sekitarmalangraya – Gaya berpakaian Personal seharusnya menjadi cara seseorang mengekspresikan diri, bukan kewajiban untuk terus mengikuti tren yang sedang populer.
Namun, ketika media sosial dipenuhi inspirasi outfit, rekomendasi produk, dan penampilan influencer, kita bisa mulai merasa bahwa pakaian yang dimiliki tidak lagi cukup menarik. Keinginan untuk tampil lebih baik perlahan berubah menjadi dorongan untuk terus memperbarui isi lemari.
Menurut saya, persoalan utama dalam tren fashion bukanlah keinginan untuk tampil menarik, melainkan ketika seseorang merasa harus mengikuti standar penampilan orang lain agar dianggap keren atau tidak ketinggalan zaman.
Kita memang berhak mencoba gaya baru, tetapi hak untuk memilih seharusnya juga mencakup kebebasan untuk tidak mengikuti tren.
Fashion dapat menjadi ruang berekspresi yang menyenangkan. Tren juga bisa memberikan inspirasi dalam memadukan warna, memilih model pakaian, atau menemukan gaya yang sebelumnya tidak pernah dicoba.
Namun, inspirasi kehilangan maknanya ketika berubah menjadi tekanan. Pada titik itu, kita perlu bertanya apakah pilihan berpakaian masih berasal dari keinginan sendiri atau justru dikendalikan oleh ekspektasi lingkungan.
Ketika Tren Fashion Berubah Menjadi Tekanan Sosial
Media sosial membuat tren fashion menyebar dengan cepat. Unggahan outfit of the day (OOTD), video padu padan pakaian, dan rekomendasi produk memungkinkan kita menemukan banyak referensi dalam waktu singkat.
Sayangnya, paparan yang terus-menerus juga dapat membuat tren tertentu terlihat seolah-olah harus dimiliki semua orang.
Penelitian Rokhima Rostiani dan Jessica Kuron yang diterbitkan dalam Journal of Indonesian Economy and Business pada 2019 mengkaji perilaku pembelian fast fashion di kalangan konsumen muda Indonesia.
Survei daring terhadap 336 responden menunjukkan bahwa sikap terhadap produk menjadi faktor penting dalam niat membeli, diikuti motivasi terkait penampilan, norma subjektif, dan persepsi kendali perilaku.
Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan membeli pakaian dapat berkaitan dengan pertimbangan pribadi maupun pengaruh lingkungan sosial. (Universitas Gadjah Mada)
Temuan tersebut mengingatkan kita bahwa perilaku belanja tidak bisa dijelaskan hanya dengan anggapan bahwa seseorang ingin diterima oleh kelompoknya.
Konsumen juga mungkin benar-benar menyukai suatu produk atau merasa pakaian tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri.
Akan tetapi, pengaruh sosial tetap layak diperhatikan, terutama ketika keinginan pribadi sulit dibedakan dari dorongan yang muncul akibat paparan tren.
Coba perhatikan kebiasaan kita ketika melihat pakaian yang berulang kali muncul di linimasa. Pada awalnya, kita mungkin tidak tertarik.
Namun, setelah melihat banyak orang mengenakannya, produk tersebut bisa mulai terasa menarik dan seolah-olah perlu dimiliki.
Bukan berarti setiap keputusan membeli pasti dipengaruhi media sosial, tetapi kebiasaan melihat tren dapat memengaruhi apa yang kita anggap menarik atau penting.
Menurut saya, di sinilah kita perlu lebih kritis. Popularitas suatu pakaian tidak otomatis menjadikannya kebutuhan. Kita juga tidak perlu menganggap penampilan seseorang lebih baik hanya karena ia mengenakan model terbaru.
Jika tren terus dijadikan ukuran untuk menilai diri sendiri dan orang lain, fashion yang seharusnya memberi kebebasan justru dapat menciptakan standar baru yang membatasi.
Baca Juga : Minuman Manis Sudah Menjadi Kebiasaan, Apakah Kita Menganggap Remeh Konsumsi Gula?
Gaya Berpakaian Personal Tidak Harus Selalu Berbeda
Memiliki gaya berpakaian personal bukan berarti seseorang harus menciptakan penampilan yang unik atau menolak seluruh tren.
