sekitarmalangraya – Pasar rakyat di Kota Malang bersiap mendapat wajah baru yang lebih menarik bagi wisatawan maupun warga sekitar.
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tengah menyiapkan rencana besar untuk mengubah wajah empat pasar rakyat menjadi destinasi wisata kuliner baru.
Rencana ini disambut DPRD Kota Malang dengan sejumlah catatan, khususnya terkait keberpihakan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sudah lama berjualan di pasar-pasar tersebut.
Empat pasar yang masuk dalam wacana tersebut meliputi Pasar Bunul, Sawojajar, Bareng, dan Sukun.
Keempatnya direncanakan memiliki daya tarik tambahan melalui pengembangan konsep pasar wisata kuliner, yang diharapkan mampu menjangkau konsumen lebih luas tanpa menghilangkan karakter dan keaslian pasar tradisional yang sudah melekat sejak lama di masing-masing lokasi.
DPRD Minta Konsep Berbasis Kebutuhan UMKM
Anggota Komisi B DPRD Kota Malang, Muhammad Dwicky Salsabil Fauza, menegaskan bahwa transformasi pasar menjadi destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan penataan fisik dan penambahan fasilitas semata.
“Pasar wisata kuliner tidak cukup hanya mengandalkan penataan fisik dan penambahan fasilitas. Pemerintah perlu memastikan konsep yang diterapkan benar-benar menjawab kebutuhan pedagang sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung,” ujar Dwicky.
Ia mengingatkan, keterlibatan UMKM menjadi salah satu aspek penting dalam perencanaan.
Para pedagang perlu diberi ruang untuk menyampaikan kebutuhan mereka, mulai dari fasilitas berjualan, penataan lapak, akses pengunjung, hingga skema pengelolaan kawasan ke depan.
“Kami tidak berharap jika pasar rakyat yang telah dipermak menjadi pasar wisata itu hanya diisi oleh merek atau produk-produk yang sebenarnya bermodal besar. Bukan bermaksud membedakan, namun semangat untuk membawa UMKM menjadi berkelas, harus bisa diwujudkan dalam rencana tersebut,” tuturnya.
Baca Juga: Trans Jatim Siapkan Tradisi di Malang Raya, Kirim Paket Bisa Sampai Rumah
Dwicky menambahkan, pemerintah kota perlu memfasilitasi pelaku UMKM dalam berbagai aspek, salah satunya tempat berjualan yang ekonomis, mengingat harga sewa untuk berniaga di Kota Malang kini semakin tinggi.
Ia berharap pengembangan pasar wisata justru memunculkan wajah UMKM yang selama ini kurang mendapat eksposur, namun memiliki potensi besar jika diberi ruang dan tempat yang layak.
Menurutnya, perencanaan yang seragam untuk keempat pasar berisiko membuat pengembangan tidak sesuai dengan aktivitas ekonomi yang sudah berjalan di masing-masing lokasi.
Karena itu, konsep wisata kuliner perlu disusun berdasarkan potensi lokal dan kebutuhan pedagang di setiap pasar, bukan dipukul rata.
“Tentu yang kita bidik adalah perputaran ekonomi di tingkat bawah. Bagaimana UMKM bisa mendapat trafik dari wisatawan yang datang ke Malang, dan domino efeknya juga nanti wisatawan akan lebih banyak berbelanja di Kota Malang, ekonomi pariwisatanya meningkat,” kata Dwicky.
Salah satu pasar yang telah lebih dulu memasuki tahap persiapan adalah Pasar Sawojajar.
Pemkot Malang sebelumnya menggandeng pihak swasta untuk melakukan branding ulang Pasar Sawojajar menjadi pasar kuliner modern, dilengkapi dengan digitalisasi sistem, troli belanja, serta ruang baru yang disiapkan untuk menampung sekitar 30 UMKM lokal.
Dwicky menegaskan, peningkatan jumlah pengunjung akibat transformasi pasar menjadi destinasi wisata juga perlu diikuti dengan pengelolaan yang memadai.
Persoalan kebersihan, parkir, aksesibilitas, dan kenyamanan bertransaksi harus menjadi bagian dari perencanaan, agar aktivitas wisata tidak justru mengganggu kegiatan perdagangan yang sudah berjalan.
Ia juga mengingatkan agar penataan kawasan pasar semestinya membuka peluang usaha baru, bukan menambah beban biaya atau menggeser pelaku usaha kecil dari ruang ekonomi yang selama ini mereka tempati.
Keberhasilan program ini, menurut Dwicky, nantinya tidak cukup diukur dari perubahan tampilan fisik pasar atau banyaknya jumlah pengunjung semata.
Peningkatan omzet pedagang, bertambahnya kesempatan usaha, serta keberlanjutan UMKM perlu menjadi indikator utama dalam mengevaluasi keberhasilan program transformasi pasar rakyat menjadi destinasi wisata kuliner ini.
Baca Juga: Belajar IPA Tidak Harus Menghafal, Bagaimana Eksperimen Membantu Siswa Memahami Sains?
Dengan demikian, rencana pengembangan empat pasar rakyat tersebut membutuhkan perencanaan yang matang sejak awal, dengan aspirasi pedagang dan pemetaan kebutuhan UMKM sebagai pijakan penting sebelum pemerintah menentukan bentuk penataan maupun skema pengelolaannya.









Leave a Comment