Kampung Klasik Malang, Festival Warga yang Menghidupkan Budaya Jawa Timur

Mazaya Farandy

September 25, 2026

5
Min Read
Kampung Klasik Malang menjadi salah satu kegiatan warga yang menarik perhatian karena menghadirkan suasana budaya dan tradisi dalam lingkungan permukiman.

sekitarmalangraya – Kampung Klasik Malang menjadi salah satu kegiatan warga yang menarik perhatian karena menghadirkan suasana budaya dan tradisi dalam lingkungan permukiman.

Berlokasi di RW XI Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, kegiatan ini memadukan kreativitas warga, budaya Jawa Timur, serta berbagai aktivitas masyarakat dalam sebuah festival bernuansa klasik.

Kampung Klasik bukan sekadar menghadirkan dekorasi yang membawa pengunjung bernostalgia dengan suasana tempo dulu.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi warga untuk memperkenalkan budaya, memperkuat gotong royong, sekaligus membuka peluang interaksi dengan masyarakat dari luar lingkungan Merjosari.

Pada 2026, Kampung Klasik telah memasuki penyelenggaraan keempat. Pemerintah Kota Malang menilai kegiatan yang diinisiasi masyarakat ini memiliki potensi sebagai bagian dari pengembangan wisata berbasis budaya di Kota Malang.

Baca Juga : Ibu Kota Jawa Timur Adalah Surabaya, Begini Sejarah dan Perannya

Kampung Klasik Malang Berawal dari Inisiatif Warga

Kampung Klasik Malang digagas oleh warga RW XI Merjosari di kawasan Perumahan Villa Bukit Tidar, Kecamatan Lowokwaru.

Pada penyelenggaraan keempat yang dibuka pada 26 Agustus 2026, kegiatan tersebut mengangkat tema “Merawat Tradisi, Menghidupkan Ruang Waktu”.

Tema tersebut menggambarkan bagaimana warga berusaha menghadirkan kembali unsur tradisi di tengah kehidupan perkotaan.

Kegiatan ini juga tidak hanya berorientasi pada hiburan. Pemerintah Kota Malang mencatat bahwa penyelenggaraannya menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga, membangun kebersamaan, serta memperkuat semangat gotong royong.

Hal tersebut membuat Kampung Klasik memiliki karakter yang berbeda dari tempat wisata yang dibangun secara khusus.

Daya tariknya justru berasal dari kreativitas masyarakat dalam mengubah lingkungan tempat tinggal menjadi ruang kegiatan budaya.

Penyelenggaraan yang telah memasuki tahun keempat juga menunjukkan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar acara satu kali. Warga terus mengembangkan konsepnya sehingga memiliki identitas tersendiri di lingkungan Merjosari.

Ragam Budaya Jawa Timur Jadi Daya Tarik Utama

Salah satu hal yang membuat Kampung Klasik Malang menarik adalah konsep budaya yang diangkat pada penyelenggaraan 2026.

Jika pada tahun sebelumnya tema yang dibawa berkaitan dengan Nusantara, edisi keempat lebih berfokus pada kekayaan budaya Jawa Timur.

Konsep tersebut diwujudkan melalui sejumlah anjungan yang merepresentasikan keberagaman budaya.

KETIK melaporkan adanya representasi Mataraman, Osing, Madura, Pandalungan, Samin, Bawean, hingga Tengger dalam kegiatan tersebut.

Keberadaan anjungan membuat pengunjung tidak hanya melihat suasana kampung yang dibuat bernuansa klasik. Ada pula unsur budaya daerah yang menjadi bagian dari konsep acara.

Dari sisi wisata, pendekatan tersebut menarik karena budaya tidak ditempatkan hanya sebagai pertunjukan yang ditonton dari kejauhan. Lingkungan permukiman justru menjadi bagian dari pengalaman pengunjung.

Konsep semacam ini juga membuat Kampung Klasik dapat dipandang sebagai contoh bagaimana ruang masyarakat dapat digunakan untuk mengenalkan keragaman budaya kepada pengunjung.

Apalagi Kota Malang memiliki banyak kampung tematik dan kegiatan berbasis masyarakat yang dapat menjadi pelengkap pengalaman wisata.

