Belajar dari Rumah Saat Sekolah Tidak Aman, Apakah Pembelajaran Jarak Jauh Bisa Jadi Solusi?

Mazaya Farandy

September 24, 2026

6
Min Read
Belajar dari rumah dapat menjadi pilihan ketika kondisi sekolah tidak lagi aman bagi siswa, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan di lapangan.

sekitarmalangraya – Belajar dari rumah dapat menjadi pilihan ketika kondisi sekolah tidak lagi aman bagi siswa, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan di lapangan.

Ketika bencana, kabut asap, atau kondisi lingkungan tertentu membuat kegiatan tatap muka berisiko, sekolah tetap menghadapi satu persoalan penting: bagaimana memastikan hak pendidikan siswa tidak ikut berhenti?

Pertanyaan tersebut kembali relevan pada 2026 ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak terhadap kegiatan pendidikan di sejumlah wilayah Indonesia.

Pemerintah kemudian menyiapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai salah satu cara agar kegiatan belajar tetap berlangsung tanpa mengabaikan keselamatan siswa dan guru.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sekolah tidak selalu harus menjadi satu-satunya tempat untuk belajar. Namun, belajar dari rumah juga bukan berarti persoalan pendidikan otomatis selesai.

Saat Sekolah Tidak Aman, Haruskah Kegiatan Belajar Berhenti?

Sekolah merupakan tempat utama berlangsungnya kegiatan pendidikan, tetapi kondisi darurat dapat membuat pembelajaran tatap muka perlu dihentikan sementara.

Kabut asap akibat karhutla menjadi salah satu contoh ketika keselamatan warga sekolah harus dipertimbangkan sebelum kegiatan tatap muka dilanjutkan.

Pada Agustus 2026, Kemendikdasmen mencatat 3.524 satuan pendidikan dengan 571.338 murid telah menerapkan PJJ akibat dampak karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan.

Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, sementara hak siswa untuk memperoleh pendidikan tetap harus dipenuhi.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa penghentian sementara pembelajaran tatap muka tidak sama dengan meliburkan kegiatan pendidikan.

Sekolah masih memiliki tanggung jawab untuk memastikan proses belajar berjalan dengan metode yang disesuaikan.

Kemendikdasmen kemudian menerbitkan Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2026 tentang penyelenggaraan layanan pendidikan di daerah terdampak asap karhutla.

Kebijakan tersebut memberikan pedoman agar pemerintah daerah dan satuan pendidikan dapat menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi kualitas udara dan tingkat risiko kesehatan.

Baca Juga : Prabowo Bentuk Tim Khusus Pendidikan Gratis, Pratikno Jadi Ketua

Pembelajaran Jarak Jauh Bisa Menjadi Alternatif Saat Kondisi Darurat

Dalam situasi seperti itu, PJJ dapat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan proses belajar tanpa mengharuskan siswa datang ke sekolah. Bentuknya pun tidak selalu harus berupa kelas daring menggunakan video konferensi.

Sekolah dapat menyesuaikan metode dengan kondisi peserta didik. Ketika perangkat dan koneksi internet tersedia, guru dapat menggunakan platform pembelajaran digital.

Namun, jika akses teknologi terbatas, pembelajaran dapat dilakukan melalui modul, lembar aktivitas, atau penugasan yang dapat dikerjakan secara mandiri.

Pendekatan tersebut penting karena kemampuan setiap siswa untuk belajar dari rumah tidak sama. Kajian RISE di Indonesia menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi sangat bervariasi.

Perbedaan akses internet, perangkat, dukungan orang tua, serta kemampuan guru menggunakan teknologi turut memengaruhi kualitas pembelajaran.

Karena itu, PJJ sebaiknya dipandang sebagai metode yang dapat disesuaikan, bukan sekadar memindahkan kegiatan di kelas ke layar komputer atau telepon.

Kapan Siswa Perlu Belajar dari Rumah?

Keputusan untuk belajar dari rumah seharusnya tidak dibuat hanya berdasarkan kekhawatiran, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata di wilayah masing-masing.

Dalam kebijakan terbaru terkait karhutla, Kemendikdasmen menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai salah satu dasar menentukan moda pembelajaran.

Pada ISPU kategori Baik dengan nilai 1–50, pembelajaran dapat berlangsung normal. Ketika ISPU berada pada kategori Sedang atau 51–100, kegiatan tatap muka masih dapat dilakukan dengan pembatasan aktivitas di luar ruangan.

Sementara itu, ketika ISPU mencapai kategori Tidak Sehat atau 101–200, pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas.

Kelompok tertentu seperti peserta didik PAUD, siswa SD kelas I–III, siswa SLB, serta peserta didik dengan penyakit penyerta dapat dialihkan ke PJJ.

