Kerja Fleksibel Dianggap Ideal, tetapi Apakah Batas Kerja dan Kehidupan Makin Kabur?

Mazaya Farandy

October 12, 2026

8
Min Read
Kerja fleksibel sering dianggap sebagai solusi ideal bagi pekerja modern karena memberikan keleluasaan mengatur waktu, tempat, dan cara menyelesaikan pekerjaan.

sekitarmalangraya – Kerja fleksibel sering dianggap sebagai solusi ideal bagi pekerja modern karena memberikan keleluasaan mengatur waktu, tempat, dan cara menyelesaikan pekerjaan.

Namun, fleksibilitas tidak seharusnya hanya diukur dari kebebasan bekerja di luar kantor atau menentukan jadwal sendiri. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pekerja tetap memiliki kendali atas waktu istirahat dan kehidupan pribadinya.

Ketika pesan pekerjaan terus masuk setelah jam kerja, rapat berlangsung di luar jadwal, dan pekerja merasa harus selalu tersedia, fleksibilitas justru berisiko menjadi bentuk tekanan baru. Pekerja memang tidak selalu harus hadir di kantor, tetapi bukan berarti mereka harus selalu siap bekerja.

Menurut saya, persoalan utama kerja fleksibel bukan terletak pada lokasi atau jadwal kerja, melainkan pada batas tanggung jawab yang tidak jelas.

Kebebasan mengatur pekerjaan akan kehilangan makna jika pekerja tetap dituntut merespons setiap saat. Dalam kondisi seperti ini, fleksibilitas berpotensi memindahkan beban pengaturan waktu dari perusahaan kepada individu tanpa disertai kendali yang memadai.

Karena itu, kerja fleksibel seharusnya dipahami sebagai kesepakatan yang memberi ruang bagi pekerja dan perusahaan untuk mengatur pekerjaan secara lebih efektif.

Tanpa aturan komunikasi, target yang realistis, dan penghormatan terhadap waktu istirahat, fleksibilitas hanya akan mengubah cara bekerja tanpa benar-benar memperbaiki kualitas kehidupan pekerja.

Kerja Fleksibel Bukan Sekadar Bekerja dari Mana Saja

Pembicaraan mengenai kerja fleksibel sering berpusat pada kebebasan bekerja dari rumah, kafe, atau lokasi lain di luar kantor.

Padahal, fleksibilitas juga menyangkut waktu mulai bekerja, pembagian jadwal, serta keleluasaan mengatur penyelesaian tugas selama target dan tanggung jawab terpenuhi.

Model kerja hybrid, misalnya, memungkinkan pekerja membagi waktu antara kantor dan lokasi lain. Sementara itu, pekerja lepas atau pekerja berbasis platform dapat memiliki keleluasaan menentukan waktu menerima pekerjaan, meskipun kebebasan tersebut bergantung pada permintaan pelanggan, sistem platform, dan kebutuhan penghasilan.

Karena itu, tidak semua bentuk fleksibilitas memberikan kendali yang sama. Karyawan yang dapat memilih waktu kerja berdasarkan kesepakatan dengan perusahaan memiliki situasi berbeda dari pekerja yang harus terus memantau aplikasi untuk mendapatkan pesanan.

Keduanya mungkin tidak terikat pada pola kantor konvensional, tetapi tingkat kepastian pendapatan dan kendali atas waktu bisa sangat berbeda.

Survei Segara Research Institute yang diberitakan Bisnis.com pada 2 Oktober 2026 memberikan gambaran tentang daya tarik fleksibilitas.

Survei terhadap 506 pekerja berbasis platform di lima kota pada Agustus–September 2026 menemukan bahwa 88,1% responden memilih pekerjaan tersebut karena fleksibilitas waktu. Namun, 81,6% juga mengandalkannya sebagai sumber penghasilan utama.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa fleksibilitas memiliki daya tarik nyata bagi pekerja berbasis platform.

Namun, tingginya minat terhadap jadwal yang lebih leluasa tidak otomatis berarti para pekerja memiliki kebebasan penuh dalam menentukan kapan harus bekerja.

Ketika pekerjaan menjadi sumber penghasilan utama, keputusan untuk berhenti menerima pesanan atau tidak aktif pada waktu tertentu dapat berkaitan dengan kebutuhan ekonomi.

Dengan kata lain, fleksibilitas dalam menentukan jadwal belum tentu sama dengan kemampuan untuk mengambil waktu istirahat tanpa kekhawatiran kehilangan penghasilan.

