Padel dan Budget Anak Muda, Bisakah Tetap Aktif Tanpa Boros?

Mazaya Farandy

October 9, 2026

6
Min Read
Padel menjadi salah satu pilihan olahraga yang menarik perhatian anak muda karena menggabungkan aktivitas fisik, hiburan, dan kesempatan bersosialisasi.

sekitarmalangraya – Padel menjadi salah satu pilihan olahraga yang menarik perhatian anak muda karena menggabungkan aktivitas fisik, hiburan, dan kesempatan bersosialisasi.

Namun, popularitas padel juga membawa pertanyaan baru: bagaimana menikmati olahraga yang sedang tren tanpa membuat pengeluaran bulanan membengkak?

Bagi anak muda yang masih mengatur uang saku atau baru memiliki penghasilan sendiri, jawabannya terletak pada keseimbangan antara kebutuhan, keinginan, dan kemampuan finansial.

Olahraga memang dapat menjadi bagian positif dari gaya hidup. Meski begitu, biaya sewa lapangan, perlengkapan, transportasi, hingga aktivitas setelah bermain perlu diperhitungkan.

Mengikuti tren tidak harus berarti membeli semua perlengkapan terbaru atau bermain sesering mungkin. Dengan perencanaan sederhana, olahraga tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kebutuhan yang lebih penting.

Padel Makin Menarik Perhatian Anak Muda

Padel merupakan olahraga raket yang memadukan unsur tenis dan squash. Permainan ini biasanya dilakukan oleh empat orang di lapangan yang dikelilingi dinding kaca atau material lain sesuai standar lapangan. Raketnya tidak menggunakan senar seperti raket tenis, sehingga memiliki karakter permainan tersendiri.

Menurut laporan RRI pada Januari 2026, padel semakin diminati di Indonesia karena relatif mudah dipelajari dan memiliki unsur sosial yang kuat.

Bermain bersama teman atau bergabung dengan kelompok baru membuat olahraga ini bukan hanya kegiatan fisik, melainkan juga sarana membangun relasi.

Daya tarik tersebut membantu menjelaskan mengapa padel dapat menjadi pilihan aktivitas bersama setelah bekerja atau kuliah.

Pemain bisa berolahraga sambil menghabiskan waktu dengan teman. Namun, ketika aktivitas sosial ini dilakukan secara rutin, pengeluaran yang semula terasa kecil dapat bertambah jika tidak direncanakan.

Popularitas suatu olahraga juga dapat memunculkan dorongan untuk mengikuti tren, mulai dari membeli raket sendiri hingga menggunakan pakaian khusus.

Padahal, kebutuhan setiap pemain berbeda. Orang yang baru mencoba belum tentu memerlukan perlengkapan lengkap, apalagi jika belum mengetahui seberapa sering ia akan bermain.

Baca Juga : Wellness Makin Populer di Kalangan Gen Z, Apakah Ini Sekadar Tren?

Biaya Padel Bukan Hanya Sewa Lapangan

Salah satu hal yang perlu dipahami sebelum rutin bermain adalah bahwa biaya padel tidak berhenti pada pembayaran lapangan.

Pengeluaran dapat mencakup sewa raket jika tersedia, bola, perlengkapan pribadi, transportasi, minuman, serta makanan setelah pertandingan.

Besarnya biaya sangat bergantung pada lokasi, waktu bermain, fasilitas, dan cara pembayaran. Karena itu, tidak tepat menganggap satu tarif berlaku untuk semua lapangan. Anak muda sebaiknya memeriksa harga langsung melalui penyedia lapangan sebelum membuat jadwal rutin.

Laporan Tirto pada September 2026 menggambarkan pengalaman seorang pemain yang membeli raket seharga Rp1,8 juta dan sepatu padel seharga Rp1 juta.

Dalam pengalamannya, biaya bermain bersama kelompok atau pemain lain juga perlu diperhitungkan. Angka tersebut merupakan pengalaman individu, bukan patokan harga yang berlaku untuk seluruh pemain di Indonesia.

Contoh itu menunjukkan bahwa pembelian perlengkapan bisa menjadi pengeluaran awal yang cukup besar. Karena itu, pemain pemula dapat mempertimbangkan opsi menyewa raket, meminjam perlengkapan yang sesuai, atau mengikuti sesi percobaan sebelum memutuskan membeli sendiri.

Membeli perlengkapan setelah mengetahui kebutuhan juga membantu menghindari barang yang akhirnya jarang digunakan.

Jika seseorang hanya bermain sesekali, menyewa perlengkapan mungkin lebih masuk akal daripada membeli barang mahal sejak awal.

Ketika Hobi Mulai Memengaruhi Budget Bulanan

Tantangan muncul ketika olahraga yang awalnya menjadi kegiatan sesekali berubah menjadi rutinitas dengan pengeluaran yang tidak tercatat.

