Modifikasi Cuaca Waduk Sutami Dimulai, Upaya Antisipasi Kekeringan di Jawa Timur

Mazaya Farandy

October 21, 2026

6
Min Read
Waduk Sutami menjadi salah satu wilayah yang diperhatikan dalam upaya menjaga ketersediaan air di Jawa Timur menjelang risiko kekeringan.

sekitarmalangraya – Waduk Sutami menjadi salah satu wilayah yang diperhatikan dalam upaya menjaga ketersediaan air di Jawa Timur menjelang risiko kekeringan.

Perum Jasa Tirta I (PJT I) memulai operasi modifikasi cuaca pada 15 Oktober 2026 untuk mengoptimalkan potensi hujan dan memperkuat cadangan air waduk di wilayah Sungai Brantas.

Langkah ini dilakukan ketika prakiraan curah hujan masih rendah, sehingga pasokan air yang masuk ke waduk berpotensi berkurang.

Operasi tersebut melibatkan sejumlah instansi, termasuk BMKG, Kementerian Pekerjaan Umum, TNI Angkatan Udara, dan PT PLN Nusantara Power.

Pelaksanaannya diharapkan membantu menjaga ketersediaan air untuk irigasi pertanian dan pembangkitan listrik.

Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan hasil pemantauan selama operasi berlangsung.

Modifikasi Cuaca Waduk Sutami Dimulai pada Oktober 2026

PJT I mengumumkan dimulainya operasi modifikasi cuaca di Daerah Tangkapan Air (DTA) Sutami pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, kegiatan tersebut direncanakan berlangsung selama 15 hari terbang.

Artinya, durasi yang diumumkan mengacu pada pelaksanaan penerbangan operasi, bukan berarti kegiatan dipastikan berlangsung setiap hari tanpa jeda.

Operasi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat cadangan air di wilayah Sungai Brantas. Selain Waduk Sutami, sasaran pengelolaan aliran masuk air mencakup waduk kaskade Sengguruh, Sutami-Lahor, dan Wlingi.

Waduk-waduk tersebut memiliki peran dalam mendukung pemanfaatan sumber daya air untuk berbagai kebutuhan.

Kepala Divisi Jasa ASA Wilayah Sungai Brantas PJT I, Adi Bowo Kusumo, menjelaskan bahwa operasi dilakukan untuk mengoptimalkan potensi hujan agar aliran masuk ke waduk dapat bertambah. Informasi tersebut disampaikan melalui rilis resmi PJT I pada 15 Oktober 2026. (Perum Jasa Tirta I)

Penempatan pos komando operasi berada di Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, Malang. Lokasi ini digunakan sebagai pusat koordinasi operasional sekaligus pemantauan kondisi meteorologi.

Keterlibatan berbagai instansi diperlukan agar pelaksanaan penerbangan, analisis cuaca, dan pengelolaan sumber daya air dapat berjalan secara terkoordinasi.

Meski demikian, operasi ini tidak berarti hujan dapat dipastikan turun sesuai target. Tujuan utamanya adalah mengoptimalkan peluang hujan berdasarkan kondisi atmosfer yang memenuhi persyaratan meteorologis.

Baca Juga : Mencari Jasa Konstruksi? Kenali Kriteria Penyedia Layanan yang Terpercaya

Curah Hujan Rendah Jadi Alasan Operasi Dilakukan

Latar belakang pelaksanaan modifikasi cuaca Waduk Sutami berkaitan dengan prakiraan curah hujan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Berdasarkan analisis BMKG yang dikutip PJT I, curah hujan di wilayah tersebut pada Oktober 2026 diprakirakan berkisar 0–50 milimeter per bulan, dengan sifat hujan dominan di bawah normal.

Kondisi itu berpotensi mengurangi aliran masuk atau inflow ke waduk. Jika air yang masuk berkurang, pengelola perlu memperhatikan ketersediaan tampungan agar kebutuhan air tetap dapat dilayani secara terukur.

Risiko tersebut menjadi perhatian karena Waduk Sutami berperan dalam mendukung irigasi pertanian dan pembangkitan listrik di Jawa Timur.

Dalam laporan ANTARA Jawa Timur pada 16 Oktober 2026, PJT I menyampaikan bahwa operasi ditujukan untuk memperkuat cadangan air sekaligus mengantisipasi risiko kekeringan. Upaya ini juga berkaitan dengan keberlanjutan layanan air bagi masyarakat. (ANTARA Jawa Timur)

Meski demikian, prakiraan curah hujan rendah tidak berarti seluruh wilayah Jawa Timur mengalami kekeringan dengan tingkat yang sama.

Kondisi setiap daerah dapat berbeda, bergantung pada hujan yang benar-benar turun, karakteristik daerah tangkapan air, dan kebutuhan pemanfaatan air.

Karena itu, operasi modifikasi cuaca perlu dipahami sebagai langkah antisipatif, bukan bukti bahwa seluruh cadangan air sudah berada pada kondisi kritis.

Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui perkembangan situasi dan menentukan langkah pengelolaan berikutnya.

Bagaimana Penyemaian Awan Dilakukan untuk Menambah Hujan?

