Wellness Makin Populer di Kalangan Gen Z, Apakah Ini Sekadar Tren?

Mazaya Farandy

October 7, 2026

5
Min Read
Wellness kini semakin masuk ke rutinitas Gen Z Indonesia, mulai dari olahraga, menjaga pola tidur, memperhatikan makanan, hingga mencari cara untuk mengelola kesehatan mental.

sekkitarmalangraya – Wellness kini semakin masuk ke rutinitas Gen Z Indonesia, mulai dari olahraga, menjaga pola tidur, memperhatikan makanan, hingga mencari cara untuk mengelola kesehatan mental.

Perubahan ini membuat istilah tersebut tidak lagi sekadar identik dengan pusat kebugaran atau produk perawatan diri, tetapi mulai menjadi bagian dari cara anak muda mengatur keseharian.

Survei Asia Pacific Wellness Culture Survey 2026 yang dirilis Herbalife Indonesia menunjukkan 72% Gen Z di Indonesia mengaku lebih sering melakukan aktivitas terkait kesehatan dan kebugaran dibandingkan tiga tahun sebelumnya.

Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional sebesar 71%. Aktivitas yang semakin populer antara lain lari, padel, pickleball, gym, pilates, futsal, dan hiking.

Namun, meningkatnya perhatian terhadap kesehatan belum otomatis menjawab satu pertanyaan: apakah wellness benar-benar sudah menjadi kebiasaan, atau hanya tren yang sedang ramai diikuti?

Wellness Mulai Menjadi Bagian dari Gaya Hidup Gen Z

Perubahan cara Gen Z memandang kesehatan terlihat dari semakin luasnya aktivitas yang dilakukan. Olahraga memang menjadi salah satu bentuk paling mudah dikenali, tetapi perhatian terhadap kesehatan tidak berhenti pada aktivitas fisik.

Sebanyak 52% Gen Z Indonesia dalam survei tersebut ingin meningkatkan kualitas tidur. Sebanyak 50% ingin memperbaiki kualitas nutrisi atau pola makan, sedangkan 49% ingin meningkatkan kesehatan mental atau pengelolaan stres. Ada pula 36% yang ingin memperbaiki kesejahteraan emosional.

Keinginan tersebut mulai diterjemahkan ke dalam rutinitas. Sebanyak 58% responden Gen Z mengaku telah memperbaiki kebiasaan tidur, sementara 56% mulai memilih makanan yang lebih sehat dan berolahraga secara rutin.

Data tersebut memberi gambaran bahwa wellness mulai memiliki bentuk yang lebih luas. Anak muda tidak hanya mengejar tubuh yang bugar, tetapi juga mencoba mengatur istirahat, makanan, kondisi psikologis, dan keseimbangan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga : IMX 2026 Hadir, Ketika Modifikasi Mobil Jadi Bagian dari Gaya Hidup

Wellness Tidak Lagi Sekadar Soal Olahraga

Pemahaman yang lebih luas membuat wellness berbeda dari sekadar tren olahraga. Seseorang dapat menjalankan kebiasaan sehat dengan cara yang sangat berbeda, tergantung kebutuhan, kondisi, dan kemampuan masing-masing.

Tidur yang cukup, misalnya, menjadi perhatian besar bagi Gen Z. Begitu pula dengan pola makan dan pengelolaan stres.

Dalam konteks tersebut, wellness lebih tepat dilihat sebagai upaya menjaga beberapa aspek kehidupan secara bersamaan daripada mengejar satu target fisik tertentu.

Temuan PwC Indonesia memperkuat gambaran tersebut. Dalam Voice of the Consumer 2026, sebanyak 61% konsumen muda secara rutin melakukan aktivitas fisik.

Konsumen muda juga hampir tiga kali lebih mungkin mengeluarkan uang untuk keanggotaan gym, kelas kebugaran, atau personal trainer dibandingkan konsumen yang lebih tua, yakni 31% berbanding 11%.

PwC juga menemukan bahwa konsumen muda semakin menggunakan teknologi dalam perjalanan kesehatan mereka.

Sebanyak 90% konsumen muda telah menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable.

Artinya, kebiasaan tersebut mulai bertemu dengan teknologi, layanan kebugaran, nutrisi, dan berbagai produk yang mendukung rutinitas sehari-hari.

