sekitarmalangraya – Jalan Besar Ijen bukan sekadar salah satu ruas jalan di Kota Malang, tetapi kawasan yang mempertemukan sejarah, tata kota, arsitektur, ruang hijau, dan aktivitas masyarakat dalam satu koridor.
Karakter tersebut membuat kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun pengunjung yang ingin mengenal sisi historis Kota Malang.
Pemerintah Kota Malang menyebut Jalan Besar Ijen sebagai salah satu jalan protokol sekaligus kawasan yang memiliki banyak bangunan berarsitektur lawas peninggalan masa kolonial.
Jajaran pepohonan di sepanjang kawasan juga menjadi salah satu unsur yang membuatnya terlihat teduh dan ikonik.
Karena itu, cerita tentang Jalan Besar Ijen tidak cukup jika hanya membahas usia jalan atau bangunan lama. Ada perencanaan kota yang membentuk wajah kawasan tersebut hingga dapat dikenali seperti sekarang.
Jalan Besar Ijen Bukan Sekadar Jalan Protokol
Jalan Besar Ijen memiliki karakter visual yang cukup berbeda dibandingkan ruas jalan perkotaan biasa. Kawasan ini dikenal dengan boulevard, pepohonan, taman di bagian tengah, jalur kendaraan, pedestrian, serta bangunan lama yang berada di sekitarnya.
Pemerintah Kota Malang bahkan menyebut kawasan ini sebagai bagian dari wisata heritage. Pembangunan pedestrian di Jalan Besar Ijen juga pernah dilakukan untuk mempercantik kawasan dan memberikan ruang yang lebih nyaman bagi masyarakat yang berjalan kaki.
Karakter tersebut membuat Jalan Besar Ijen dapat dilihat sebagai ruang kota yang mempunyai lebih dari satu fungsi.
Jalan tetap digunakan untuk mobilitas, tetapi ruang di sekitarnya juga memperlihatkan unsur lanskap dan arsitektur yang menjadi bagian dari identitas kawasan.
Penelitian mengenai boulevard karya Thomas Karsten menjelaskan bahwa Jalan Ijen memiliki dua jalur jalan kembar dengan taman pada bagian tengah.
Deretan pepohonan dan jalur hijau juga menjadi bagian dari pembentuk karakter visual kawasan tersebut.
Baca Juga : Stasiun Kotabaru Malang, Bukan Sekadar Tempat Naik Kereta
Jalan Besar Ijen dan Awal Perencanaan Kota Malang
Untuk memahami karakter Jalan Besar Ijen, pembahasannya perlu melihat perkembangan tata kota Malang pada masa lalu.
Arsip resmi Jaringan Informasi Kearsipan Nasional Kota Malang mencatat kawasan Ijen berkaitan dengan perencanaan kota atau Bouwplan kelima.
Dalam arsip tersebut disebutkan bahwa pemerintah kolonial Belanda merencanakan jalan arah timur-barat untuk memecah kepadatan kawasan Kayutangan.
Jalur tersebut membentang dari kawasan Stasiun Kertanegara menuju Stadium Gajayana dan dilengkapi kawasan perumahan yang diperuntukkan bagi pejabat pemerintahan Belanda. Kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Idjen Boulevard.
Catatan arsip tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Jalan Besar Ijen bukan hasil perkembangan jalan secara spontan.
Kawasan ini sejak awal berkaitan dengan gagasan penataan kota dan pengembangan lingkungan permukiman.
Perencanaan tersebut kemudian menjadi bagian dari perkembangan Kota Malang. Bentuk kawasan yang dirancang pada masa lalu masih dapat dikenali melalui struktur jalan, ruang terbuka, serta sejumlah bangunan yang berada di sekitarnya.
Sentuhan Thomas Karsten Membuat Kawasan Ijen Berbeda
Salah satu nama penting dalam cerita Jalan Besar Ijen adalah Herman Thomas Karsten, arsitek dan perencana kota yang turut membentuk tata ruang kawasan tersebut.
Pemerintah Kota Malang juga mengaitkan Jalan Besar Ijen dengan peran Karsten dalam perencanaan kawasan.
