Motor Listrik Mahasiswa UPI Tembus 494 Km/kWh, Seberapa Efisien Inovasinya?

Mazaya Farandy

October 9, 2026

6
Min Read
Motor listrik karya mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mencatat efisiensi energi sebesar 494,52 km/kWh dalam Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2026.

sekitarmalangraya – Motor listrik karya mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mencatat efisiensi energi sebesar 494,52 km/kWh dalam Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2026.

Capaian Tim Bumi Siliwangi 1 tersebut mengantarkan UPI meraih juara ketiga pada kelas Prototipe Motor Listrik dalam kompetisi nasional yang berlangsung di Universitas Jember, Jawa Timur.

Angka tersebut menarik perhatian karena menunjukkan seberapa jauh kendaraan dapat melaju menggunakan satu kilowatt-jam energi listrik.

Namun, prestasi ini bukan sekadar tentang angka efisiensi. Perjalanan tim yang sempat gagal menyelesaikan balapan pertama juga memperlihatkan pentingnya evaluasi, eksperimen, dan pembelajaran berbasis proyek dalam pendidikan tinggi.

Lantas, bagaimana hasil tersebut perlu dipahami, dan apa yang membuat kompetisi seperti KMHE penting bagi pengembangan kemampuan mahasiswa?

Motor Listrik Mahasiswa UPI Catat Efisiensi 494,52 Km/kWh

Tim Bumi Siliwangi 1 dari UPI berhasil menempati posisi ketiga pada kelas Prototipe Motor Listrik dalam KMHE 2026.

Berdasarkan laporan resmi Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) UPI yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, tim tersebut mencatat efisiensi terbaik sebesar 494,52 kilometer per kilowatt-jam atau km/kWh.

Efisiensi tersebut menggambarkan jarak yang ditempuh kendaraan untuk setiap satu kilowatt-jam energi listrik yang digunakan dalam pengujian.

Semakin tinggi nilai km/kWh, semakin jauh jarak yang dapat dicapai untuk jumlah energi yang sama dalam kondisi pengukuran kompetisi.

Sebagai contoh sederhana, jika kendaraan menggunakan satu kilowatt-jam energi dan mampu menempuh jarak 494,52 kilometer dalam pengujian yang sesuai dengan metode kompetisi, nilai efisiensinya adalah 494,52 km/kWh.

Angka itu merupakan hasil pengujian kendaraan dalam perlombaan, bukan jaminan jarak tempuh untuk kendaraan listrik yang digunakan sehari-hari.

Perlu dipahami pula bahwa istilah motor listrik dalam nama kelas KMHE tidak otomatis berarti sepeda motor listrik roda dua. Dalam konteks kompetisi ini, istilah tersebut merujuk pada kelas kendaraan prototipe dengan penggerak listrik.

Bumi Siliwangi 1 diperkuat oleh 13 mahasiswa, terdiri atas 11 mahasiswa Pendidikan Teknik Otomotif dari FPTI UPI dan dua mahasiswa Kimia dari Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) UPI. Fardhan Azhar, mahasiswa Pendidikan Teknik Otomotif, dipercaya menjadi pengemudi.

Komposisi tim tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kendaraan hemat energi dapat melibatkan keahlian dari bidang studi berbeda.

Pengetahuan otomotif dan kimia bertemu dalam proyek yang menuntut perencanaan, pengujian, serta evaluasi teknis.

Baca Juga : Sekolah Nasional Terintegrasi Mulai Berjalan, Bisakah Pendidikan Bermutu Lebih Merata?

Persaingan KMHE 2026 Menguji Efisiensi Kendaraan Mahasiswa

Kontes Mobil Hemat Energi merupakan ajang nasional yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk merancang, mengembangkan, dan menguji kendaraan hemat energi.

Pada 2026, kompetisi berlangsung pada 1–4 Oktober di Universitas Jember dan diikuti 64 tim dari 42 perguruan tinggi.

Menurut laporan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, kompetisi tersebut mempertandingkan kategori Prototype dan Urban Concept, masing-masing dengan sejumlah kelas berdasarkan jenis penggeraknya.

Dalam kelas Prototipe Motor Listrik, peserta berkompetisi menggunakan kendaraan hasil pengembangan tim masing-masing dengan efisiensi energi sebagai dasar penilaian.

Hasil resmi menunjukkan bahwa posisi pertama kelas Prototipe Motor Listrik diraih Antawirya Rondhan EV dari Universitas Diponegoro dengan catatan 880,41 km/kWh.

Posisi kedua ditempati Semar Proto UGM dari Universitas Gadjah Mada dengan 498,26 km/kWh. Bumi Siliwangi 1 dari UPI berada di posisi ketiga dengan 494,52 km/kWh.

Selisih hasil UPI dan tim peringkat kedua hanya sekitar 3,74 km/kWh. Sementara itu, hasil peringkat pertama menunjukkan adanya jarak efisiensi yang cukup besar dibandingkan dua tim berikutnya.

Perbandingan ini memberi gambaran mengenai ketatnya persaingan, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan kualitas keseluruhan kendaraan di luar parameter perlombaan.

Performa kendaraan sehari-hari juga dipengaruhi faktor seperti kondisi jalan, beban, kecepatan, pola berkendara, dan kondisi sistem energi. Karena itu, capaian km/kWh lebih tepat dibaca sebagai hasil pengujian dalam konteks kompetisi.

