Teknologi Wearable Makin Diminati, Smartwatch Bukan Sekadar Penunjuk Waktu

Mazaya Farandy

November 6, 2026

6
Min Read
Smartwatch kini tidak hanya digunakan sebagai penunjuk waktu, tetapi juga menjadi perangkat yang membantu masyarakat memahami aktivitas sehari-hari.

sekitarmalangraya – Smartwatch kini tidak hanya digunakan sebagai penunjuk waktu, tetapi juga menjadi perangkat yang membantu masyarakat memahami aktivitas sehari-hari.

Melalui sensor dan aplikasi pendamping, perangkat di pergelangan tangan ini dapat mencatat jumlah langkah, memperkirakan detak jantung, memantau durasi tidur, hingga merekam aktivitas olahraga. Informasi tersebut membuat teknologi wearable semakin dekat dengan gaya hidup modern.

Perkembangan ini sejalan dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan dan kebugaran. Pengguna tidak harus selalu membuka ponsel untuk melihat ringkasan aktivitas karena sejumlah informasi dapat ditampilkan langsung pada layar jam.

Meski begitu, manfaatnya bukan berarti perangkat tersebut mampu menggantikan pemeriksaan kesehatan profesional.

Di Indonesia, minat terhadap perangkat wearable juga terlihat dari pertumbuhan penjualannya. NielsenIQ (NIQ) pada Juli 2025 melaporkan bahwa penjualan smartwatch dan fitness tracker telah melampaui 500.000 unit secara year-to-date, dengan pertumbuhan tahunan lebih dari 60%.

Fitur olahraga, sensor detak jantung, pemantauan oksigen darah, dan pelacakan tidur disebut menjadi pendorong minat konsumen.

Smartwatch Berkembang Menjadi Bagian dari Gaya Hidup Modern

Jam tangan pada awalnya dikenal sebagai alat praktis untuk melihat waktu. Namun, kemajuan teknologi membuat fungsinya berkembang menjadi perangkat yang terhubung dengan ponsel dan mampu mengumpulkan informasi aktivitas penggunanya.

Perubahan tersebut menjadikan smartwatch bukan sekadar aksesori, melainkan bagian dari ekosistem digital sehari-hari.

Pengguna dapat menerima notifikasi pesan, panggilan, atau agenda tanpa harus terus-menerus mengambil ponsel. Pada saat yang sama, fitur kebugaran memberi gambaran tentang gerak tubuh sepanjang hari.

Perangkat ini pun digunakan dalam beragam situasi, mulai dari bekerja, berjalan kaki, berolahraga, hingga beristirahat.

Laporan NIQ menunjukkan bahwa perangkat wearable seperti smartwatch dan fitness tracker mencatat pertumbuhan penjualan yang signifikan di Indonesia pada 2025.

Angka lebih dari 500.000 unit tersebut merupakan penjualan gabungan kedua jenis perangkat, bukan jumlah pengguna smartwatch saja. Meski demikian, data itu memperlihatkan besarnya perhatian pasar terhadap teknologi pemantauan aktivitas.

Survei PwC Voice of the Consumer 2026 juga menggambarkan kedekatan masyarakat dengan teknologi kesehatan.

Sebanyak 86% konsumen Indonesia yang disurvei menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable, dengan angka 90% pada konsumen muda.

Temuan ini mencakup berbagai aplikasi dan perangkat, sehingga tidak dapat diartikan bahwa seluruh responden memakai smartwatch.

Baca Juga : Laptop AI Makin Canggih, Cara Baru Menikmati Teknologi Komputasi

Beragam Fitur Smartwatch untuk Memantau Aktivitas Harian

Salah satu daya tarik smartwatch terletak pada kemampuannya merangkum sejumlah data aktivitas dalam satu perangkat.

Fitur penghitung langkah, misalnya, membantu pengguna melihat seberapa banyak mereka bergerak sepanjang hari.

Beberapa model juga memperkirakan jarak tempuh dan jumlah kalori yang terbakar berdasarkan sensor serta algoritma masing-masing.

Fitur pemantauan detak jantung dapat menampilkan perubahan denyut nadi ketika pengguna beristirahat maupun berolahraga. Informasi ini dapat membantu seseorang mengenali pola aktivitas tubuh dari waktu ke waktu.

Namun, hasil pengukuran dapat dipengaruhi posisi perangkat, kecocokan tali pada pergelangan tangan, gerakan, dan karakteristik pengguna.

Pada perangkat tertentu, tersedia pula sensor untuk memperkirakan tingkat saturasi oksigen dalam darah atau SpO2.

Fitur ini tidak selalu tersedia di semua model dan hasilnya perlu dipahami sebagai perkiraan sesuai kemampuan perangkat. Pengguna sebaiknya memeriksa spesifikasi serta penjelasan produsen sebelum mengandalkan fitur tersebut.

Pelacakan tidur menjadi fungsi lain yang semakin diperhatikan. Smartwatch dapat memperkirakan durasi tidur dan membagi tahapan tidur berdasarkan gerakan serta sinyal tubuh yang terbaca oleh sensor.

Data tersebut dapat memberi gambaran rutinitas istirahat, misalnya waktu tidur yang berubah-ubah atau durasi tidur yang cenderung singkat. Meski praktis, hasil analisis tidur dari perangkat konsumen bukan pengganti pemeriksaan tidur klinis.

