sekitarmalangraya – Gastronomi pegunungan menjadi konsep yang sedang dibawa Kota Batu dalam proses menuju UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027.
Gagasan tersebut tidak hanya membicarakan makanan yang tersedia di kawasan pegunungan, tetapi menghubungkan pertanian, tradisi pangan, masyarakat, pariwisata, dan ekonomi kreatif dalam satu ekosistem.
Konsep tersebut menjadi bagian dari proposal Kota Batu dalam proses menuju UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027.
Pada September 2026, Pemerintah Kota Batu menyebut daerah tersebut telah lolos Seleksi Nasional Tahap I dan kemudian mengikuti presentasi Seleksi Nasional Tahap II untuk bidang Gastronomi.
Artinya, status Kota Batu sebagai bagian dari UCCN masih berada dalam proses seleksi dan belum dapat disebut sebagai kota kreatif UNESCO.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat konsep gastronomi pegunungan Kota Batu berbeda?
Apa Itu Konsep Gastronomi Pegunungan Kota Batu?
Gastronomi pegunungan Kota Batu berangkat dari gagasan “Batu Agrokreatif – From Mountain Agriculture to Global Gastronomy”.
Pemerintah Kota Batu menempatkan gastronomi bukan sekadar aktivitas menikmati makanan, melainkan sebagai warisan budaya hidup atau living food heritage yang berkaitan dengan pertanian, tradisi pangan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Dalam konsep tersebut, Kota Batu menggunakan istilah Living Mountain Gastronomy Ecosystem. Ekosistem ini dibangun melalui lima kekuatan utama, yaitu Mountain Agriculture, Living Food Heritage, Community-Based Food System, Tourism as a Market, serta Farm-to-Experience.
Dengan pendekatan itu, gastronomi pegunungan tidak berhenti pada pertanyaan mengenai makanan apa yang bisa ditemukan di Kota Batu.
Konsepnya juga melihat dari mana bahan makanan berasal, siapa yang memproduksinya, bagaimana tradisi pangan dipertahankan, hingga bagaimana makanan tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Inilah yang membuat gastronomi pegunungan memiliki cakupan lebih luas dibandingkan sekadar promosi kuliner daerah.
Baca Juga : Stadsklok Malang, Bangunan Bersejarah yang Dibidik Jadi Wisata Baru
Pertanian Menjadi Bagian Penting dari Gastronomi Pegunungan
Karakter Kota Batu sebagai kawasan pertanian dataran tinggi menjadi salah satu dasar dari gastronomi pegunungan.
Pemerintah Kota Batu menyebut sejumlah komoditas seperti apel, jeruk, stroberi, kopi, susu, dan berbagai produk hortikultura sebagai bagian dari potensi yang ingin dihubungkan dengan gastronomi.
Posisi pertanian tersebut penting karena makanan tidak muncul begitu saja di meja makan. Ada rantai yang dimulai dari lahan, petani, proses pengolahan, distribusi, hingga konsumen.
Karena itu, konsep gastronomi pegunungan mencoba melihat seluruh rangkaian tersebut sebagai bagian dari identitas pangan Kota Batu.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan warisan pangan lokal. Dalam dossier UCCN yang disampaikan Pemkot Batu, beberapa contoh yang disebut antara lain Sego Empok, Jenang Suro, Serabi Suro, dan Tempe Beji.
Makanan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari living food heritage yang masih berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, gastronomi pegunungan tidak hanya berbicara tentang komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi.
Tradisi dan pengetahuan masyarakat dalam mengolah pangan juga menjadi bagian dari cerita yang ingin dipertahankan.
Gastronomi Pegunungan Menghubungkan Makanan dan Pariwisata
Kota Batu selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan wisata di Jawa Timur. Dalam konsep gastronomi pegunungan, posisi tersebut kemudian dihubungkan dengan makanan dan produk pertanian lokal.
Pemerintah Kota Batu memasukkan “Tourism as a Market” sebagai salah satu dari lima fondasi dalam konsep Living Mountain Gastronomy Ecosystem.
Artinya, aktivitas pariwisata dipandang sebagai salah satu ruang untuk mempertemukan produk lokal dengan wisatawan.