Jika ISPU mencapai kategori Sangat Tidak Sehat atau Berbahaya, pembelajaran tatap muka dihentikan sementara.

Mekanisme tersebut menunjukkan bahwa keputusan pembelajaran tidak harus seragam untuk semua wilayah. Ketika kondisi udara membaik, kegiatan tatap muka dapat kembali dilakukan.

Dengan demikian, belajar dari rumah berfungsi sebagai respons terhadap kondisi tertentu, bukan pengganti permanen sekolah.

Belajar dari Rumah Tetap Punya Tantangan

PJJ memang dapat menjaga kegiatan belajar tetap berjalan ketika siswa tidak dapat datang ke sekolah. Namun, pengalaman Indonesia selama pandemi menunjukkan bahwa metode ini juga memiliki tantangan yang tidak kecil.

Kajian Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan mencatat bahwa pada awal pandemi hanya 39% siswa secara nasional yang belajar setiap hari.

Sebanyak 44% belajar dua sampai empat hari dalam seminggu, sedangkan 17% lainnya belajar seminggu sekali atau tidak tentu.

Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan sekolah dan guru yang masih mencari bentuk pembelajaran yang sesuai dengan situasi darurat.

Dampak terhadap kemampuan siswa juga menjadi perhatian. PSKP mencatat adanya learning loss selama pandemi, termasuk pada kemampuan literasi dan numerasi.

Dalam studi INOVASI yang dirangkum PSKP, siswa kelas I yang naik ke kelas II mengalami learning loss literasi yang setara dengan lima bulan belajar setelah satu tahun pandemi. Untuk numerasi, kehilangan kemampuan yang tercatat setara dengan enam bulan belajar.

Karena itu, belajar dari rumah membutuhkan lebih dari sekadar memberikan tugas. Guru perlu tetap memberikan arahan, umpan balik, dan komunikasi yang memungkinkan siswa memahami materi.

Orang tua juga dapat berperan dalam membantu menciptakan rutinitas belajar, meskipun tidak semua keluarga memiliki waktu dan sumber daya yang sama.

Baca Juga : MAN 2 Kota Malang, Pilihan Pendidikan Menengah Berbasis Madrasah

PJJ Bisa Jadi Solusi, tetapi Bukan Pengganti Sekolah Tatap Muka

Menurut saya, PJJ paling tepat dilihat sebagai solusi situasional ketika keselamatan membuat pembelajaran tatap muka tidak memungkinkan.

Dalam keadaan seperti bencana atau kualitas udara berbahaya, memaksakan siswa datang ke sekolah justru dapat menimbulkan risiko yang tidak sebanding dengan manfaatnya.

Namun, PJJ juga tidak seharusnya dianggap sebagai metode yang selalu dapat menggantikan sekolah tatap muka. Pengalaman pandemi menunjukkan adanya persoalan akses, ketimpangan dukungan, kesiapan guru, dan penurunan capaian belajar.

RISE bahkan menemukan bahwa siswa dengan dukungan belajar terbatas menjadi kelompok yang paling merasakan dampak negatif ketika kegiatan belajar di sekolah dihentikan.

Karena itu, ukuran keberhasilan PJJ bukan hanya apakah siswa menerima materi, tetapi apakah mereka benar-benar mendapatkan kesempatan untuk memahami dan mengikuti proses pendidikan.

Ketika pembelajaran dilakukan dari rumah, sekolah tetap perlu memperhatikan akses perangkat, koneksi, kondisi keluarga, kemampuan guru, serta kebutuhan khusus peserta didik.

Pada akhirnya, belajar tidak harus berhenti ketika sekolah untuk sementara tidak dapat digunakan. PJJ dapat menjadi jembatan agar hak pendidikan tetap berjalan sambil menunggu kondisi kembali aman. Namun, jembatan tersebut perlu dibangun dengan perencanaan yang matang.

Sekolah yang aman tetap penting, teknologi juga penting, begitu pula dengan kesiapan guru, dukungan orang tua, dan kemampuan siswa beradaptasi.

Ketika semuanya diperhitungkan, belajar dari rumah bukan sekadar pilihan darurat, melainkan bagian dari kesiapan sistem pendidikan menghadapi kondisi yang tidak selalu dapat diprediksi.

One response to “Belajar dari Rumah Saat Sekolah Tidak Aman, Apakah Pembelajaran Jarak Jauh Bisa Jadi Solusi?”

  1. […] Baca Juga : Belajar dari Rumah Saat Sekolah Tidak Aman, Apakah Pembelajaran Jarak Jauh Bisa Jadi Solusi? […]

Leave a Comment

Related Post