Mengenal Reading Slump, Saat Membaca Buku Terasa Membosankan

Mazaya Farandy

September 26, 2026

5
Min Read
Reading Slump menjadi istilah yang cukup familiar di kalangan pembaca ketika aktivitas yang biasanya menyenangkan tiba-tiba terasa berat dan membosankan.

sekitarmalangraya – Reading Slump menjadi istilah yang cukup familiar di kalangan pembaca ketika aktivitas yang biasanya menyenangkan tiba-tiba terasa berat dan membosankan.

Buku yang sebelumnya bisa diselesaikan dalam beberapa hari justru hanya dibaca beberapa halaman, lalu ditinggalkan begitu saja.

Kondisi ini dapat membuat seseorang bertanya-tanya apakah dirinya sudah kehilangan minat membaca atau hanya sedang membutuhkan jeda.

Reading Slump sebenarnya bukan diagnosis psikologis. Istilah tersebut lebih tepat digunakan untuk menggambarkan pengalaman pembaca ketika kesulitan memulai, mempertahankan, atau menikmati kegiatan membaca seperti biasanya.

Penyebabnya pun tidak selalu sama karena kebiasaan, pilihan bacaan, kondisi lingkungan, hingga banyaknya distraksi dapat ikut memengaruhi pengalaman membaca.

Apa Itu Reading Slump dan Mengapa Bisa Terjadi?

Reading Slump dapat muncul ketika seseorang yang biasanya menikmati buku tiba-tiba merasa sulit berkonsentrasi atau tidak tertarik melanjutkan bacaan.

Tandanya bisa sederhana, seperti berulang kali mengganti buku, membaca beberapa halaman kemudian berhenti, atau membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk menyelesaikan bacaan.

Pengalaman tersebut tidak selalu berarti seseorang benar-benar kehilangan minat terhadap membaca. Bisa saja buku yang sedang dipilih kurang sesuai dengan suasana hati atau kebutuhan pembaca. Rutinitas yang berubah juga dapat membuat waktu membaca berkurang.

Selain itu, membaca membutuhkan perhatian yang cukup lama. Ketika seseorang terbiasa berpindah-pindah aktivitas, mempertahankan perhatian pada satu buku dapat terasa lebih menantang.

Karena itu, Reading Slump tidak perlu langsung dianggap sebagai masalah besar, melainkan dapat menjadi tanda bahwa kebiasaan membaca sedang mengalami perubahan.

Baca Juga : Ketika Lingkungan Membentuk Gaya Hidup, Moral, Dan Pola pikir Seseorang, Pelajaran Dari Film A Bronx Tale

Kebiasaan Scroll Bisa Mengubah Cara Kita Memusatkan Perhatian

Kehidupan digital membuat seseorang berhadapan dengan banyak sumber gangguan dalam waktu bersamaan.

Saat membaca melalui perangkat, misalnya, perhatian dapat terganggu oleh pesan, notifikasi, musik, video, atau aktivitas lain yang berlangsung di sekitar.

Sebuah meta-analisis yang diterbitkan di Frontiers in Psychology pada 2025 menganalisis 124 eksperimen dari 32 penelitian mengenai gangguan perhatian dalam aktivitas membaca digital.

Hasil keseluruhannya menunjukkan adanya hubungan negatif antara gangguan perhatian dan pemahaman bacaan.

Penelitian tersebut juga menemukan variasi efek berdasarkan jenis distraksi, desain penelitian, dan karakteristik peserta.

Temuan tersebut tidak berarti kebiasaan scrolling otomatis membuat seseorang kehilangan kemampuan membaca buku.

Kesimpulan yang lebih hati-hati adalah lingkungan yang dipenuhi distraksi dapat membuat aktivitas membaca membutuhkan pengelolaan perhatian lebih besar.

Bagi seseorang yang sedang mengalami Reading Slump, menciptakan lingkungan membaca yang lebih tenang dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi gangguan.

Ketika Membaca Harus Bersaing dengan Banyak Hiburan

Buku saat ini bukan satu-satunya pilihan untuk mengisi waktu luang. Seseorang dapat memilih video pendek, media sosial, layanan streaming, game, podcast, atau sekadar menjelajahi berbagai informasi di internet.

