sekitarmalangraya – Dusun Brau di Kota Batu punya potensi wisata edukasi yang menarik karena kehidupan peternakan sapi perah dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.
Bukan hanya menikmati pemandangan, wisatawan berpeluang mengenal aktivitas peternak, produksi susu, hingga produk olahan yang berkembang dari komoditas lokal.
Potensi tersebut kembali mendapat perhatian melalui Festival Nyusu Bareng 2026 di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji.
Kegiatan yang digelar pada 4 Oktober 2026 itu membawa gagasan agar kekuatan peternakan tidak berhenti sebagai kegiatan produksi, tetapi dapat dikemas menjadi pengalaman wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dusun Brau Dikenal sebagai Sentra Sapi Perah di Kota Batu
Dusun Brau merupakan bagian dari Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Pemerintah Kota Batu sejak beberapa tahun lalu melihat peternakan sapi perah sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Pada 2020, Pemkot Batu meresmikan Wisata Edukasi Susu Sapi Perah Brau. Peresmian tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong potensi masyarakat setempat agar memiliki nilai lebih sebagai destinasi wisata edukasi.
Data terbaru yang disampaikan dalam Festival Nyusu Bareng 2026 menunjukkan skala peternakan yang cukup besar. RRI melaporkan terdapat sekitar 2.500 sapi perah di Dusun Brau dengan produksi susu sekitar 10.000 liter setiap hari.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa peternakan bukan sekadar aktivitas tambahan bagi masyarakat. Produksi susu telah menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi lokal dan dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan konsep wisata berbasis masyarakat.
Baca Juga : Kota Batu Genap 25 Tahun, Bagaimana Kota Wisata Ini Terus Berkembang?
Wisata Edukasi Susu Sudah Hadir di Dusun Brau
Konsep wisata edukasi di Dusun Brau sebenarnya bukan gagasan yang baru muncul pada 2026. Pemerintah Kota Batu sudah meresmikan wisata edukasi susu sapi perah pada Oktober 2020.
Dalam konsep tersebut, pengunjung dapat mengenal kehidupan peternakan dan produk yang dihasilkan masyarakat.
Pemerintah Kota Batu juga mencatat beragam olahan susu yang dapat disajikan kepada wisatawan, seperti susu murni, susu pasteurisasi, yogurt, es krim, stik susu, permen susu, dan makanan olahan lainnya.
Model seperti ini membuat aktivitas peternakan memiliki nilai edukasi yang lebih luas. Pengunjung tidak hanya melihat sapi dari luar kandang, tetapi dapat memahami bahwa susu yang dikonsumsi sehari-hari melewati proses pemeliharaan, pemerahan, pengolahan, hingga pemasaran.
Karena itu, Dusun Brau memiliki peluang untuk menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dari destinasi alam yang selama ini banyak dikenal di Kota Batu.
Wisatawan Bisa Belajar Langsung dari Aktivitas Peternakan
Daya tarik utama wisata peternakan berada pada pengalaman langsung. Wisatawan dapat diperkenalkan pada keseharian peternak, cara menjaga ternak, proses pemerahan, serta bagaimana susu kemudian dimanfaatkan menjadi berbagai produk.
Konsep tersebut juga sejalan dengan pengembangan wisata berbasis pengalaman. Peternakan yang sebelumnya hanya dilihat sebagai aktivitas ekonomi dapat menjadi ruang pembelajaran bagi anak-anak, keluarga, maupun wisatawan yang ingin mengetahui asal produk pangan.
Namun, pengalaman tersebut perlu dikembangkan dengan pengelolaan yang baik. Kebersihan kandang, keamanan pengunjung, batas area wisatawan, sanitasi, serta kenyamanan peternak perlu menjadi bagian dari tata kelola. Dengan begitu, kegiatan wisata tidak mengganggu aktivitas produksi.
Dusun Brau juga memiliki peluang untuk menghubungkan wisata peternakan dengan UMKM. Produk olahan susu dapat menjadi oleh-oleh, sementara cerita mengenai peternak dan proses produksi dapat menjadi bagian dari paket wisata.
Festival Nyusu Bareng Jadi Momentum Baru untuk Brau
Festival Nyusu Bareng 2026 menjadi momentum penting karena membawa potensi peternakan ke ruang publik yang lebih luas. RRI melaporkan kegiatan tersebut mengangkat sekitar 2.500 sapi perah dan produksi sekitar 10.000 liter susu setiap hari sebagai kekuatan utama kawasan.
Festival ini juga mempertemukan masyarakat, peternak, pemerintah, dan pihak yang bergerak di bidang desa wisata. Kegiatan tersebut diarahkan untuk mengenalkan susu dan produk olahannya sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Bagi Dusun Brau, festival dapat menjadi cara untuk membangun identitas wisata yang berangkat dari kehidupan masyarakat sendiri.
Alih-alih membuat atraksi yang sepenuhnya baru, kegiatan peternakan yang sudah berlangsung sehari-hari justru dapat menjadi cerita utama.
Dari sisi wisatawan, pendekatan tersebut memberikan alasan untuk datang bukan hanya demi melihat lokasi, tetapi juga untuk memahami bagaimana sebuah komunitas menjalankan aktivitas ekonominya.
Baca Juga : Pariwisata Malang Raya di Era AI, Siapkah Destinasi Lokal Beradaptasi?
Dari Peternakan ke Wisata, Apa yang Perlu Dikembangkan?
Potensi yang besar belum otomatis membuat Dusun Brau menjadi destinasi wisata yang siap menerima banyak pengunjung. Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan agar kegiatan wisata dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pemkot Batu menyoroti pentingnya pendampingan tata kelola dan konektivitas menuju kawasan tersebut. Akses jalan menjadi salah satu faktor penting karena wisatawan membutuhkan perjalanan yang aman dan nyaman untuk mencapai lokasi.
Selain akses, paket wisata juga perlu dibuat jelas. Misalnya, kunjungan dapat menggabungkan pengenalan peternakan, edukasi proses susu, pengalaman melihat aktivitas peternak, dan kunjungan ke UMKM pengolah susu. Pola tersebut dapat membuat wisatawan memiliki alur pengalaman yang lebih terarah.
Keterlibatan peternak juga harus menjadi perhatian. Masyarakat sebaiknya tidak hanya menjadi objek tontonan, tetapi menjadi pelaku yang memperoleh manfaat dari kegiatan wisata.
Pendapatan dapat berasal dari paket edukasi, penjualan produk olahan, kuliner, suvenir, maupun layanan lain yang dikelola secara lokal.
Pada akhirnya, Dusun Brau memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan wisata edukasi berbasis peternakan.
Sejarah pengembangan wisata susu sejak 2020, skala peternakan yang mencapai sekitar 2.500 sapi, serta produksi sekitar 10.000 liter susu per hari menjadi dasar yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Jika dikelola dengan tata kelola, akses, promosi, dan keterlibatan masyarakat yang tepat, kehidupan peternakan dapat menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai edukasi sekaligus ekonomi.
Dengan pendekatan tersebut, Dusun Brau tidak hanya dikenal sebagai kawasan penghasil susu, tetapi juga sebagai contoh bagaimana aktivitas masyarakat lokal dapat berkembang menjadi daya tarik wisata di Malang Raya.









Leave a Comment