Kampung Klasik Malang Juga Menggerakkan UMKM Warga

Daya tarik Kampung Klasik Malang tidak hanya berkaitan dengan budaya. Aktivitas ekonomi masyarakat juga menjadi bagian dari penyelenggaraannya.

KETIK melaporkan bahwa sebanyak 95 UMKM dari wilayah Malang Raya, yang mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, ikut meramaikan Kampung Klasik IV. Sekitar 40% di antaranya disebut berasal dari lingkungan RW XI.

Keterlibatan UMKM membuat kegiatan tersebut memiliki fungsi tambahan sebagai ruang bertemunya pelaku usaha dengan masyarakat.

Pengunjung yang datang untuk menikmati suasana budaya juga dapat menemukan berbagai produk yang ditawarkan pelaku usaha.

Selain kegiatan jual beli, penyelenggara juga memasukkan unsur pengembangan kapasitas masyarakat. Salah satunya melalui lokakarya digital branding bagi UMKM. Ada pula pelatihan pengolahan kopi yang ditujukan kepada remaja.

Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya mengandalkan jumlah pengunjung. Ada upaya menghubungkan budaya, aktivitas warga, pendidikan, dan ekonomi dalam satu rangkaian kegiatan.

Kampung Klasik Berpotensi Jadi Daya Tarik Wisata Malang

Pemerintah Kota Malang mendorong agar Kampung Klasik dapat masuk dalam agenda wisata Kota Malang.

Kepala Disporapar Kota Malang juga melihat konsep tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari agenda wisata dan promosi pariwisata daerah.

Festival yang diinisiasi warga seperti Kampung Klasik dinilai dapat memperkaya daya tarik wisata karena mengangkat keunikan, sejarah, budaya, serta potensi yang ada di lingkungan masing-masing.

Pada penyelenggaraan 2026, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat juga meminta agar festival kampung yang memiliki potensi wisata dapat dipertimbangkan dalam agenda pariwisata Kota Malang.

Dengan demikian, Kampung Klasik saat ini lebih tepat dipandang sebagai kegiatan masyarakat yang sedang didorong untuk dikembangkan menjadi bagian dari agenda wisata, bukan sebagai destinasi wisata resmi yang berdiri sendiri.

Jika pengembangan tersebut berlanjut, Kampung Klasik dapat menjadi salah satu bentuk wisata berbasis masyarakat di Kota Malang.

Konsepnya memungkinkan pengunjung menikmati sajian budaya, makanan zaman dahulu, pakaian adat, hingga pertunjukan seni tradisional yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut.

Baca Juga : Mengenal Taman Edelweiss Desa Wonokitri dan Pesona Wisatanya

Kampung Klasik Menjadi Cara Mengenalkan Budaya kepada Generasi Muda

Keberadaan Kampung Klasik Malang juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pemerintah Kota Malang menekankan pentingnya mengenalkan budaya kepada generasi muda dengan cara yang kreatif dan mengikuti perkembangan zaman.

Pendekatan tersebut terlihat dari keterlibatan anak muda dalam berbagai aktivitas. Selain lokakarya digital branding untuk UMKM dan pelatihan pengolahan kopi bagi remaja, konsep kegiatan secara keseluruhan memberikan ruang bagi warga dari berbagai kelompok usia untuk terlibat.

Hal ini menjadi penting karena budaya tidak hanya membutuhkan dokumentasi, tetapi juga membutuhkan ruang untuk dipraktikkan dan dikenalkan kembali.

Ketika generasi muda ikut terlibat dalam sebuah kegiatan budaya, mereka dapat mengenal tradisi melalui pengalaman langsung.

Pada akhirnya, Kampung Klasik Malang menunjukkan bahwa suasana tempo dulu tidak harus selalu dicari melalui bangunan atau tempat bersejarah.

Sebuah lingkungan permukiman juga dapat menghadirkan pengalaman budaya ketika warganya memiliki gagasan dan kemauan untuk mengembangkannya.

Perpaduan antara budaya Jawa Timur, kreativitas warga, UMKM, edukasi, dan gotong royong membuat kegiatan ini memiliki potensi untuk terus berkembang.

Jika konsistensi penyelenggaraan dan pengenalan kepada generasi muda dapat dipertahankan, Kampung Klasik dapat menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat ikut menciptakan daya tarik wisata dari lingkungannya sendiri.

Leave a Comment

Related Post