Freeport Gelontorkan Rp72 Triliun untuk Proyek Kucing Liar

Bima Yoga

September 23, 2026

4
Min Read
Freeport Gelontorkan Rp72 Triliun untuk Proyek Kucing Liar
PT Freeport Indonesia (PTFI) menyiapkan investasi sekitar Rp72 triliun hingga 2033 untuk mengembangkan tambang bawah tanah Kucing Liar di Papua Tengah.

sekitarmalangraya – PT Freeport Indonesia (PTFI) menyiapkan investasi sekitar Rp72 triliun hingga 2033 untuk mengembangkan tambang bawah tanah Kucing Liar di Papua Tengah.

Proyek tersebut kini memasuki tahap pengembangan dan ditargetkan mulai ditambang pada 2029.

Rencana investasi itu disampaikan Direktur Utama PTFI Tony Wenas dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Selasa, 15 September 2026.

Tony menjelaskan, perusahaan telah mengeluarkan sekitar Rp25 triliun untuk pengembangan Kucing Liar hingga 2026. Sementara itu, kebutuhan investasi keseluruhan proyek diperkirakan mencapai Rp72 triliun sampai 2033.

“Kami telah menghabiskan 25 triliun kira-kira untuk pengembangan tambang Kucing Liar ini dari totalnya sebesar 72 triliun sampai dengan 2033,” kata Tony dalam rapat tersebut.

Tambang Kucing Liar Masa Depan PTFI

Tony menyebut Kucing Liar sebagai salah satu tambang masa depan perusahaan. Menurut dia, pekerjaan pengembangan sudah dilakukan dan proyek tersebut akan mulai ditambang pada 2029.

“Tambang Kucing Liar yang merupakan tambang masa depan kami itu sudah mulai kami kerjakan dari sekarang dan itu sudah memasuki tahap development dan akan bisa mulai ditambang tahun 2029,” ujar Tony.

Pengembangan Kucing Liar merupakan bagian dari rencana jangka panjang PTFI di kawasan mineral Grasberg.

Tambang tersebut dipersiapkan sebagai sumber produksi berikutnya ketika produksi dari tambang yang lebih dulu beroperasi mengalami penurunan.

Baca Juga: Gaji ke-13 Bukan Sekadar Tambahan Penghasilan, Bagaimana Sebaiknya Dimanfaatkan?

Kucing Liar nantinya diharapkan menggantikan peran Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang produksinya mulai menurun.

Saat ini, aktivitas di Kucing Liar masih berada pada tahap development. Tahap tersebut mencakup pekerjaan untuk membuka akses menuju area tambang serta pembangunan dan pengembangan fasilitas sebelum kegiatan produksi dimulai.

PTFI sebelumnya juga menyampaikan bahwa pengembangan tambang bawah tanah menjadi bagian penting dari keberlanjutan operasi Grasberg.

Dari sisi potensi produksi, laporan Freeport-McMoRan menyebut Kucing Liar pada tingkat operasi penuh diperkirakan mampu menghasilkan rata-rata sekitar 750 juta pon tembaga dan 735 ribu ons emas per tahun.

Perusahaan memperkirakan peningkatan produksi atau ramp-up berlangsung sekitar 2030 setelah kegiatan penambangan dimulai.

Data perusahaan juga menunjukkan pengembangan proyek membutuhkan modal besar secara bertahap. Dalam laporan sebelumnya, Freeport-McMoRan mencatat investasi Kucing Liar telah mencapai sekitar US$1,4 miliar hingga pertengahan 2026 dan masih membutuhkan tambahan investasi sekitar US$4 miliar sampai 2033.

Perbedaan angka tersebut dengan nilai Rp72 triliun yang disampaikan Tony Wenas dapat dipengaruhi oleh periode pelaporan dan dasar perhitungan investasi yang digunakan.

Selain aspek investasi, pengembangan Kucing Liar berkaitan dengan kesinambungan produksi tembaga dan emas PTFI. Proyek ini berada di distrik mineral Grasberg, operasi pertambangan PTFI di Papua Tengah.

Perusahaan telah mengembangkan sejumlah tambang bawah tanah di kawasan tersebut sebagai bagian dari transisi dari tambang terbuka menuju operasi bawah tanah.

PTFI juga mencantumkan Kucing Liar dalam dokumen penilaian dampak lingkungan yang telah diperbarui. Dokumen perusahaan menyebut penyesuaian kegiatan operasional mencakup pengembangan produksi Kucing Liar hingga 100.000 ton per hari.

Informasi tersebut menjadi bagian dari dokumen lingkungan dan tidak sama dengan target kapasitas produksi penuh yang disebutkan dalam laporan Freeport-McMoRan.

Dengan investasi sekitar Rp72 triliun hingga 2033, Kucing Liar menjadi salah satu proyek jangka panjang PTFI yang tengah dikerjakan. Target penambangan pada 2029 membuat tahap pengembangan saat ini menjadi periode penting sebelum tambang memasuki fase produksi dan peningkatan kapasitas pada tahun-tahun berikutnya.

Dari sisi jadwal, target 2029 menunjukkan bahwa manfaat produksi belum langsung diperoleh pada saat investasi dilakukan.

Baca Juga: Menilik Potensi Industri Kerajinan Kulit di Tengah Tren Fashion

PTFI masih harus menyelesaikan rangkaian pembangunan bawah tanah sebelum bijih dapat ditambang. Karena itu, angka Rp72 triliun perlu dipahami sebagai total kebutuhan investasi sampai 2033, bukan dana yang seluruhnya telah dikeluarkan saat ini.

Fakta bahwa sekitar Rp25 triliun telah direalisasikan hingga 2026 menunjukkan sebagian modal sudah masuk ke tahap pengembangan.

juga perlu menjaga kesiapan infrastruktur, akses, serta fasilitas pendukung agar kegiatan penambangan dapat berjalan sesuai rencana. Perkembangan proyek selanjutnya akan menentukan kapan kontribusi produksinya mulai terlihat secara lebih signifikan bagi operasi PTFI.

Leave a Comment

Related Post