Kondisi tersebut membuat waktu untuk membaca harus berbagi dengan semakin banyak aktivitas. Penelitian dalam iScience pada 2025 menganalisis data American Time Use Survey dari 2003 hingga 2023 dengan 236.270 responden.

Penelitian tersebut menemukan adanya penurunan proporsi orang yang membaca untuk kesenangan setiap hari di Amerika Serikat selama periode tersebut.

Namun, hasil itu tidak membuktikan bahwa media digital merupakan satu-satunya penyebab perubahan tersebut.

Persaingan antaraktivitas menjadi hal yang relevan ketika membicarakan Reading Slump. Waktu luang yang sebelumnya digunakan untuk membaca dapat terbagi ke berbagai bentuk hiburan.

Akibatnya, membaca mungkin tidak lagi menjadi aktivitas pertama yang dipilih ketika seseorang memiliki waktu kosong.

Situasi ini juga membuat pembaca perlu menemukan kembali alasan mengapa mereka menikmati buku. Apakah karena ceritanya, pengetahuannya, suasana yang ditawarkan, atau sekadar kesempatan untuk beristirahat dari aktivitas lain?

Mengapa Buku yang Dulu Menarik Bisa Terasa Membosankan?

Ada kalanya seseorang mengalami Reading Slump meskipun sebelumnya sangat menyukai buku. Salah satu kemungkinan sederhananya adalah perubahan selera. Buku yang menarik beberapa bulan lalu belum tentu cocok dengan kondisi sekarang.

Kecepatan konsumsi informasi juga dapat membuat perbedaan pengalaman terasa lebih jelas, tetapi hubungan antara kebiasaan digital dan kemampuan membaca tidak sesederhana anggapan bahwa scrolling selalu memperpendek rentang perhatian.

Penelitian longitudinal yang diterbitkan dalam Developmental Psychology pada 2026 mengikuti 908 siswa dari kelas 4 hingga kelas 6 di Spanyol.

Peneliti tidak menemukan hubungan kausal secara umum antara kebiasaan membaca digital dan pemahaman membaca.

Namun, terdapat satu hubungan signifikan antara kebiasaan membaca digital untuk keperluan akademik di kelas 5 dan penurunan motivasi membaca intrinsik di kelas 6.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan teknologi, motivasi, dan membaca cukup kompleks. Karena itu, ketika mengalami Reading Slump, seseorang tidak perlu langsung menyalahkan ponsel atau media sosial. Bisa jadi faktor yang berperan justru pilihan buku, rutinitas, lingkungan, atau perubahan minat.

Baca Juga : Mengenal TFT, Game Strategi Auto Battler yang Mengandalkan Susunan Tim

Cara Perlahan Keluar dari Reading Slump

Keluar dari Reading Slump tidak harus dilakukan dengan target membaca yang besar. Memulai dari buku yang benar-benar menarik justru dapat membuat aktivitas tersebut terasa lebih ringan.

Novel dengan genre favorit, kumpulan cerita pendek, komik, atau buku nonfiksi yang sesuai minat dapat menjadi pilihan.

Target membaca juga dapat dibuat kecil. Tidak harus langsung puluhan halaman, membaca beberapa halaman secara rutin sudah cukup untuk membangun kembali kebiasaan.

Yang penting, kegiatan tersebut tidak berubah menjadi kewajiban yang justru membuat membaca terasa semakin berat.

Lingkungan juga dapat diperhatikan. Menjauhkan notifikasi, memilih tempat yang tenang, dan menyediakan waktu khusus dapat membantu mengurangi gangguan. Pembaca juga tidak harus memaksakan diri menyelesaikan buku yang memang tidak cocok.

Jika satu buku tidak berhasil mengembalikan minat, mencoba judul lain bukan berarti gagal. Membaca seharusnya tetap menjadi aktivitas yang memberikan ruang untuk menikmati cerita, memperoleh informasi, atau sekadar beristirahat.

Pada akhirnya, Reading Slump merupakan pengalaman yang dapat dialami pembaca dan tidak harus dianggap sebagai tanda bahwa kebiasaan membaca telah hilang selamanya.

Memberi jeda, mengevaluasi pilihan bacaan, dan kembali membaca secara perlahan dapat menjadi cara untuk menemukan kembali kesenangan tersebut.

Leave a Comment

Related Post