Untuk olahraga, pengguna dapat memilih mode aktivitas seperti berjalan, berlari, bersepeda, atau latihan kebugaran.

Perangkat kemudian mencatat durasi, perkiraan jarak, detak jantung, dan metrik lain sesuai dukungan model.

Kelengkapan fitur berbeda-beda, sehingga tidak semua jam pintar memiliki kemampuan pengukuran yang sama.

Smartwatch Membantu Pengguna Membangun Kebiasaan Hidup Sehat

Data yang terkumpul dapat menjadi bahan refleksi untuk mengevaluasi kebiasaan harian. Ketika jumlah langkah masih rendah, misalnya, pengguna bisa menjadikannya pengingat untuk berjalan sebentar setelah duduk lama.

Beberapa perangkat juga menyediakan notifikasi agar pemakainya berdiri atau bergerak setelah periode tidak aktif.

Pengingat dan target aktivitas dapat membantu membangun rutinitas secara bertahap. Seseorang yang jarang berolahraga bisa mulai dengan target sederhana, kemudian menyesuaikannya berdasarkan kemampuan dan kondisi tubuh.

Bagi pengguna yang sudah rutin berlatih, catatan durasi dan intensitas aktivitas dapat membantu melihat konsistensi dari minggu ke minggu.

Pemantauan tidur juga dapat mendorong pengguna memperhatikan waktu istirahat. Jika catatan menunjukkan jam tidur yang tidak teratur, pengguna dapat mengevaluasi kebiasaan sebelum tidur, seperti penggunaan gawai atau jadwal aktivitas malam.

Data tersebut tidak otomatis menjelaskan penyebab gangguan tidur, tetapi dapat menjadi titik awal untuk memperbaiki rutinitas. Survei PwC 2026 memperkuat gambaran pemanfaatan teknologi dalam kebiasaan kesehatan masyarakat.

Dari responden Indonesia, 33% menggunakan aplikasi atau perangkat digital untuk memantau kualitas tidur, sedangkan 29% memanfaatkannya untuk memantau aktivitas olahraga. Angka ini berlaku untuk penggunaan teknologi kesehatan secara umum, bukan khusus smartwatch.

Pada akhirnya, manfaat perangkat sangat bergantung pada cara pengguna memakainya. Terlalu terpaku pada angka atau target harian justru dapat menimbulkan tekanan.

Data sebaiknya digunakan sebagai panduan ringan untuk mengenali kebiasaan, bukan sebagai ukuran tunggal keberhasilan menjaga kesehatan.

Baca Juga : People Pleaser, Kebiasaan Selalu Menyenangkan Orang Lain yang Bisa Merugikan Diri Sendiri

Memilih Smartwatch Perlu Memperhatikan Kebutuhan dan Akurasi Fitur

Sebelum membeli, calon pengguna perlu menentukan fungsi yang paling dibutuhkan. Orang yang ingin mencatat langkah dan olahraga ringan mungkin tidak memerlukan perangkat dengan fitur kesehatan yang kompleks.

Sebaliknya, pengguna yang rutin berlari dapat mempertimbangkan dukungan GPS, pilihan mode olahraga, ketahanan air, serta kemampuan baterai.

Kompatibilitas dengan ponsel juga penting diperiksa. Sebagian fitur hanya berjalan optimal ketika perangkat dipasangkan dengan sistem operasi atau aplikasi tertentu.

Selain itu, daya tahan baterai, kenyamanan bahan tali, ukuran layar, kemudahan membaca notifikasi, dan ketersediaan layanan purnajual dapat memengaruhi pengalaman penggunaan dalam jangka panjang.

Aspek privasi tidak boleh diabaikan karena perangkat dapat mengumpulkan informasi aktivitas dan kebiasaan pribadi.

Pengguna sebaiknya membaca pengaturan izin aplikasi, memahami data apa yang dikumpulkan, serta memeriksa bagaimana informasi disimpan atau dibagikan.

Gunakan kata sandi dan pengamanan akun yang memadai, terutama jika data tersinkronisasi dengan layanan daring.

Hal terpenting adalah memahami batas kemampuan pengukuran. Government Accountability Office Amerika Serikat menjelaskan bahwa perangkat wearable untuk kebugaran dan kesejahteraan umumnya ditujukan untuk mendukung gaya hidup sehat, bukan untuk mendiagnosis, mengobati, atau mencegah penyakit.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga memperingatkan konsumen agar tidak menggunakan smartwatch atau smart ring yang mengklaim dapat mengukur kadar gula darah secara mandiri tanpa metode pengukuran yang sesuai.

Karena itu, hasil pengukuran smartwatch sebaiknya diperlakukan sebagai informasi pendukung. Jika muncul keluhan kesehatan atau hasil yang mengkhawatirkan, pengguna perlu berkonsultasi dengan tenaga medis dan memakai alat pemeriksaan yang sesuai.

Dengan memahami manfaat sekaligus keterbatasannya, teknologi wearable dapat membantu masyarakat lebih sadar terhadap rutinitas tanpa menggantikan penilaian profesional.

Leave a Comment

Related Post