sekitarmalangraya – Matcha semakin populer sebagai bagian dari gaya hidup anak muda, mulai dari pilihan minuman di kafe hingga sajian yang kerap muncul dalam konten media sosial.
Warna hijaunya yang khas, rasa yang berbeda dari teh biasa, serta variasi penyajian modern membuat minuman asal Jepang ini menarik perhatian generasi muda.
Namun, popularitasnya bukan hanya soal tampilan. Kebiasaan nongkrong, pengalaman mencoba menu baru, dan cara anak muda mengekspresikan selera turut memberi ruang bagi tren ini berkembang.
Matcha Menjadi Bagian dari Gaya Hidup Anak Muda
Bagi sebagian anak muda, memilih minuman kini tidak selalu sekadar urusan melepas dahaga. Minuman juga bisa menjadi bagian dari pengalaman bersantai, bertemu teman, mengerjakan tugas di kafe, atau menikmati waktu sendiri. Dalam konteks tersebut, matcha hadir sebagai pilihan yang memiliki karakter tersendiri.
Minuman ini tersedia dalam beragam bentuk, seperti teh yang diseduh secara tradisional, latte dengan susu, hingga campuran dalam es krim, kue, dan makanan penutup.
Variasi tersebut membuatnya dapat dinikmati oleh konsumen dengan preferensi berbeda. Mereka yang menyukai rasa teh bisa memilih sajian yang lebih sederhana, sedangkan pencinta minuman manis dapat mencoba versi latte atau kreasi lainnya.
Kehadiran menu berbahan matcha di berbagai kafe juga membuat konsumen memiliki kesempatan untuk membandingkan rasa, harga, dan cara penyajian.
Sebagian orang mungkin tertarik karena ingin mencoba sesuatu yang sedang ramai dibicarakan, sementara yang lain memang menyukai cita rasa khasnya.
Meski demikian, tren ini tidak berarti semua anak muda memiliki kebiasaan konsumsi yang sama. Pilihan minuman tetap dipengaruhi selera, ketersediaan produk, lokasi, dan kemampuan membeli.
Popularitas suatu menu dapat memperluas pilihan konsumen, tetapi tidak otomatis menjadikannya kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga : Downgrade Lifestyle Jadi Tren, Bisakah Hidup Hemat Tetap Stylish?
Mengapa Matcha Menarik Perhatian Gen Z?
Data survei dapat membantu menjelaskan mengapa minuman ini banyak diperbincangkan. Dalam laporan yang diterbitkan pada 7 Juli 2026, Jakpat menyampaikan hasil survei terhadap 1.238 responden di Indonesia mengenai konsumsi berbagai jenis minuman.
Hasilnya, sebanyak 34% responden Gen Z mengaku mengonsumsi matcha dalam enam bulan terakhir. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok milenial, yaitu 32%, dan Gen X sebesar 17%.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa minuman ini relatif lebih populer di kalangan responden yang lebih muda. Namun, angka itu perlu dibaca secara tepat.
Data tersebut menggambarkan pengalaman konsumsi dalam enam bulan terakhir, bukan berarti 34% seluruh Gen Z di Indonesia mengonsumsinya setiap hari.
Jakpat juga menemukan bahwa kopi dan teh masih menjadi pilihan utama lintas generasi. Keduanya dikonsumsi oleh lebih dari 70% responden pada setiap kelompok generasi yang diteliti.
Dengan demikian, meningkatnya perhatian terhadap matcha tidak serta-merta menggantikan posisi minuman yang sudah lebih dahulu akrab di masyarakat.
Hal menarik lainnya adalah tempat pembelian. Menurut laporan yang sama, matcha paling sering dibeli melalui kafe dan juga cukup banyak dipesan lewat layanan pesan-antar makanan.
Pola ini memperlihatkan bahwa pengalaman menikmati minuman di luar rumah menjadi salah satu bagian penting dari kategori tersebut.
Jakpat juga mencatat bahwa banyak konsumen mengeluarkan sekitar Rp25.000 hingga Rp50.000 untuk satu sajian.
Rentang ini mengindikasikan adanya posisi harga yang relatif premium dibandingkan beberapa kategori minuman lain. Meski begitu, harga aktual dapat berbeda sesuai ukuran, bahan tambahan, lokasi, dan merek yang dipilih.
Dari Tradisi Teh Jepang hingga Tren Minuman Modern
Sebelum menjadi menu populer di kafe, matcha memiliki akar panjang dalam budaya teh Jepang. Bubuk teh hijau ini digunakan dalam tradisi penyajian teh yang dikenal sebagai chanoyu atau upacara minum teh.
Dalam praktik tersebut, persiapan minuman bukan hanya proses membuat teh, melainkan juga kegiatan yang menekankan perhatian pada gerakan, peralatan, suasana, dan penghormatan kepada tamu.
The Jakarta Post dalam laporannya pada Desember 2025 membahas kebangkitan popularitas minuman ini di Indonesia, bersamaan dengan munculnya kafe khusus serta beragam makanan berbahan teh hijau.
