sekitarmalangraya – Lanskap prestasi pendidikan global mengalami pergeseran signifikan.
Hasil terbaru Programme for International Student Assessment atau PISA menunjukkan bahwa Finlandia, yang selama bertahun-tahun menjadi rujukan utama sistem pendidikan dunia, kini tergeser oleh sejumlah negara Asia, dengan China tampil sebagai salah satu kekuatan baru yang mendominasi papan atas.
PISA merupakan tes pendidikan yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun di berbagai negara, mencakup tiga kemampuan utama, yakni matematika, membaca, dan sains.
Pada PISA 2026, penilaian mencakup 38 negara anggota OECD dan 53 sistem pendidikan lainnya, dengan fokus mengukur sejauh mana siswa mampu menerapkan pengetahuan untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata, bukan sekadar hafalan.
Berdasarkan data yang dihimpun sejak tahun 2000, rata-rata skor PISA di 23 negara OECD yang konsisten mengikuti tes tersebut terus menunjukkan tren penurunan setelah mencapai puncaknya sekitar 2012.
Penurunan paling terlihat pada aspek matematika dan membaca, sementara kemampuan sains turut mengalami pelemahan.
Finlandia Turun Drastis, China dan Negara Asia Lain Mendominasi
Ketika PISA pertama kali digelar pada 2000, Finlandia mengejutkan dunia dengan menempati posisi teratas, berkat pendekatan pengujian dan inspeksi yang terbatas serta metode pembelajaran berbasis permainan, terutama untuk anak-anak usia dini.
Keberhasilan tersebut membuat banyak pembuat kebijakan pendidikan dari berbagai negara datang mempelajari sistem Finlandia, dan sebagian bahkan meniru pendekatan minim tes dan inspeksi tersebut.
Baca Juga: Orang Malang Akan Bunyikan Klakson Kalau…
Namun, tren tersebut kini berbalik arah. Hampir tidak ada negara yang mengalami penurunan skor setajam Finlandia dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena ini memunculkan dugaan bahwa skor tinggi Finlandia pada masa lalu sebenarnya lebih mencerminkan pendekatan pendidikan lama yang masih bertahan hingga era 1990-an, bukan hasil dari kebijakan progresif yang kemudian banyak ditiru negara lain.
Berbanding terbalik dengan Finlandia, sejumlah sistem pendidikan Asia justru terus merangkak naik ke papan atas.
China, yang kembali mengikuti PISA untuk pertama kalinya sejak 2018, mencatat skor matematika dan sains sekitar 100 poin di atas rata-rata negara OECD. Singapura, Makau, Taiwan, dan Jepang turut menyusul di posisi-posisi teratas berikutnya.
Sebagai perbandingan, OECD memperkirakan bahwa selisih 20 poin PISA kira-kira setara dengan capaian pembelajaran selama satu tahun, sehingga selisih 100 poin antara China dan rata-rata OECD bukanlah perbedaan kecil dalam kemampuan akademik siswa.
Negara-negara Asia dinilai memiliki karakteristik berbeda dalam mengelola sistem pendidikannya, di mana mereka cenderung tidak terlalu terobsesi dengan ukuran kelas yang kecil.
Sebagai gantinya, negara-negara tersebut memilih memiliki jumlah guru yang lebih sedikit namun memberikan gaji dan pelatihan yang lebih baik, pendekatan yang dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar menambah jumlah tenaga pengajar.
Perkembangan menarik juga terjadi di Inggris, yang sejak sekitar 15 tahun lalu mulai menerapkan reformasi pendidikan dengan pendekatan berbeda, meliputi kurikulum yang lebih kaya pengetahuan, ujian yang diperketat, pengurangan porsi tugas sekolah, serta penguatan sistem inspeksi.
Hasilnya, pelajar Inggris kini masuk sepuluh besar dunia dalam ketiga kemampuan yang diujikan PISA.
Selain faktor pendekatan kurikulum, pandemi Covid-19 diduga turut memukul kemampuan belajar siswa secara global, mengingat anak-anak yang mengikuti pengujian terbaru berusia sekitar 10 tahun ketika pandemi melanda.
Faktor lain yang semakin mendapat perhatian adalah penggunaan gawai dan media sosial yang meluas, sehingga membuat siswa semakin jarang berlatih memahami teks panjang dan kompleks.
Kepala Pendidikan OECD, Andreas Schleicher, menyoroti meningkatnya jumlah peserta ujian yang disebut sebagai hasty readers, yakni siswa yang membaca dengan cepat namun banyak memberikan jawaban yang keliru akibat kurangnya pemahaman mendalam terhadap teks yang dibaca.
Baca Juga: Filosofi Ketupat dan Lepet Pasca Lebaran, Simbol Maaf dalam Tradisi Kupatan
Penurunan kemampuan membaca dinilai menjadi persoalan yang lebih besar, mengingat literasi merupakan fondasi penting untuk mempelajari bidang lain, termasuk matematika dan sains.
Pada tingkat negara, peningkatan kemampuan akademik juga berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi, di mana kenaikan skor PISA sebesar 25 poin diperkirakan dapat meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto tahunan negara maju sekitar 0,5 poin persentase.
Informasi lebih lengkap mengenai hasil PISA 2025 dan metodologinya dapat diakses melalui laman resmi OECD.
Pergeseran peta pendidikan dunia ini menjadi bahan evaluasi penting bagi banyak negara, termasuk yang selama ini menjadikan Finlandia sebagai model utama, untuk kembali mengkaji ulang pendekatan pembelajaran yang paling efektif di tengah tantangan zaman yang terus berubah.









Leave a Comment