diharapkan menjadi salah satu penggerak kehidupan budaya di Candirenggo dan Singosari.









Leave a Comment