sekitarmalangraya – Kebakaran Gunung Arjuno kembali menjadi perhatian setelah api yang bermula dari kawasan Kabupaten Pasuruan meluas hingga sebagian wilayah Kabupaten Malang dan Kota Batu pada Oktober 2026.
Peristiwa ini menimbulkan tantangan bagi petugas gabungan karena titik api berada di kawasan pegunungan dengan medan terjal dan akses yang sulit dijangkau kendaraan.
Upaya pemadaman tidak hanya berfokus pada api yang terlihat, tetapi juga mencegah bara merambat ke vegetasi lain dan mendekati permukiman.
Berdasarkan laporan ANTARA pada 21 Oktober 2026, BPBD Jawa Timur mencatat luas area terdampak kebakaran Arjuno-Ringgit mencapai 736,8 hektare.
Angka tersebut mencakup kawasan yang dilaporkan di wilayah Pasuruan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai luas kebakaran khusus di Kabupaten Malang.
Kebakaran Gunung Arjuno Meluas hingga Wilayah Malang Raya
Kebakaran Gunung Arjuno-Welirang dilaporkan mulai terdeteksi pada pertengahan Oktober 2026. Titik awal kebakaran berada di kawasan Gunung Ringgit, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Dalam perkembangannya, api meluas ke sebagian kawasan Kabupaten Malang dan Kota Batu.
Kepala UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, menyampaikan bahwa titik kebakaran yang semula berada di wilayah Pasuruan telah meluas ke dua wilayah tersebut. Informasi itu disampaikan pada 20 Oktober 2026, sebagaimana diberitakan ANTARA.
Di Kabupaten Malang, laporan BPBD yang dikutip Metro TV pada 21 Oktober menyebutkan area terdampak mencakup Desa Gunungrejo dan Desa Toyomarto di Kecamatan Singosari serta Desa Donowarih di Kecamatan Karangploso. Pendataan luas lahan yang terbakar di wilayah ini ketika itu masih berlangsung.
Sementara itu, BPBD Jawa Timur melaporkan 736,8 hektare area terdampak di kawasan Arjuno-Ringgit pada 21 Oktober.
Lembaga tersebut juga mencatat 53 titik panas berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi).
Angka titik panas merupakan hasil pemantauan pada waktu tertentu dan tidak otomatis menunjukkan jumlah titik api aktif yang telah diverifikasi secara langsung.
Baca Juga : Modifikasi Cuaca Waduk Sutami Dimulai, Upaya Antisipasi Kekeringan di Jawa Timur
Medan Terjal dan Angin Kencang Menghambat Pemadaman
Salah satu tantangan utama dalam menangani kebakaran Gunung Arjuno adalah kondisi geografis kawasan hutan yang sulit dijangkau.
Berdasarkan keterangan BPBD Jawa Timur yang diberitakan ANTARA pada 21 Oktober 2026, sejumlah titik api berada di ketinggian atau punggungan gunung.
Kendaraan bermotor tidak dapat menjangkau lokasi tersebut sehingga petugas harus mendaki dengan berjalan kaki sebelum melakukan pemadaman secara manual.
Kondisi itu membuat pergerakan personel, peralatan, dan kebutuhan logistik menjadi lebih rumit dibandingkan pemadaman di kawasan yang memiliki akses jalan memadai.
Petugas juga perlu mempertimbangkan keselamatan ketika membawa perlengkapan menuju lokasi yang curam.
Selain medan, angin dapat memengaruhi arah rambatan api dan membuat bara berpindah ke vegetasi di sekitarnya.
Vegetasi yang kering juga lebih mudah terbakar ketika terkena sumber panas. Karena itu, api yang tampak kecil dari kejauhan belum tentu mudah dikendalikan apabila berada di lereng yang sulit dijangkau.
BNPB turut melaporkan bahwa penanganan kebakaran di kawasan Arjuno menghadapi kendala medan sulit dan minimnya sumber air.
Gabungan faktor tersebut membuat petugas harus menentukan jalur pendekatan dan strategi pemadaman dengan mempertimbangkan kondisi lapangan.
Petugas Mengandalkan Pemadaman Darat dan Sekat Bakar
Dalam penanganan kebakaran Gunung Arjuno, petugas gabungan melakukan pemadaman darat sekaligus berupaya membatasi perluasan api.
Laporan BPBD Jawa Timur yang dimuat ANTARA pada 21 Oktober menyebutkan sebanyak 64 personel gabungan dikerahkan.
Unsur yang terlibat antara lain petugas Tahura Raden Soerjo, BPBD, Perhutani, Manggala Agni, serta relawan dan unsur terkait lainnya.