Di sinilah pentingnya membedakan fleksibilitas sebagai pilihan dengan fleksibilitas yang dibatasi oleh kebutuhan. Data tersebut memang tidak membuktikan bahwa semua pekerja platform mengalami tekanan yang sama.

Namun, temuan itu cukup menjadi pengingat bahwa kebijakan kerja fleksibel perlu dinilai berdasarkan kondisi nyata pekerja, bukan hanya dari banyaknya pilihan jadwal yang tersedia.

Baca Juga : Pasar Tradisional Masih Dibutuhkan, tetapi Apakah Sudah Nyaman bagi Generasi Muda?

Mengapa Fleksibilitas Waktu Semakin Diminati Pekerja?

Salah satu daya tarik kerja fleksibel adalah kesempatan menyesuaikan pekerjaan dengan kebutuhan sehari-hari.

Pekerja dapat mengurangi waktu perjalanan, mengatur kegiatan keluarga, atau memilih lingkungan yang mendukung konsentrasi.

Bagi sebagian orang, penghematan waktu perjalanan juga memberi ruang untuk beristirahat atau menjalankan aktivitas di luar pekerjaan. Fleksibilitas juga dapat membantu perusahaan menyesuaikan pola kerja dengan karakter tugas.

Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi individual mungkin dapat diselesaikan dari rumah, sedangkan diskusi tim atau kegiatan yang memerlukan peralatan khusus lebih efektif dilakukan di kantor. Artinya, tidak semua pekerjaan harus menggunakan pengaturan yang seragam.

Survei JLL mengenai tenaga kerja Indonesia yang diterbitkan pada Desember 2025 menunjukkan gambaran yang lebih beragam.

Sebanyak 87% pekerja Indonesia yang disurvei menyatakan diwajibkan masuk kantor dengan jumlah hari tertentu.

Pada saat yang sama, 87% responden yang bekerja di kantor melaporkan sentimen positif terhadap kebijakan kembali ke kantor.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman bekerja tidak dapat disederhanakan menjadi pertentangan antara kantor dan rumah.

Bekerja di kantor pun dapat dipandang positif ketika lingkungan kerja mendukung kolaborasi, komunikasi, dan penyelesaian tugas.

Sebaliknya, bekerja dari lokasi yang lebih bebas belum tentu memberikan keseimbangan jika pekerja tetap menghadapi tuntutan komunikasi tanpa batas.

Menurut saya, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah model kerja mana yang harus diterapkan kepada semua orang, melainkan apakah pengaturan tersebut sesuai dengan kebutuhan pekerjaan dan memberikan batas yang wajar.

Perusahaan tidak perlu menganggap fleksibilitas sebagai tujuan yang harus selalu dimaksimalkan. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa pilihan lokasi dan waktu kerja benar-benar membantu produktivitas tanpa mengorbankan waktu pribadi.

Ketika Kebebasan Kerja Berubah Menjadi Tuntutan untuk Selalu Siaga

Masalah muncul ketika kerja fleksibel hanya mengubah lokasi bekerja, sementara tuntutan untuk selalu merespons tetap berlangsung sepanjang hari.

Pesan dari atasan pada malam hari, permintaan revisi mendadak saat akhir pekan, atau rapat di luar jam yang disepakati dapat membuat waktu pribadi terasa seperti perpanjangan kantor.

Dalam kondisi tersebut, pekerja mungkin tidak benar-benar berhenti bekerja meskipun laptop sudah ditutup.

Mereka tetap memeriksa notifikasi, memikirkan tugas yang belum selesai, atau khawatir dianggap tidak bertanggung jawab jika terlambat membalas pesan.

Batas kerja dan kehidupan pribadi akhirnya menjadi kabur bukan karena fleksibilitas itu sendiri, melainkan karena tidak adanya kesepakatan yang tegas.

Penelitian tentang kesejahteraan karyawan dalam lingkungan kerja hybrid di Indonesia yang tercatat di Garuda Kemdiktisaintek pada 2026 menelaah 200 pekerja.

Studi tersebut menemukan hubungan positif antara keseimbangan kehidupan kerja dan kesejahteraan karyawan, serta peran penting dukungan atasan dalam membantu menjaga keseimbangan tersebut.

Temuan ini memperkuat argumen bahwa pengaturan kerja tidak cukup hanya memberikan kebebasan lokasi.

Dukungan manajer dan kemampuan mengelola batas antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi juga penting.

