Pesarean Gunung Kawi, Wisata Religi dan Budaya di Kabupaten Malang

Mazaya Farandy

September 30, 2026

5
Min Read
Pesarean Gunung Kawi menjadi salah satu kawasan wisata religi dan budaya yang berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.

sekitarmalangraya – Pesarean Gunung Kawi menjadi salah satu kawasan wisata religi dan budaya yang berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.

Kawasan ini dikenal sebagai tempat ziarah, tetapi daya tariknya tidak berhenti pada makam dua tokoh yang menjadi pusat kunjungan.

Lingkungan sekitar juga memperlihatkan pertemuan tradisi Jawa, unsur budaya Tionghoa, bangunan keagamaan, kesenian tradisional, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Sebagai bagian dari Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi, kawasan ini menawarkan pengalaman yang lebih beragam bagi pengunjung.

Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat sejumlah daya tarik, seperti masjid berarsitektur Demak, Klenteng Dewi Kwan Im, Tie Kong, Ciamsi, pertokoan, kuliner, serta pertunjukan seni pada waktu tertentu.

Pesarean Gunung Kawi Berada di Desa Wonosari Kabupaten Malang

Pesarean Gunung Kawi berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasi tersebut tercatat dalam profil Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi yang dikelola melalui Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata.

Profil tersebut menempatkan kawasan ini sebagai desa wisata rintisan dengan daya tarik utama berupa wisata ritual dan budaya.

Pesarean Gunung Kawi tidak hanya menjadi tempat yang didatangi untuk berziarah. Di kawasan yang sama, pengunjung dapat menemukan berbagai fasilitas pendukung, area pertokoan, kuliner, suvenir, serta bangunan dan aktivitas yang memperlihatkan kehidupan masyarakat setempat.

Jadesta juga mencatat adanya atraksi berupa tari tradisional dan pagelaran wayang kulit pada waktu tertentu.

Karakter tersebut membuat kawasan ini menarik untuk dilihat sebagai bagian dari wisata religi sekaligus budaya.

Pengunjung tidak hanya berhadapan dengan satu jenis aktivitas, tetapi dapat melihat bagaimana tradisi, kegiatan ekonomi, dan kehidupan masyarakat berkembang di sekitar kawasan ziarah.

Baca Juga : Pameran Foto PFI Malang, Melihat Cerita Pangan dari Sudut Pandang Pewarta Foto

Pesarean Gunung Kawi Menjadi Tempat Ziarah Dua Tokoh

Daya tarik utama Pesarean Gunung Kawi berkaitan dengan keberadaan makam Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono.

Pemerintah Kabupaten Malang menyebut Eyang Jugo sebagai sebutan bagi Raden Mas Soeryo Koesoemo atau Kiai Zakaria II, sedangkan makam lainnya adalah Raden Mas Iman Soedjono.

Aktivitas ziarah menjadi bagian penting dari kehidupan kawasan tersebut. Dalam kunjungan pada Oktober 2025, Pemerintah Kabupaten Malang mencatat bahwa masyarakat dari berbagai latar belakang datang ke Pesarean Gunung Kawi untuk berziarah.

Pemerintah daerah juga menyebut warga dari etnis Madura, Jawa, dan Tionghoa kerap datang ke lokasi tersebut.

Kehadiran peziarah dari beragam kelompok menjadi salah satu gambaran mengenai posisi kawasan ini dalam kehidupan sosial masyarakat.

Bagi sebagian pengunjung, kegiatan utama tetap berupa doa dan ziarah, sedangkan bagi pengunjung lain, kawasan ini juga menjadi tempat untuk mengenal sejarah dan budaya lokal.

Pesarean Gunung Kawi Berkaitan dengan Kisah Perjuangan Masa Penjajahan

Sejarah Pesarean Gunung Kawi juga tidak dapat dipisahkan dari kisah dua tokoh yang dimakamkan di dalamnya.

Pemerintah Kabupaten Malang mengaitkan keduanya dengan perjuangan pada masa Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa.

Namun, kisah tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena informasi sejarah lokal yang dipublikasikan pemerintah daerah juga memuat keterangan yang bersumber dari masyarakat setempat.

Karena itu, narasi mengenai perjuangan kedua tokoh sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari sejarah lokal dan cerita yang berkembang di kawasan, bukan seluruhnya dianggap sebagai fakta akademis yang sudah terbukti tanpa perbedaan sumber.