Laporan tersebut juga menyoroti perbedaan antara tren konsumsi modern dan upaya mempertahankan akar budaya melalui tradisi chado.
Dalam penyajian tradisional, bubuk teh dicampur dengan air panas dan dikocok hingga menghasilkan minuman berbusa.
Sementara itu, versi modern seperti latte biasanya menggabungkan bubuk teh dengan susu, es, atau pemanis. Perbedaan bahan dan takaran dapat menghasilkan karakter rasa yang cukup beragam.
Perkembangan resep modern membuat matcha lebih mudah diterima oleh konsumen yang belum terbiasa dengan rasa teh hijau yang cenderung khas.
Namun, penambahan gula, sirup, krim, atau topping juga mengubah komposisi minuman. Karena itu, sajian tradisional dan kreasi modern tidak selalu dapat disamakan dari sisi rasa maupun kandungan gizinya.
Memahami latar budaya minuman ini dapat membuat pengalaman mencicipinya lebih bermakna. Konsumen tidak hanya mengenal produk yang sedang tren, tetapi juga memahami bahwa di baliknya terdapat tradisi yang berkembang jauh sebelum minuman tersebut hadir dalam bentuk kekinian.
Media Sosial dan Pengalaman Menikmati Matcha
Media sosial menjadi salah satu ruang tempat tren kuliner dikenal dan dibagikan. Foto minuman berwarna hijau, video proses pengocokan teh, ulasan kafe, hingga rekomendasi kreator dapat mendorong orang untuk mencari tahu dan mencoba produk tertentu.
Tampilan visual yang mudah dikenali juga membuat minuman ini cocok menjadi bagian dari konten gaya hidup.
Laporan The Jakarta Post menyebutkan bahwa popularitas matcha di Indonesia terlihat melalui kemunculannya dalam konten Instagram dan TikTok, sekaligus bertambahnya pilihan minuman dan makanan di sejumlah usaha kuliner.
Namun, keberadaan konten tersebut tidak cukup untuk membuktikan bahwa media sosial merupakan satu-satunya penyebab tren berkembang.
Pengalaman langsung tetap memiliki peran. Sebagian konsumen mungkin tertarik setelah melihat rekomendasi daring, lalu memutuskan apakah mereka menyukai rasa dan harganya setelah mencoba sendiri.
Ada pula yang datang ke kafe untuk berkumpul bersama teman, kemudian memilih minuman berdasarkan menu yang tersedia.
Bagi pelaku usaha, situasi ini membuka peluang untuk menghadirkan variasi produk dan membangun pengalaman pelanggan.
Akan tetapi, tren yang ramai belum tentu bertahan selamanya. Kualitas rasa, konsistensi penyajian, harga, dan pelayanan tetap dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk kembali membeli.
Baca Juga : Gorpcore Jadi Tren Fashion 2026, Ini Cara Tampil Stylish dengan Outfit Outdoor
Menikmati Matcha Tanpa Harus Mengikuti Tren
Popularitas minuman tertentu tidak harus menjadi alasan untuk selalu membelinya. Konsumen dapat menjadikan tren sebagai kesempatan mencoba hal baru, sekaligus tetap mempertimbangkan selera dan anggaran pribadi.
Jika harga di kafe terasa terlalu tinggi, menikmati teh hijau di rumah atau memilih sajian dengan ukuran lebih kecil bisa menjadi alternatif.
Penting pula untuk tidak menganggap matcha otomatis lebih sehat daripada semua minuman lainnya. Kandungannya bergantung pada bahan, takaran, dan cara penyajian.
Minuman yang diberi banyak gula atau sirup, misalnya, memiliki komposisi berbeda dari teh yang disajikan tanpa pemanis. Kandungan kafein juga perlu diperhatikan oleh orang yang sensitif terhadap zat tersebut.
Konsumen sebaiknya membaca informasi bahan dan memilih sajian sesuai kebutuhan. Tidak perlu membeli produk mahal hanya karena sedang populer atau menganggap pilihan minuman sebagai ukuran gaya hidup seseorang. Minuman yang sesuai selera dan kemampuan finansial tetap merupakan pilihan yang wajar.
Pada akhirnya, popularitas matcha memperlihatkan bagaimana kebiasaan minum dapat berkembang menjadi pengalaman sosial dan budaya.
Data Jakpat menunjukkan bahwa minuman ini lebih banyak dicoba oleh responden Gen Z dan milenial dibandingkan Gen X, sementara kafe dan layanan pesan-antar turut menjadi jalur pembeliannya.
Tradisi Jepang, inovasi menu, serta percakapan di media sosial ikut memberi warna pada perkembangannya. Menikmati tren tidak harus berarti mengikutinya tanpa pertimbangan.
Dengan memahami asal-usul, memperhatikan komposisi, dan menyesuaikan pengeluaran, anak muda dapat menikmati minuman favorit secara lebih sadar tanpa kehilangan kebebasan menentukan pilihan sendiri.









Leave a Comment