Rampal Celaket, Kampung Kota Malang yang Punya Cerita Budaya

Mazaya Farandy

September 21, 2026

5
Min Read
Rampal Celaket merupakan salah satu kawasan di Kota Malang yang menyimpan cerita panjang tentang perkembangan kota sekaligus kehidupan seni dan budaya masyarakatnya.

sekitarmalangraya – Rampal Celaket merupakan salah satu kawasan di Kota Malang yang menyimpan cerita panjang tentang perkembangan kota sekaligus kehidupan seni dan budaya masyarakatnya.

Kawasan ini bukan hanya bagian dari Kecamatan Klojen, tetapi juga memiliki jejak sejarah, komunitas seni, dan tradisi yang terus dirawat oleh warga.

Di tengah perkembangan Kota Malang sebagai kota pendidikan, perdagangan, dan pariwisata, keberadaan kampung dengan karakter budaya seperti Rampal Celaket menunjukkan bahwa identitas kota tidak hanya terbentuk dari pusat keramaian.

Sejarah lingkungan, aktivitas warga, dan kesenian yang diwariskan juga ikut membentuk karakter sebuah kawasan. Lantas, apa yang membuat Rampal Celaket menarik untuk dikenal lebih jauh?

Rampal Celaket dan Sejarah Panjang di Kota Malang

Rampal Celaket berada di Kecamatan Klojen, Kota Malang. Data profil kelurahan menyebut wilayah ini terdiri dari 6 RW dan 35 RT.

Dalam perkembangan administratifnya, nama Celaket kemudian menjadi bagian dari Kelurahan Rampal Celaket setelah pemekaran wilayah pada 1987.

Riwayat kawasan ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Kota Malang. Catatan sejarah lokal di laman Kelurahan Rampal Celaket menyebut kawasan Celaket mengalami beberapa perubahan pembagian wilayah sebelum akhirnya menjadi Kelurahan Rampal Celaket.

Karena itu, nama kawasan yang dikenal masyarakat sekarang merupakan bagian dari proses perkembangan administratif kota.

Nama Celaket sendiri memiliki beberapa penjelasan dalam sumber sejarah lokal. Laman kelurahan mengutip sejumlah kamus Jawa Kuna dan Kawi yang mengaitkan istilah Celaket atau Calaket dengan bunga, rasa pedas atau masam, hingga pohon asam.

Perbedaan penjelasan tersebut menunjukkan bahwa asal-usul nama kawasan memiliki beberapa versi yang perlu dibaca secara hati-hati.

Baca Juga : Pantai Ngliyep, Pesona Pantai Malang Selatan yang Punya Cerita Budaya

Perkembangan Rampal Celaket dan Kehidupan Masyarakatnya

Perubahan kawasan tidak hanya terjadi pada batas administratif, tetapi juga pada fungsi ruang dan kehidupan masyarakatnya.

Salah satu catatan Kelurahan Rampal Celaket menunjukkan bahwa wilayah tersebut berkembang bersama berbagai fasilitas serta aktivitas warga.

Jejak perkembangan tersebut membuat Rampal Celaket menarik dilihat sebagai bagian dari sejarah kota dalam skala kampung.

Perubahan jalan, permukiman, fasilitas umum, hingga ruang berkumpul warga berjalan bersama dengan perubahan kehidupan masyarakat.

Karakter kampung juga menjadi penting karena kehidupan sehari-hari tidak hanya berlangsung di ruang formal.

Interaksi warga, kegiatan bersama, serta keberadaan kelompok seni menciptakan identitas yang berkembang dari dalam komunitas.

Dengan sudut pandang tersebut, Rampal Celaket bukan sekadar nama wilayah administratif. Kawasan ini dapat dibaca sebagai ruang tempat sejarah lokal dan kehidupan masyarakat bertemu.

Rampal Celaket Punya Jejak Seni dan Budaya

Salah satu karakter yang kuat dari Rampal Celaket adalah aktivitas seni budaya. Kelurahan Rampal Celaket sejak beberapa tahun lalu mengembangkan gagasan Celaket Kampung Sinau Budaya atau Capungsudaya.