Hubungan tersebut dapat dilihat dari gagasan Farm-to-Experience. Makanan dan hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai produk akhir, tetapi dapat dikembangkan menjadi pengalaman yang berkaitan dengan proses produksi, pengolahan, hingga penyajian.
Konsep gastronomi pegunungan dengan demikian dapat memperluas cara melihat wisata kuliner. Wisatawan tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga berpotensi mengenal cerita di balik bahan pangan, tradisi masyarakat, serta lingkungan tempat bahan tersebut dihasilkan.
Tentu, konsep tersebut membutuhkan pengembangan yang konsisten agar tidak berhenti sebagai narasi promosi.
Keterlibatan petani, pelaku usaha, desa wisata, restoran, hotel, dan komunitas menjadi penting untuk membuat hubungan antara pertanian dan pariwisata benar-benar berjalan.
Konsep Gastronomi Pegunungan Juga Berkaitan dengan Ekonomi Kreatif
Gastronomi pegunungan juga memiliki kaitan dengan ekonomi kreatif karena ekosistem pangan melibatkan banyak pelaku.
Pemkot Batu menyebut petani, kelompok tani, koperasi, UMKM pangan, pasar rakyat, hotel, restoran, desa wisata, hingga pelaku industri kreatif sebagai bagian dari ekosistem tersebut.
Karena itu, nilai ekonomi yang ingin dibangun tidak hanya berasal dari penjualan bahan mentah. Produk pertanian dapat masuk ke berbagai proses pengolahan dan menciptakan nilai tambah sebelum sampai kepada konsumen.
Pendekatan lintas sektor juga terlihat dalam persiapan UCCN. Pemkot Batu menggunakan pendekatan Hexahelix dengan melibatkan perangkat daerah yang berkaitan dengan pertanian, pariwisata, perdagangan, dan komunikasi, bersama pelaku usaha, PHRI, komunitas industri kreatif, serta unsur lainnya.
Di sisi lain, konsep ini juga diarahkan untuk menjawab sejumlah tantangan daerah. Pemkot Batu menyebut isu regenerasi petani, alih fungsi lahan, perubahan iklim, serta daya saing produk lokal sebagai bagian dari persoalan yang ingin dihadapi melalui penguatan ekosistem tersebut.
Dengan kata lain, gastronomi pegunungan ditempatkan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas, bukan hanya sebagai tema kuliner.
Baca Juga : Kampung Klasik Malang, Festival Warga yang Menghidupkan Budaya Jawa Timur
Gastronomi Pegunungan Jadi Identitas yang Ingin Dibawa Kota Batu
Gastronomi pegunungan pada akhirnya menjadi cara Kota Batu menghubungkan sejumlah potensi yang selama ini sudah dimiliki.
Pertanian, pangan, budaya, kreativitas, dan pariwisata ditempatkan dalam satu narasi yang ingin memperkuat karakter daerah.
Pada September 2026, Kota Batu telah melakukan presentasi proposal nominasi UCCN 2027 pada Seleksi Nasional Tahap II.
Pemerintah Kota Batu menyebut hasil seleksi akan menentukan daerah yang mewakili Indonesia menuju tahapan nominasi UNESCO.
Karena itu, proses tersebut belum berarti Kota Batu sudah ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network.
Terlepas dari hasil seleksi tersebut, konsep gastronomi pegunungan menarik karena mencoba melihat makanan dari sudut pandang yang lebih luas. Produk pertanian tidak hanya menjadi komoditas, sementara kuliner tidak hanya menjadi konsumsi wisatawan.
Keduanya dapat terhubung dengan budaya, masyarakat, dan pengalaman wisata. Jika ekosistem tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan, identitas Kota Batu sebagai daerah pegunungan tidak hanya terlihat dari lanskapnya, tetapi juga dari bagaimana masyarakat mengolah dan mempertahankan kekayaan pangannya.
Bagi Kota Batu, “From Mountain Agriculture to Global Gastronomy” pada akhirnya bukan sekadar slogan dalam proposal.
Konsep tersebut menjadi gagasan untuk membawa potensi pertanian dan budaya lokal ke dalam ekosistem ekonomi kreatif serta pariwisata yang lebih luas.









Leave a Comment