Nilai sejarah tersebut tetap menjadi bagian penting dari identitas Pesarean Gunung Kawi. Kisah mengenai tokoh, perjalanan mereka, serta perkembangan kawasan ziarah kemudian menjadi narasi yang diwariskan dan dikenal oleh masyarakat maupun pengunjung.

Pada 2026, kegiatan 12 Suro di kawasan ini juga dirangkaikan dengan haul Eyang Djoego ke-155 dan Eyang R.M. Iman Soedjono ke-148.

Pemerintah Kabupaten Malang mencatat acara tersebut diisi pagelaran wayang kulit dan dihadiri masyarakat serta berbagai unsur pemerintah daerah.

Pesarean Gunung Kawi Memiliki Perpaduan Budaya Jawa dan Tionghoa

Salah satu hal yang membuat Pesarean Gunung Kawi menarik dalam konteks wisata budaya adalah keberagaman yang terlihat di lingkungan sekitarnya.

Jadesta mencatat keberadaan masjid dengan arsitektur Demak, Klenteng Dewi Kwan Im, Tie Kong, serta Ciamsi dalam kawasan desa wisata tersebut.

Perpaduan itu dapat terlihat dari bangunan, aktivitas keagamaan, hingga kehidupan masyarakat di sekitar area pertokoan.

Pemerintah Kabupaten Malang juga mencatat kedatangan masyarakat Jawa, Madura, dan Tionghoa untuk berziarah. Keberagaman tersebut membuat kawasan ini tidak hanya berbicara mengenai satu tradisi.

Masjid RM Iman Soedjono menjadi salah satu bangunan yang memperkuat karakter budaya kawasan. Dokumentasi yang diterbitkan media lokal pada 2026 memperlihatkan masjid tersebut memiliki gaya arsitektur Demak.

Di sisi lain, keberadaan Klenteng Dewi Kwan Im dan aktivitas Ciamsi memperlihatkan unsur budaya Tionghoa yang hidup berdampingan dengan lingkungan masyarakat Jawa.

Bagi wisatawan yang tertarik pada budaya, keberagaman tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman ketika mengunjungi Pesarean Gunung Kawi.

Kawasan ini memperlihatkan bahwa wisata religi dapat memiliki dimensi sosial dan budaya yang lebih luas.

Baca Juga : Batu Punya Konsep “Gastronomi Pegunungan”, Apa yang Membuatnya Berbeda?

Pesarean Gunung Kawi Tetap Menjadi Daya Tarik Wisata Religi dan Budaya

Pesarean Gunung Kawi saat ini tercatat sebagai bagian dari Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi. Selain ziarah, Jadesta mencatat adanya pagelaran wayang, karawitan, dan tari tradisional Jawa pada waktu tertentu.

Pengunjung juga dapat menikmati kuliner dan membeli suvenir yang dikembangkan di kawasan desa wisata.

Produk yang tercatat di Jadesta antara lain ubi manis, tetel atau jadah, lupis, dan kopi. Kehadiran produk tersebut menunjukkan bahwa kegiatan wisata juga dapat berhubungan dengan aktivitas ekonomi masyarakat melalui kuliner dan oleh-oleh.

Agenda budaya juga masih berlangsung. Pada Juni 2026, Pemerintah Kabupaten Malang mencatat pagelaran wayang kulit dalam rangka 12 Suro serta haul Eyang Djoego dan Eyang R.M. Iman Soedjono.

Kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa tradisi di kawasan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari cerita masa lalu, tetapi masih diperingati dalam kegiatan masyarakat.

Dengan perpaduan ziarah, sejarah lokal, kesenian, bangunan keagamaan, kuliner, dan aktivitas ekonomi, Pesarean Gunung Kawi memiliki karakter yang berbeda dari destinasi yang hanya mengandalkan satu daya tarik.

Kawasan ini memperlihatkan bagaimana wisata religi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan kehidupan masyarakat.

Bagi wisatawan yang berkunjung, memahami konteks tersebut dapat membuat perjalanan menjadi lebih bermakna.

Pesarean Gunung Kawi bukan sekadar tempat untuk melihat sebuah makam, tetapi juga ruang yang mempertemukan sejarah lokal, tradisi, keberagaman budaya, serta aktivitas masyarakat di Kabupaten Malang.

Leave a Comment

Related Post