Namun, hasil penelitian terhadap kelompok tertentu tidak berarti semua pekerja akan mengalami dampak yang sama.

Menurut saya, perusahaan tidak seharusnya menilai komitmen pekerja dari kecepatan membalas pesan di luar jam kerja.

Respons cepat memang dapat dibutuhkan dalam situasi darurat yang sudah disepakati, tetapi menjadikannya kebiasaan harian justru berpotensi menciptakan tekanan yang tidak perlu. Fleksibilitas kehilangan maknanya ketika pekerja tidak pernah merasa bebas dari pekerjaan.

Dukungan Perusahaan Menentukan Keseimbangan Kerja dan Kehidupan

Menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada kemampuan individu mengatur waktu.

Nasihat agar pekerja lebih disiplin atau pandai menentukan prioritas akan sulit diterapkan jika sistem kerja itu sendiri mendorong mereka untuk selalu tersedia.

Ketika target terlalu tinggi, jumlah pekerjaan tidak realistis, atau atasan terus mengirim permintaan di luar jam kerja, pekerja membutuhkan dukungan perusahaan, bukan sekadar tuntutan untuk mengatur waktu dengan lebih baik.

Karena itu, perusahaan perlu menetapkan aturan komunikasi yang jelas, termasuk waktu kerja, mekanisme keadaan mendesak, serta ekspektasi waktu respons.

Aturan tersebut bukan berarti melarang seluruh komunikasi di luar jam kerja, melainkan memastikan bahwa kebutuhan mendesak dibedakan dari pekerjaan yang sebenarnya bisa menunggu hari berikutnya.

Pengukuran kinerja juga sebaiknya berfokus pada kualitas dan hasil kerja, bukan semata-mata status daring atau lamanya seseorang terlihat aktif.

Selama tanggung jawab diselesaikan sesuai standar, pekerja seharusnya memiliki ruang untuk mengatur cara menyelesaikan tugas berdasarkan kesepakatan tim.

Selain itu, atasan perlu memberi contoh dalam menghormati batas waktu. Kebijakan tertulis akan sulit berjalan jika pimpinan terus mengirim pekerjaan pada malam hari dan mengharapkan jawaban segera. Budaya kerja yang sehat membutuhkan konsistensi antara aturan formal dan perilaku sehari-hari.

Pekerja juga memiliki peran untuk menyampaikan kapasitas, menyepakati prioritas, dan membicarakan jadwal ketika beban tugas mulai mengganggu waktu pribadi.

Namun, keberanian menyampaikan batas tidak selalu cukup apabila perusahaan tidak menyediakan dukungan. Keseimbangan harus dibangun melalui tanggung jawab bersama, bukan dijadikan persoalan disiplin individu semata.

Baca Juga : Mengapa Masyarakat Masih Enggan Beralih ke Transportasi Umum?

Kerja Fleksibel Perlu Memberi Kendali, Bukan Sekadar Memindahkan Beban

Pada akhirnya, kerja fleksibel seharusnya dinilai dari kualitas kendali yang dimiliki pekerja atas waktu dan tanggung jawabnya, bukan semata-mata dari kebebasan memilih lokasi kerja.

Sistem yang memungkinkan seseorang bekerja dari mana saja tetapi menuntutnya selalu merespons belum tentu memberikan fleksibilitas yang sesungguhnya.

Perusahaan memang membutuhkan produktivitas, koordinasi, dan penyelesaian tugas sesuai target. Namun, kebutuhan tersebut tidak harus diwujudkan dengan menghilangkan batas antara waktu kerja dan waktu pribadi.

Justru, kejelasan tanggung jawab dan penghormatan terhadap waktu istirahat dapat menjadi dasar hubungan kerja yang lebih sehat.

Karena itu, fleksibilitas seharusnya tidak dijadikan alasan untuk memindahkan seluruh beban pengaturan waktu kepada pekerja.

Perusahaan perlu memastikan bahwa kebijakan kerja sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, sementara pekerja memperoleh ruang yang wajar untuk beristirahat dan menjalani kehidupan di luar pekerjaan.

Kerja fleksibel baru benar-benar bermakna ketika pekerja memiliki keleluasaan untuk bekerja sekaligus hak untuk berhenti bekerja.

Tanpa keseimbangan tersebut, fleksibilitas hanya menjadi perubahan bentuk pekerjaan, bukan perbaikan cara kerja.

Leave a Comment

Related Post