Bagi saya, makna yang lebih penting adalah kemampuan memilih pakaian berdasarkan karakter, kenyamanan, aktivitas, dan kebutuhan, tanpa harus selalu mencari pengakuan dari orang lain.
Penelitian Justina Vingilyte dan Ameerah Khadaroo mengenai gaya berpakaian personal dan konsep diri, yang diterbitkan dalam jurnal Fashion, Style & Popular Culture, membahas hubungan antara pakaian dan cara seseorang memandang dirinya.
Studi kualitatif yang melibatkan tujuh perempuan melalui wawancara mendalam tersebut mengidentifikasi gaya personal sebagai bentuk ekspresi diri yang berkaitan dengan gambaran diri, diri ideal, dan kreativitas.
Karena jumlah partisipannya terbatas, temuan ini tidak dapat dianggap mewakili semua orang, tetapi memberikan perspektif tentang hubungan pakaian dan pemahaman diri.
Bagi saya, temuan tersebut sejalan dengan kenyataan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan preferensi berbeda.
Ada yang merasa percaya diri dengan warna cerah, sementara yang lain lebih menyukai warna netral. Ada yang nyaman mengenakan pakaian longgar, sedangkan sebagian lainnya memilih potongan yang lebih terstruktur.
Tidak ada alasan untuk menilai salah satu pilihan tersebut lebih baik hanya karena sedang populer. Gaya berpakaian juga dipengaruhi iklim, pekerjaan, budaya, aturan berpakaian, dan kemampuan finansial.
Karena itu, seseorang yang memilih pakaian sederhana bukan berarti kurang modis. Sebaliknya, orang yang senang mengikuti tren juga tidak otomatis dangkal atau hanya mementingkan penampilan.
Kita perlu berhenti menyamakan gaya personal dengan keharusan untuk tampil berbeda. Seseorang bisa saja menyukai tren yang sedang populer karena memang sesuai dengan seleranya.
Hal itu tidak mengurangi keaslian pilihannya. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika seseorang merasa tidak punya pilihan lain selain mengikuti tren agar bisa diterima.
Mengejar Tren Bisa Membuat Belanja Kehilangan Tujuan
Persoalan berikutnya muncul ketika tren fashion yang cepat berubah mendorong kebiasaan membeli pakaian secara berulang. Pakaian yang baru dibeli dapat terasa membosankan ketika muncul model lain yang lebih populer.
Jika keadaan ini terus terjadi, belanja berisiko berubah dari kegiatan memenuhi kebutuhan menjadi usaha mengejar kepuasan sesaat.
Penelitian Sabrina Agistia Ritonga mengenai konsumsi fast fashion di kalangan anak muda Indonesia, yang diterbitkan pada Agustus 2026, menggabungkan survei terhadap 412 responden berusia 17–30 tahun dan wawancara dengan sepuluh narasumber.
Penelitian tersebut melaporkan bahwa sekitar 76% responden pernah membeli fast fashion setidaknya sekali dalam dua bulan terakhir. Keterjangkauan harga dan paparan tren digital termasuk faktor yang banyak disebut dalam temuan itu.
Angka tersebut menggambarkan sampel penelitian, bukan keseluruhan anak muda Indonesia. (Critical Issue of Sustainable Future)
Data tersebut perlu dibaca secara proporsional. Membeli pakaian fast fashion tidak otomatis berarti seseorang boros atau tidak peduli terhadap lingkungan.
Harga yang terjangkau justru dapat menjadi pertimbangan penting bagi konsumen dengan anggaran terbatas. Kita tidak seharusnya menyalahkan konsumen hanya karena mereka memilih pakaian yang sesuai dengan kemampuan finansialnya.
Namun, keterjangkauan harga tidak berarti setiap pembelian harus dilakukan. Menurut saya, hal yang lebih penting untuk dievaluasi adalah alasan di balik keputusan belanja.
Apakah pakaian tersebut benar-benar dibutuhkan, cocok dengan aktivitas sehari-hari, dan dapat digunakan berulang kali? Atau, kita membelinya hanya karena produk itu sedang viral dan takut dianggap ketinggalan zaman?
Pertanyaan tersebut bukan ajakan untuk berhenti membeli pakaian baru. Sebaliknya, kita perlu memiliki kendali atas keputusan sendiri.
