sekitarmalangraya – Kota Batu memasuki usia 25 tahun pada 17 Oktober 2026, sebuah momentum yang tidak hanya menandai perjalanan sebagai daerah otonom, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana identitasnya sebagai kota wisata terus dibentuk.
Pemerintah Kota Batu membawa peringatan seperempat abad ini dengan tema “Bangkit Bersama Jaga Alam Raya untuk mBatu SAE Berkelanjutan” dan tagline “Kreatif SAE”.
Pesan tersebut menempatkan pariwisata berdampingan dengan budaya, kreativitas, pertanian, pangan, ekonomi masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Perjalanan tersebut menarik untuk dilihat bukan semata dari banyaknya tempat wisata atau agenda perayaan.
Usia 25 tahun menjadi ruang untuk membaca bagaimana Kota Batu berusaha mengembangkan daya tarik wisata sekaligus mempertahankan karakter alam dan kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari identitas daerah.
Kota Batu Genap 25 Tahun, Seperempat Abad Perjalanan Kota Wisata
Kota Batu resmi menjadi kota otonom pada 17 Oktober 2001 setelah sebelumnya berstatus bagian dari Kabupaten Malang dan kemudian menjadi kota administratif pada 6 Maret 1993.
Pemerintah Kota Batu mencatat wilayah ini memiliki karakter pegunungan dengan ketinggian sekitar 700 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut.
Kondisi geografis tersebut sejak lama menjadi salah satu unsur yang membentuk citra Batu sebagai kawasan yang sejuk dan menarik untuk dikunjungi.
Dalam perkembangannya, pariwisata menjadi salah satu wajah penting Kota Batu. Namun, pemerintah daerah kini menempatkan sektor tersebut dalam hubungan yang lebih luas dengan pertanian, pangan, ekonomi kreatif, serta lingkungan.
Profil resmi Pemkot Batu bahkan menetapkan arah pembangunan sebagai sentra agrowisata internasional yang berkarakter, berdaya saing, dan sejahtera.
Karena itu, peringatan 25 tahun tidak hanya berbicara tentang usia administratif. Bagi daerah ini, momentum ini juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan dan menentukan bagaimana potensi daerah dapat terus berkembang tanpa mengabaikan fondasi alam dan masyarakatnya.
Baca Juga : Pariwisata Malang Raya di Era AI, Siapkah Destinasi Lokal Beradaptasi?
HUT ke-25 Kota Batu Tak Hanya Berisi Seremoni
Rangkaian HUT ke-25 Kota Batu disiapkan sejak September hingga Desember 2026. Pemerintah Kota Batu menyebut agenda tersebut mencakup festival budaya dan kuliner, pertunjukan seni, kegiatan sosial, olahraga, hingga hiburan musik.
Beberapa kegiatan yang masuk dalam rangkaian tersebut antara lain Batu Shining Orchids Week, Batu Culture Festival, Batu Street Food Festival, World Cleanup Day, Festival Pangan Lokal, Batu Youth Fest, Kemilau Budaya mBatu SAE Artnival, pagelaran wayang, Student Show, hingga Batu Flower Carnival. Agenda juga berlanjut dengan Batu Tourism Award dan sejumlah kegiatan lain sampai Desember.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa perayaan dirancang menyebar ke berbagai ruang dan kelompok masyarakat.
Ada kegiatan yang berhubungan dengan seni, anak muda, kuliner, olahraga, lingkungan, UMKM, sampai pariwisata.
Dengan demikian, HUT ke-25 tidak berhenti pada acara inti di sekitar tanggal 17 Oktober, tetapi menjadi rangkaian aktivitas yang mencoba menjaga pergerakan kota selama beberapa bulan.
Pariwisata, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bertemu dalam Satu Perayaan
Bagi kota yang identik dengan wisata, event dapat menjadi cara untuk mempertemukan pengunjung dengan lebih banyak sisi daerah.