Konsep tersebut diarahkan sebagai ruang untuk belajar, mengajarkan, dan mengembangkan seni budaya tradisi.

Sanggar Sasana Kridha Budaya menjadi salah satu lokasi utama kegiatan tersebut. Program yang dirancang mencakup karawitan, tari, dan dolanan tradisional.

Ada pula kelompok dan komunitas seni yang berkembang di lingkungan warga, termasuk Aremaker dan Haniti Raras Wirama.

Kegiatan seni di kawasan ini tidak hanya ditempatkan sebagai pertunjukan. Gagasan Kampung Sinau Budaya juga menempatkan sanggar sebagai ruang belajar bagi generasi muda.

Dengan cara tersebut, proses pelestarian budaya berlangsung melalui praktik, latihan, dan interaksi langsung.

Pemerintah Kota Malang juga pernah memberitakan kegiatan jaranan dan pameran UMKM di Rampal Celaket pada 2022.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana seni tradisional dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Budaya di Rampal Celaket Tidak Berhenti pada Kesenian

Budaya di Rampal Celaket juga hadir dalam bentuk tradisi masyarakat. Salah satu contohnya adalah Suguh Patirtan yang dilaksanakan warga pada 26 Oktober 2024.

Menurut Pemerintah Kota Malang, kegiatan tersebut merupakan bentuk nguri-uri budaya atau upaya menjaga tradisi agar tetap lestari.

Dalam pelaksanaannya, warga mengarak 5 tumpeng menuju area sumber air atau patirtan. Kegiatan tersebut juga diawali dengan peresmian situs petilasan Mbah Tugu.

Tradisi tersebut memperlihatkan hubungan antara lingkungan, sumber air, rasa syukur, dan kehidupan masyarakat.

Pemerintah Kota Malang mencatat bahwa sumber air di kawasan tersebut dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Dengan demikian, budaya lokal tidak selalu hadir dalam bentuk panggung pertunjukan. Tradisi yang berkaitan dengan ruang, lingkungan, dan kehidupan bersama juga menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Baca Juga : Coban Putri, Destinasi Adventure di Kota Batu dengan Pesona Alam Menarik

Mengapa Rampal Celaket Menarik sebagai Bagian dari Identitas Malang?

Rampal Celaket memperlihatkan bahwa identitas sebuah kota dapat tumbuh dari lingkungan masyarakatnya.

Sejarah kawasan memberikan konteks, sementara komunitas dan aktivitas budaya membuat identitas tersebut tetap hidup.

Kehadiran Celaket Kampung Sinau Budaya menjadi salah satu contoh bagaimana warga berupaya menjadikan seni tradisi sebagai bagian dari kehidupan kampung.

Karawitan, tari, permainan tradisional, jaranan, serta kegiatan budaya lainnya bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sarana interaksi antargenerasi.

Tradisi Suguh Patirtan pada 2024 kembali menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan warga.

Sementara itu, kegiatan seni dan UMKM memperlihatkan bahwa kebudayaan juga dapat berinteraksi dengan aktivitas sosial dan ekonomi tanpa harus menghilangkan fungsi utamanya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, Rampal Celaket menarik bukan semata karena ingin ditempatkan sebagai destinasi, melainkan karena kawasan ini menyimpan cerita tentang bagaimana sebuah kampung mempertahankan hubungan dengan sejarah, seni, lingkungan, dan komunitasnya.

Dari ruang seperti inilah identitas Malang dapat dipahami bukan hanya melalui bangunan besar atau pusat kota, tetapi juga melalui kehidupan kampung yang terus berkembang.

One response to “Rampal Celaket, Kampung Kota Malang yang Punya Cerita Budaya”

  1. […] Baca Juga: Rampal Celaket, Kampung Kota Malang yang Punya Cerita Budaya […]

Leave a Comment

Related Post