Jika sebuah pakaian hanya akan digunakan sekali lalu dilupakan, menunda pembelian bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
Selain membantu mengatur pengeluaran, kebiasaan ini juga membuat kita lebih menghargai barang yang sudah dimiliki.
Memilih Pakaian Berdasarkan Kebutuhan, Bukan Ekspektasi Orang Lain
Membangun gaya berpakaian personal tidak harus dimulai dengan membeli banyak pakaian baru. Kita dapat memulainya dengan melihat isi lemari dan mengenali pakaian yang paling sering digunakan.
Dari sana, kita bisa mengetahui warna, model, dan jenis busana yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan.
Sebelum membeli pakaian, ada baiknya mempertimbangkan fungsi dan kemungkinan penggunaannya. Pakaian untuk bekerja, kuliah, berolahraga, dan menghadiri acara tertentu tentu memiliki kebutuhan berbeda.
Dengan menentukan kebutuhan terlebih dahulu, kita dapat membedakan pembelian yang memang diperlukan dari keinginan sesaat akibat tren.
Penelitian Andika dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Revista Galega de Economía pada Mei 2026 membahas niat konsumen muda Indonesia untuk beralih dari fast fashion menuju pilihan yang lebih berkelanjutan.
Survei terhadap 306 konsumen Generasi Z dan milenial menunjukkan bahwa paparan media sosial serta persepsi tentang daya tahan produk berkaitan dengan sikap terhadap fashion berkelanjutan.
Penelitian tersebut juga menyoroti kebiasaan yang sudah terbentuk sebagai salah satu hambatan perubahan perilaku belanja. (Revista Galega de Economía)
Temuan ini memperlihatkan bahwa mengetahui pilihan yang lebih baik belum tentu langsung mengubah kebiasaan seseorang.
Karena itu, menurut saya, kita tidak perlu memaksakan perubahan besar sekaligus. Memadukan kembali pakaian lama, merawat busana agar tahan lama, menetapkan anggaran, dan mempertimbangkan kualitas sebelum membeli merupakan langkah sederhana yang realistis.
Kita juga perlu mengubah cara memandang inspirasi dari media sosial. Tidak semua gaya yang terlihat menarik harus ditiru secara utuh.
Kita bisa mengambil ide kombinasi warna, mencoba model yang sesuai, atau sekadar menikmati kreativitas orang lain tanpa merasa harus memiliki barang yang sama.
Pada akhirnya, tanggung jawab menentukan gaya berpakaian tidak seharusnya sepenuhnya diserahkan kepada tren atau penilaian orang lain.
Kita tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan, kenyamanan, dan kemampuan finansial sendiri. Pilihan yang tepat bukan selalu pakaian paling baru, melainkan pakaian yang memang bermanfaat dan sesuai dengan kehidupan kita.
Baca Juga : Kerusakan Lingkungan Terus Berulang, Apakah Kepedulian Kita Hanya Sebatas Kata?
Tren Boleh Berubah, Pilihan Kita Tetap Milik Sendiri
Fashion akan terus berkembang, dan mengikuti tren dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan mencoba model baru atau membeli pakaian populer selama keputusan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.
Namun, kita perlu menyadari bahwa tren bukan ukuran mutlak untuk menentukan kualitas penampilan seseorang.
Tidak semua pakaian yang viral cocok untuk semua orang, dan tidak semua gaya yang sederhana berarti ketinggalan zaman.
Menjadikan tren sebagai satu-satunya patokan hanya akan membuat kita terus mengejar standar yang berubah-ubah.
Menurut saya, kita perlu menempatkan fashion kembali sebagai sarana berekspresi, bukan perlombaan untuk mendapatkan pengakuan.
Kita boleh terinspirasi oleh influencer, teman, atau tren yang sedang populer, tetapi tetap berhak memilih apa yang sesuai dengan diri sendiri.
Kita tidak harus membeli setiap produk yang viral atau mengganti isi lemari setiap kali tren berubah. Sebab, pada akhirnya, pakaian seharusnya mendukung kehidupan kita, bukan membuat kita terus merasa kurang. Mengikuti tren boleh saja, selama kita tidak kehilangan kendali atas pilihan sendiri.









Leave a Comment