Pemadaman manual dilakukan dengan menyesuaikan kondisi titik api dan kemampuan petugas menjangkau lokasi. Ketika akses kendaraan terbatas, personel harus membawa perlengkapan dengan berjalan kaki. Strategi tersebut memerlukan tenaga dan waktu, terutama apabila titik kebakaran tersebar di beberapa lokasi.
Selain memadamkan api, petugas membuat sekat bakar atau ilaran. Metode ini dilakukan dengan membersihkan jalur tertentu dari bahan bakar vegetasi agar api lebih sulit merambat ke area berikutnya.
Sekat bakar tidak menjamin api berhenti sepenuhnya, tetapi dapat membantu menghambat pergerakan kebakaran apabila penempatannya sesuai kondisi medan dan arah rambatan api.
Metro TV melaporkan pada 21 Oktober bahwa tim di Kabupaten Malang membuat ilaran sepanjang hampir satu kilometer di kawasan Budugasu.
Petugas juga menangani pohon tumbang dan menimbun bara di area rawan untuk mencegah api menjalar ke lereng bawah.
Pekerjaan belum selesai ketika kobaran utama mereda. Petugas tetap perlu memeriksa bara yang tersisa karena titik panas dapat memicu kebakaran kembali, terutama ketika kondisi angin mendukung penyebaran api.
Ancaman Kebakaran terhadap Warga dan Ekosistem Hutan
Kebakaran Gunung Arjuno bukan hanya persoalan pemadaman api, melainkan juga ancaman terhadap kawasan hutan dan keselamatan masyarakat di sekitarnya.
Vegetasi yang terbakar dapat mengganggu habitat satwa serta merusak tutupan lahan. Dampak lingkungan lebih lanjut bergantung pada luas area yang terbakar, jenis vegetasi, tingkat kerusakan, dan kemampuan ekosistem untuk pulih.
Bagi masyarakat, salah satu perhatian utama adalah kemungkinan api bergerak mendekati permukiman atau lahan yang digunakan warga.
Dalam laporan 21 Oktober, BPBD Jawa Timur memperkirakan jarak titik api di kawasan Arjuno-Ringgit dari permukiman sekitar dua hingga tiga kilometer.
Saat laporan itu diterbitkan, aktivitas masyarakat disebut belum terdampak secara langsung dan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti risiko telah hilang. Perubahan arah angin, munculnya titik api baru, dan bara yang belum padam dapat mengubah situasi. Pemantauan berkala dibutuhkan untuk mengetahui perkembangan api dan menentukan tindakan berikutnya.
Dinas Kehutanan Jawa Timur juga menutup sementara jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang mulai 17 Oktober 2026 berdasarkan pengumuman UPT Tahura Raden Soerjo.
Penutupan tersebut merupakan langkah keselamatan sekaligus mendukung penanganan kebakaran. Calon pendaki perlu memeriksa pengumuman resmi sebelum merencanakan perjalanan dan tidak memasuki kawasan yang ditutup.
Baca Juga : Mencari Jasa Konstruksi? Kenali Kriteria Penyedia Layanan yang Terpercaya
Koordinasi dan Pencegahan Menjadi Kunci Penanganan
Meluasnya kebakaran Gunung Arjuno menunjukkan pentingnya koordinasi antarlembaga dan antarwilayah. Kawasan hutan tidak mengikuti batas administrasi kabupaten atau kota, sehingga pergerakan api dari Pasuruan menuju wilayah Malang dan Batu membutuhkan pemantauan serta respons yang terhubung.
Koordinasi membantu petugas menentukan akses masuk, membagi personel, menyalurkan logistik, dan memperbarui informasi mengenai lokasi kebakaran.
Data titik panas juga perlu dibaca bersama hasil pemeriksaan lapangan agar keputusan penanganan tidak hanya bertumpu pada pemantauan jarak jauh.
Setelah api berhasil dikendalikan, pemeriksaan bara dan pemantauan lanjutan tetap penting untuk mencegah kebakaran muncul kembali.
Masyarakat pun perlu menghindari pembakaran terbuka di dekat kawasan hutan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan kepulan asap kepada petugas berwenang.
Hingga laporan yang tersedia pada 21 Oktober 2026, pemadaman dan pemantauan masih berlangsung. Perkembangan luas kebakaran dan kondisi terkini perlu mengikuti pembaruan resmi, sebab data dapat berubah selama penanganan berjalan.
Keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api, tetapi juga oleh upaya bersama mencegah kebakaran meluas dan melindungi kawasan hutan Malang Raya.









Leave a Comment