Riset media sosial “Sehat Fisik vs Sehat Dompet” dari Amar Bank, yang diberitakan iNewsTangsel pada September 2026, melibatkan 300 responden di Jabodetabek dan sejumlah kota besar.

Dalam riset tersebut, 51,9 persen responden Gen Z mengaku rela mengurangi anggaran nongkrong dan membeli kopi untuk membiayai hobi wellness.

Namun, 28,9 persen Gen Z mengalokasikan lebih dari 10 persen pendapatan bulanan untuk hobi olahraga, sedangkan 10,6 persen menyatakan alokasinya melebihi 20 persen pendapatan hingga mengorbankan tabungan.

Temuan itu tidak secara khusus menggambarkan semua pemain padel, tetapi memberi gambaran bahwa gaya hidup aktif juga memiliki konsekuensi finansial.

Pengeluaran untuk olahraga tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing, terutama jika seseorang memiliki cicilan, tanggungan keluarga, atau pendapatan yang belum stabil.

Riset yang sama juga mencatat 29,8 persen responden Gen Z pernah menggunakan dana darurat untuk membiayai hobi.

Angka tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas yang bertujuan menjaga kesehatan sebaiknya tidak mengganggu kesiapan menghadapi kebutuhan mendesak.

Cara sederhana untuk menghindarinya adalah menetapkan anggaran khusus olahraga setiap bulan. Anggaran tersebut dibuat setelah kebutuhan pokok, kewajiban rutin, tabungan, dan dana darurat diperhitungkan.

Jika dana olahraga sudah habis, jadwal bermain dapat dikurangi atau dialihkan ke aktivitas fisik yang lebih terjangkau.

Cara Tetap Aktif Tanpa Boros

Langkah pertama adalah menghitung biaya bermain secara realistis. Catat pengeluaran untuk lapangan, perlengkapan, transportasi, serta kebutuhan tambahan.

Dengan begitu, pemain dapat memperkirakan total biaya bulanan dan membandingkannya dengan kemampuan finansial.

Kedua, manfaatkan sistem berbagi biaya secara jelas. Jika bermain bersama teman, sepakati pembagian sewa lapangan dan biaya lain sebelum pertandingan.

Memilih jam atau lokasi yang lebih terjangkau juga bisa menjadi alternatif, selama informasi tarifnya telah diperiksa langsung.

Ketiga, jangan terburu-buru membeli perlengkapan karena tren. Prioritaskan barang yang benar-benar dibutuhkan dan sesuaikan dengan frekuensi bermain.

Konsep cost per use dapat membantu menilai pembelian: harga barang dibandingkan dengan perkiraan berapa kali barang itu digunakan. Perlengkapan yang lebih mahal belum tentu lebih hemat jika hanya dipakai beberapa kali.

Keempat, jadikan padel sebagai salah satu pilihan olahraga, bukan satu-satunya. Berjalan kaki, berlari, bersepeda, atau latihan di rumah dapat melengkapi rutinitas tanpa biaya lapangan. Pilihan ini bukan berarti padel harus ditinggalkan, melainkan memberi fleksibilitas ketika anggaran terbatas.

Terakhir, pisahkan biaya olahraga dari uang untuk kebutuhan sehari-hari. Hindari menggunakan dana darurat atau berutang demi mengikuti jadwal permainan.

Jika biaya bermain mulai membuat pengeluaran penting tertunda, itu merupakan tanda bahwa anggaran perlu ditinjau kembali.

Baca Juga : League of Legends Worlds 2026 Segera Dimulai, Apa yang Membuat Turnamen Ini Begitu Besar?

Olahraga Sehat, Keuangan Tetap Terjaga

Padel dapat menjadi cara menyenangkan untuk bergerak sekaligus memperluas pergaulan. Namun, manfaatnya akan lebih berkelanjutan jika kebiasaan bermain dibangun sesuai kemampuan, bukan semata-mata mengikuti tekanan sosial atau tren media sosial.

Tidak ada keharusan membeli raket mahal atau bermain berkali-kali dalam seminggu untuk disebut aktif. Frekuensi yang realistis, pilihan fasilitas sesuai anggaran, serta pencatatan pengeluaran justru membantu hobi bertahan dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, menjaga gaya hidup aktif dan mengelola keuangan bukan dua hal yang harus dipertentangkan.

Anak muda tetap bisa menikmati padel selama memahami biaya, menetapkan batas pengeluaran, dan berani menyesuaikan kebiasaan ketika kondisi keuangan berubah. Dengan begitu, olahraga menjadi bagian dari hidup yang lebih seimbang, bukan sumber tekanan bagi dompet.

Leave a Comment

Related Post