sekitarmalangraya – Gaji bulanan rasanya tidak pernah cukup, padahal nominalnya sama seperti tahun lalu, bahkan mungkin sudah naik sedikit.
Keluhan semacam ini wajar muncul, sebab kenaikan gaji sering kali berjalan lebih lambat dibandingkan laju kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Lantas, bagaimana cara bertahan di tengah kondisi seperti ini?
Melihat Kesenjangan antara Gaji dan Inflasi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata upah buruh di Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar Rp3,39 juta per bulan, naik sekitar 3,08 persen dibandingkan Februari 2026.
Angka ini terlihat positif, namun perlu dibandingkan dengan laju inflasi agar tergambar daya beli yang sesungguhnya.
Pada periode yang berdekatan, BPS mencatat inflasi tahunan atau year-on-year pada Agustus 2026 berada di angka 3,19 persen.
Artinya, kenaikan upah secara nasional dalam beberapa bulan terakhir tidak jauh berbeda dengan laju kenaikan harga barang dan jasa, sehingga kenaikan gaji yang dirasakan di atas kertas bisa jadi hanya cukup untuk menutup kenaikan harga, bukan benar-benar menambah daya beli riil masyarakat.
Kondisi ini juga tidak merata di setiap daerah. BPS mencatat upah buruh tertinggi berada di DKI Jakarta dengan rata-rata Rp5,74 juta per bulan, sementara di sejumlah provinsi seperti Nusa Tenggara Timur, rata-rata upah buruh hanya sekitar Rp2,5 juta per bulan.
Kesenjangan semacam ini membuat strategi bertahan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah dan sektor pekerjaan.
Mulai dari Memetakan Ulang Pengeluaran
Langkah paling mendasar saat gaji terasa semakin tidak cukup adalah memetakan ulang seluruh pengeluaran bulanan secara jujur, bukan sekadar mengira-ngira dari ingatan.
Banyak orang baru menyadari ke mana larinya gaji setelah benar-benar mencatat pengeluaran selama satu bulan penuh, termasuk pengeluaran kecil yang terlihat sepele namun jumlahnya signifikan jika diakumulasi.
Dari pemetaan tersebut, pengeluaran bisa dipilah menjadi kebutuhan pokok yang benar-benar tidak bisa dihindari, kebutuhan yang masih bisa ditekan, dan pengeluaran yang sebenarnya bisa dihilangkan sepenuhnya tanpa mengurangi kualitas hidup secara signifikan.
Baca Juga: Inflasi Jatim Naik, Apakah Daya Beli Masyarakat Ikut Tertekan?
Menyesuaikan Prioritas, Bukan Sekadar Menahan Diri
Di tengah kenaikan harga, menahan semua keinginan belanja memang terasa seperti solusi instan, namun pendekatan ini sulit bertahan lama karena cenderung membuat seseorang merasa tertekan.
Pendekatan yang lebih realistis adalah menyusun ulang prioritas pengeluaran, sehingga uang yang terbatas tetap bisa dialokasikan untuk hal-hal yang benar-benar penting bagi kualitas hidup.
Misalnya, mengganti kebiasaan belanja harian dengan belanja mingguan dalam jumlah lebih besar sekaligus bisa membantu menekan pengeluaran, karena pembelian dalam jumlah besar sering kali mendapatkan harga per unit yang lebih murah dibandingkan membeli sedikit-sedikit secara berulang.
Mencari Sumber Penghasilan Tambahan
Selain mengelola pengeluaran, mencari sumber penghasilan tambahan menjadi salah satu cara yang cukup umum dilakukan masyarakat untuk menambal selisih antara gaji dan kebutuhan hidup yang terus meningkat.
Penghasilan tambahan tidak selalu harus berupa pekerjaan sampingan berskala besar, bisa dimulai dari memanfaatkan keahlian yang sudah dimiliki, misalnya menulis, mengajar, atau menjual jasa tertentu secara daring.
Penting untuk memastikan pekerjaan tambahan tersebut tidak mengganggu performa di pekerjaan utama, serta tetap menyisakan waktu istirahat yang cukup, agar strategi menambah penghasilan tidak justru berujung pada kelelahan yang mengganggu produktivitas secara keseluruhan.
Memahami Literasi Keuangan sebagai Fondasi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BPS secara berkala merilis Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan untuk mengukur sejauh mana masyarakat memahami pengelolaan keuangan pribadi.
Pemahaman literasi keuangan yang baik membantu seseorang membuat keputusan finansial yang lebih tepat, mulai dari memilih produk simpanan, asuransi, hingga memahami risiko utang konsumtif yang justru bisa memperburuk kondisi keuangan di tengah biaya hidup yang terus naik.
Memiliki dana darurat, meski nominalnya kecil pada awalnya, juga menjadi salah satu fondasi penting agar seseorang tidak mudah terjebak utang ketika menghadapi pengeluaran mendadak di luar anggaran bulanan biasa.
Dana darurat ini idealnya dikumpulkan secara bertahap dan disimpan terpisah dari rekening operasional sehari-hari, sehingga tidak mudah tergoda untuk dipakai di luar keperluan mendesak yang sebenarnya.
Selain dana darurat, memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan juga menjadi bagian penting dari literasi keuangan dasar.
Banyak pengeluaran yang sebenarnya lahir dari keinginan sesaat, bukan kebutuhan mendesak, sehingga dengan mengenali pola ini seseorang bisa lebih selektif dalam membelanjakan penghasilannya di tengah tekanan kenaikan harga barang dan jasa yang terus berlangsung.
Baca Juga: BSU Rp900 Ribu Cair Oktober 2026, Ini Cara Cek Penerima
Bertahan dengan Strategi, Bukan Sekadar Bertahan Hidup
Menghadapi kenaikan biaya hidup di tengah gaji yang relatif stagnan memang bukan persoalan yang bisa diselesaikan dalam semalam.
Namun dengan memahami kondisi ekonomi secara lebih objektif, menata ulang pengeluaran, mencari peluang penghasilan tambahan, serta memperkuat literasi keuangan, seseorang bisa memiliki kendali yang lebih besar atas kondisi finansialnya sendiri, alih-alih sekadar bertahan dari bulan ke bulan tanpa arah yang jelas.









Leave a Comment