Ketika Wellness Bertemu Media Sosial dan Teknologi

Media sosial ikut mengubah cara Gen Z menemukan dan menjalani kebiasaan sehat. Konten olahraga, makanan, tidur, self-care, hingga aktivitas komunitas membuat berbagai praktik kesehatan mudah ditemukan dan dibagikan.

Dalam Asia Pacific Wellness Culture Survey 2026, sebanyak 64% Gen Z Indonesia menilai media sosial memberikan dampak positif terhadap kesehatan fisik mereka dalam 12 bulan terakhir.

Sebanyak 54% merasakan dampak positif terhadap kesehatan mental. Lingkaran pertemanan juga memiliki peran, dengan 68% Gen Z menyebut lingkungan sosial membantu membangun dan mempertahankan kebiasaan yang lebih sehat.

Teknologi juga menjadi bagian dari proses tersebut. Data PwC menunjukkan aplikasi kesehatan dan wearable digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti memantau tidur, aktivitas olahraga, dan kesehatan mental.

Namun, kemudahan teknologi tidak berarti semua informasi yang beredar dapat dipercaya. PwC mencatat 42% konsumen Indonesia merasa kewalahan menghadapi terlalu banyak atau informasi kesehatan yang saling bertentangan.

Karena itu, penggunaan teknologi tetap perlu diikuti kemampuan memilah sumber dan tidak menerima setiap klaim kesehatan di internet begitu saja.

Wellness Bisa Menjadi Kebiasaan, Tetapi Tidak Selalu Mudah Dipertahankan

Masalah terbesar sebuah tren adalah konsistensi. Memulai rutinitas olahraga mungkin mudah ketika motivasi sedang tinggi, tetapi mempertahankannya dalam jangka panjang membutuhkan waktu, biaya, dan kebiasaan yang realistis.

Survei PwC menunjukkan 73% konsumen Indonesia mengalami kesulitan menjaga motivasi untuk mencapai tujuan kesehatan.

Sebanyak 67% menyebut keterbatasan waktu sebagai hambatan, sementara 50% menghadapi keterbatasan pendapatan.

Temuan tersebut penting karena wellness sering ditampilkan melalui gaya hidup yang terlihat menarik di media sosial.

Gym, kelas pilates, wearable, makanan tertentu, atau aktivitas olahraga komunitas dapat menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Namun, tidak semua orang memiliki waktu atau anggaran yang sama untuk mengikutinya.

Karena itu, wellness tidak seharusnya diukur dari seberapa mahal aktivitas yang dilakukan. Kebiasaan sederhana yang dapat dipertahankan justru lebih relevan daripada rutinitas yang hanya bertahan beberapa minggu.

Baca Juga : Wakatobi WAVE 2026, Saat Wisata Bahari Bertemu Budaya Lokal

Wellness: Tren Sesaat atau Perubahan Gaya Hidup?

Jika melihat data yang ada, wellness memang memiliki unsur tren. Media sosial ikut membuat aktivitas tertentu lebih populer, sementara industri juga merespons perubahan minat konsumen.

Kementerian Perindustrian mencatat meningkatnya gaya hidup aktif dan sehat mendorong perkembangan subsektor seperti pakaian dan peralatan olahraga, alas kaki, kosmetik, serta makanan dan minuman sehat.

Namun, menyebut wellness semata-mata sebagai tren juga terlalu sederhana. Data menunjukkan sebagian kebiasaan sudah masuk ke rutinitas.

Gen Z memperbaiki pola tidur, memilih makanan yang lebih sehat, berolahraga, dan menggunakan teknologi untuk memantau kondisi mereka.

Pada akhirnya, tren mungkin menjadi pintu masuk, tetapi konsistensi menentukan apakah wellness benar-benar berubah menjadi gaya hidup.

Ketika seseorang memilih kebiasaan yang sesuai dengan kondisi dan mampu mempertahankannya tanpa merasa terbebani, wellness tidak lagi sekadar mengikuti apa yang sedang populer.

Bagi Gen Z, tantangannya bukan hanya menemukan aktivitas yang terlihat sehat, tetapi membangun rutinitas yang masuk akal dan dapat bertahan.

Dengan begitu, wellness tidak berhenti sebagai identitas di media sosial, melainkan menjadi bagian nyata dari keseharian.

One response to “Wellness Makin Populer di Kalangan Gen Z, Apakah Ini Sekadar Tren?”

  1. […] Baca Juga: Wellness Makin Populer di Kalangan Gen Z, Apakah Ini Sekadar Tren? […]

Leave a Comment

Related Post