Operasi modifikasi cuaca atau OMC dilakukan melalui teknik penyemaian awan atau cloud seeding. Dalam operasi di DTA Sutami, bahan yang digunakan adalah natrium klorida (NaCl), berupa serbuk garam halus.

PJT I menyebut jumlah awal bahan semai mencapai 3.200 kilogram dan akan ditambah secara bertahap sesuai kebutuhan operasi.

Penyemaian bukan proses menciptakan awan dari langit cerah. Teknik ini memanfaatkan awan yang sudah terbentuk dan memenuhi kriteria meteorologis.

Bahan semai dimasukkan ke dalam sistem awan untuk membantu proses fisik pembentukan butiran hujan, dengan harapan meningkatkan peluang terjadinya hujan yang dapat menambah aliran air di wilayah sasaran.

BMKG menjelaskan bahwa pelaksanaan modifikasi cuaca membutuhkan analisis atmosfer, termasuk pengamatan kondisi dan pergerakan awan.

Tanpa awan yang memenuhi persyaratan, penyemaian tidak dapat dilakukan secara efektif. Karena itu, waktu dan lokasi operasi perlu disesuaikan dengan hasil analisis meteorologi. (BMKG)

Dalam konteks Waduk Sutami, sasaran operasi adalah mengoptimalkan potensi hujan di wilayah hulu Sungai Brantas.

Air hujan yang jatuh di daerah tangkapan air berpotensi mengalir menuju sungai dan waduk, meskipun jumlah air yang benar-benar masuk dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi tanah dan karakteristik aliran.

Oleh sebab itu, penyemaian awan tidak dapat diperlakukan sebagai jaminan bahwa volume air waduk akan langsung meningkat. Hasilnya perlu dinilai berdasarkan data curah hujan dan perubahan aliran masuk setelah kegiatan dilakukan.

Dampak Ketersediaan Air bagi Pertanian dan Pembangkit Listrik

Ketersediaan air di Waduk Sutami berkaitan dengan kebutuhan sektor pertanian dan energi. Dalam bidang pertanian, pasokan air yang dikelola melalui sistem irigasi membantu memenuhi kebutuhan lahan pada periode tanam.

Ketika hujan rendah dan aliran sungai berkurang, pengelolaan air menjadi semakin penting agar distribusinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Bagi sektor energi, air yang tersedia di waduk juga mendukung pembangkitan listrik tenaga air. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam menjaga keberlanjutan operasi pembangkit.

Namun, besarnya produksi listrik tidak hanya ditentukan oleh volume air, melainkan juga oleh kondisi teknis fasilitas dan pengaturan operasional.

PJT I menyatakan operasi modifikasi cuaca di wilayah Sungai Brantas diharapkan menjaga cadangan air untuk irigasi, pembangkitan listrik, dan kebutuhan masyarakat.

Tujuan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan waduk bukan hanya berkaitan dengan satu sektor, tetapi menyangkut berbagai pemanfaatan air.

Di sisi lain, hasil operasi tidak dapat dinilai hanya dari pelaksanaan penerbangan atau banyaknya bahan semai yang digunakan.

Dampak terhadap ketersediaan air baru dapat dievaluasi melalui perkembangan curah hujan, aliran masuk, dan kondisi tampungan waduk.

Dengan pendekatan tersebut, operasi modifikasi cuaca Waduk Sutami menjadi salah satu upaya antisipasi yang perlu berjalan bersama pengelolaan air secara cermat. Pengaturan distribusi air dan pemantauan kondisi waduk tetap penting, terlepas dari hasil penyemaian awan.

Baca Juga : Raperda Ruang Terbuka Hijau Kota Malang Disorot, Seberapa Penting bagi Warga?

Pemantauan Dilakukan untuk Mengevaluasi Efektivitas Operasi

Selama kegiatan berlangsung, PJT I bersama BMKG dan instansi terkait akan memantau perkembangan curah hujan, aliran masuk, serta kondisi tampungan waduk.

Data tersebut digunakan sebagai bahan evaluasi untuk melihat apakah operasi membantu mendukung pengelolaan sumber daya air di wilayah Sungai Brantas.

Pemantauan penting karena efektivitas penyemaian awan dipengaruhi kondisi atmosfer yang dapat berubah. Hasilnya juga perlu dilihat berdasarkan data lapangan, bukan hanya perkiraan sebelum operasi dimulai.

Bagi masyarakat, informasi resmi mengenai perkembangan operasi dan kondisi air waduk perlu menjadi rujukan.

Informasi yang akurat membantu publik memahami tujuan kegiatan sekaligus membedakan antara target operasi dan hasil yang benar-benar telah tercapai.

Pada akhirnya, modifikasi cuaca Waduk Sutami merupakan langkah antisipatif untuk menghadapi potensi berkurangnya pasokan air di Jawa Timur.

Keberhasilannya perlu diukur melalui pemantauan dan evaluasi, sementara pengelolaan cadangan air tetap membutuhkan koordinasi lintas sektor.

Dengan demikian, kebutuhan pertanian, energi, dan masyarakat dapat menjadi pertimbangan dalam menjaga ketahanan air di wilayah Sungai Brantas.

Leave a Comment

Related Post