Konsep boulevard menjadi salah satu hal yang membuat kawasan Ijen menarik. Penelitian mengenai karya Thomas Karsten menjelaskan bahwa boulevard Jalan Ijen terdiri atas dua jalan kembar, sementara bagian tengahnya dirancang sebagai taman. J
alur pepohonan dan ruang hijau kemudian membentuk pemisah antara jalur kendaraan dengan jalur pejalan kaki.
Rancangan tersebut memperlihatkan bahwa jalan tidak hanya diperlakukan sebagai tempat kendaraan bergerak. Ruang hijau dan pedestrian juga menjadi bagian dari komposisi kawasan.
Penelitian tersebut juga mencatat bahwa keberadaan pepohonan, jalur hijau, pedestrian, serta bangunan di sekitar Jalan Ijen membentuk pengalaman visual yang khas.
Karena itu, kawasan ini kemudian memiliki daya tarik bagi orang yang tertarik pada arsitektur dan tata kota.
Jejak Sejarah Masih Terlihat di Sekitar Jalan Besar Ijen
Salah satu alasan Jalan Besar Ijen tetap menarik untuk dibahas adalah karena sebagian unsur masa lalu masih dapat dikenali dalam lingkungan kawasan saat ini.
Pemerintah Kota Malang menyebut terdapat banyak bangunan besar berarsitektur lawas peninggalan masa kolonial di sepanjang jalan tersebut.
Namun, keberadaan bangunan lama tidak berarti seluruh bangunan di kawasan Ijen memiliki status perlindungan atau cagar budaya yang sama. Kondisi dan status setiap bangunan perlu dilihat berdasarkan ketentuan serta pendataan resmi yang berlaku.
Selain bangunan, jejak perencanaan lama juga dapat dilihat melalui keberadaan boulevard dan ruang hijau. Penelitian tentang Jalan Ijen menemukan bahwa sebagian bangunan karya Karsten masih mempertahankan bentuk arsitektur aslinya, sementara bangunan lain telah mengalami perubahan atau digantikan bangunan baru.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari perkembangan sebuah kota. Kawasan bersejarah tidak selalu berhenti pada bentuk masa lalu, tetapi terus digunakan dan mengalami penyesuaian mengikuti kebutuhan masyarakat.
Baca Juga : Tumpang Malang, Kawasan Menarik untuk Dijelajahi di Kabupaten Malang
Mengapa Jalan Besar Ijen Tetap Menjadi Bagian dari Identitas Malang?
Jalan Besar Ijen tetap memiliki posisi penting karena karakter sejarahnya tidak hanya tersimpan dalam arsip.
Unsur tersebut masih dapat ditemukan melalui bentuk boulevard, ruang hijau, bangunan lama, dan pedestrian yang membentuk wajah kawasan.
Pemerintah Kota Malang pernah menyebut Jalan Besar Ijen sebagai kawasan wisata heritage. Upaya penataan pedestrian juga menunjukkan adanya perhatian terhadap fungsi ruang publik dan pengalaman masyarakat ketika berada di kawasan tersebut.
Pada 2023, Pemerintah Kota Malang bersama Universitas Muhammadiyah Malang juga menjalankan kerja sama revitalisasi kawasan Ijen.
Salah satu rencana dalam program tersebut adalah pemasangan 214 unit lampu dengan desain yang diarahkan untuk memperkuat karakter dan branding Jalan Besar Ijen sebagai ikon Kota Malang.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa kawasan lama tetap dapat beradaptasi dengan kebutuhan kota modern.
Pelestarian tidak selalu berarti membekukan suatu tempat agar tidak berubah, tetapi juga dapat dilakukan dengan menata fasilitas tanpa menghilangkan karakter yang membuat kawasan tersebut bernilai.
Pada akhirnya, Jalan Besar Ijen menarik bukan hanya karena usianya atau keberadaan bangunan lawas. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana sejarah perencanaan kota, konsep boulevard, ruang hijau, arsitektur, pedestrian, dan aktivitas masyarakat dapat bertemu dalam satu lingkungan.
Cerita tersebut membuat Jalan Besar Ijen menjadi salah satu bagian penting dari wajah Kota Malang. Ketika masyarakat melewati kawasan ini, yang terlihat bukan hanya sebuah jalan, tetapi juga jejak dari proses panjang pembentukan sebuah kota.
Inilah yang membuat kawasan Ijen tetap relevan untuk dikenali, dirawat, dan dipahami sebagai bagian dari identitas Malang.









Leave a Comment