Batu Youth Fest, misalnya, memberikan ruang bagi kreativitas generasi muda. Festival budaya dan pagelaran seni membawa identitas lokal ke ruang publik, sementara kegiatan kuliner dan UMKM membuka peluang bagi produk masyarakat untuk hadir dalam arus kunjungan.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, menyebut rangkaian HUT ke-25 dirancang sebagai panggung integrasi antara pariwisata, seni budaya, ekonomi kreatif, dan sports tourism.
Pemerintah juga berharap geliat kegiatan yang berlangsung dari September hingga penghujung tahun dapat memberi dampak bagi UMKM, perhotelan, daya tarik wisata, dan industri kreatif lokal.
Pendekatan tersebut membuat pengembangan daerah tidak hanya bergantung pada satu jenis atraksi. Event budaya, kreativitas anak muda, produk lokal, kuliner, serta aktivitas wisata dapat saling melengkapi.
Bagi masyarakat, ruang tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya dan produk lokal kepada pengunjung.
Alam Jadi Bagian Penting dari Arah Kota Batu
Tema “Jaga Alam Raya” menjadi salah satu pembeda penting dalam peringatan 25 tahun. Pemerintah Kota Batu menegaskan bahwa kemajuan pariwisata, pertanian, pangan, dan aktivitas ekonomi masyarakat memiliki hubungan erat dengan alam.
Pesan itu diterjemahkan dalam agenda lingkungan seperti World Cleanup Day yang mengusung semangat “Gugur Gunung, Bersih-Bersih Kota Batu Asri”.
Kegiatan tersebut melibatkan unsur pemerintah, pelajar, tenaga pendidik, komunitas, dan masyarakat untuk membersihkan berbagai kawasan sekaligus mendorong kebiasaan menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Bagi wilayah ini, isu lingkungan bukan sekadar pelengkap karena daya tarik wilayahnya berkaitan dengan bentang pegunungan dan pertanian.
Pemkot juga menempatkan pembangunan berwawasan lingkungan dalam arah kebijakan daerah. Artinya, ketika pariwisata terus berkembang, keberlanjutan alam menjadi bagian yang perlu dipertimbangkan bersama.
Baca Juga : Coban Srengenge Malang, Air Terjun Tiga Tingkat yang Punya Pesona Alam dan Tantangan
Setelah 25 Tahun, Ke Mana Arah Kota Batu Berikutnya?
Memasuki seperempat abad, arah Kota Batu yang terlihat dari peringatan tahun ini semakin menonjolkan hubungan antara pariwisata, kreativitas, budaya, ekonomi lokal, pertanian, dan lingkungan.
Pemerintah tidak hanya membicarakan peningkatan aktivitas wisata, tetapi juga bagaimana potensi lokal dapat menjadi bagian dari pembangunan yang berkelanjutan.
Langkah tersebut juga terlihat dari dorongan Kota Batu terhadap pengembangan gastronomi pegunungan sebagai bagian dari upaya menuju UNESCO Creative Cities Network 2027.
Pemkot menyebut gastronomi, pertanian pegunungan, tradisi agraris, dan produk UMKM lokal sebagai bagian dari ekosistem yang sedang dikembangkan.
Dengan demikian, perjalanan Kota Batu setelah 25 tahun tidak harus dibaca sebagai perlombaan menambah sebanyak mungkin atraksi.
Tantangannya justru bagaimana kota wisata ini menjaga alasan mengapa orang datang: alam, budaya, suasana, kreativitas, serta pengalaman yang tumbuh dari kehidupan masyarakat lokal.
HUT ke-25 akhirnya dapat menjadi titik refleksi bahwa perkembangan sebuah kota wisata tidak hanya diukur dari ramainya agenda atau jumlah destinasi.
Ada pekerjaan yang lebih panjang untuk memastikan pariwisata tetap memberi ruang bagi masyarakat, budaya tetap hidup, ekonomi lokal ikut bergerak, dan alam tetap menjadi bagian dari masa depan Kota Batu.









Leave a Comment