Nilai tersebut menunjukkan kemampuan kendaraan memanfaatkan energi pada kondisi yang ditetapkan panitia, bukan ukuran tunggal untuk menilai kesiapan teknologi digunakan secara komersial.

Dari Gagal Menyelesaikan Balapan hingga Mencatat Hasil Terbaik

Perjalanan Bumi Siliwangi 1 dalam babak final tidak berjalan mulus sejak awal. Berdasarkan laporan FPTI UPI, tim tidak berhasil menyelesaikan balapan pertama atau mengalami Did Not Finish (DNF).

Setelah melakukan evaluasi, tim mencatat efisiensi sebesar 312,96 km/kWh pada balapan kedua. Pada balapan ketiga, catatan itu meningkat menjadi 494,52 km/kWh dan menjadi hasil terbaik tim dalam kompetisi tersebut.

Jika dibandingkan dengan hasil balapan kedua, angka pada balapan ketiga meningkat sekitar 58%. Perhitungan tersebut menunjukkan perubahan hasil pengujian, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab peningkatan itu.

Sumber resmi yang tersedia tidak merinci komponen atau strategi teknis tertentu yang diubah tim setelah balapan pertama.

Meski demikian, rangkaian hasil tersebut memberikan contoh pentingnya evaluasi dalam proses rekayasa. Pengembangan teknologi tidak selalu menghasilkan performa optimal pada percobaan pertama.

Pengujian dapat mengungkap kendala, sementara evaluasi membantu tim menentukan langkah berikutnya berdasarkan hasil yang diamati.

Dalam pendidikan, pengalaman semacam ini memiliki nilai tersendiri. Mahasiswa tidak hanya menerapkan teori, tetapi juga berhadapan dengan persoalan nyata yang membutuhkan ketelitian, komunikasi, dan pengambilan keputusan.

Kegagalan menyelesaikan satu sesi tidak harus menjadi akhir proses, selama tim mampu mempelajari hasilnya dan memperbaiki pendekatan secara terukur.

Kolaborasi Mahasiswa Menjadi Bagian Penting Inovasi Kendaraan

Pengembangan motor listrik untuk kompetisi memerlukan lebih dari sekadar pemahaman mengenai penggerak kendaraan.

Tim juga perlu mempertimbangkan rancangan bodi, sasis, sistem kemudi, pengereman, kontrol, serta bagaimana seluruh bagian bekerja bersama untuk mendukung efisiensi.

Laporan resmi FPTI UPI menjelaskan bahwa tahapan menuju final KMHE mencakup seleksi peserta, penilaian Laporan Desain Kendaraan, dan pemeriksaan teknis secara virtual.

Dalam laporan desain, peserta perlu menunjukkan rancangan dan kemampuan teknis kendaraan, termasuk aspek aerodinamika, sasis, sistem kemudi dan pengereman, motor listrik, serta sistem kontrol.

Tahapan tersebut menjadikan kompetisi sebagai sarana pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik.

Mahasiswa perlu menyampaikan alasan di balik rancangan, mempertimbangkan aspek keselamatan, dan memastikan kendaraan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku.

Keterlibatan mahasiswa Kimia bersama mahasiswa Pendidikan Teknik Otomotif juga memperlihatkan potensi kolaborasi lintas disiplin.

Namun, kontribusi teknis spesifik setiap anggota tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan komposisi tim. Hal yang dapat ditegaskan adalah bahwa proyek ini melibatkan mahasiswa dari dua program studi yang berbeda.

Pendampingan dosen turut menjadi bagian dari proses persiapan tim. Berdasarkan laporan kampus, Sriyono, M.Pd., dan Ramdhani, S.Pd., M.Eng., menjadi dosen pembimbing Bumi Siliwangi 1.

Pengalaman tersebut dapat memperkuat keterampilan mahasiswa dalam bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan menguji gagasan secara sistematis.

Kompetensi seperti ini relevan bagi pendidikan teknik karena proses inovasi membutuhkan pengetahuan sekaligus kemampuan menerapkannya.

Baca Juga : Mendikdasmen Buka Kajian Siswa Tak Otomatis Naik Kelas Mulai 2027

Riset Kampus Berpeluang Mendorong Transportasi Lebih Efisien

Prestasi UPI dalam KMHE 2026 menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang untuk mengembangkan dan menguji gagasan teknologi.

Meski demikian, prototipe yang berhasil mencatat efisiensi tinggi di lintasan kompetisi belum tentu siap diproduksi massal atau digunakan langsung sebagai kendaraan komersial.

Pengembangan lebih lanjut tetap membutuhkan pengujian yang sesuai, evaluasi keselamatan, keandalan komponen, kemudahan perawatan, serta penilaian biaya dan kebutuhan pengguna.

Efisiensi energi merupakan salah satu aspek penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan teknologi transportasi.

Bagi perguruan tinggi, kompetisi seperti KMHE dapat menjadi bagian dari pembelajaran berbasis proyek. Mahasiswa memperoleh kesempatan menguji pengetahuan, menghadapi persoalan teknis, dan mengembangkan kerja sama lintas bidang. Hasil perlombaan juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk penelitian berikutnya.

Pada akhirnya, capaian 494,52 km/kWh dari Bumi Siliwangi 1 bukan hanya tentang posisi ketiga di tingkat nasional. Angka tersebut merekam hasil dari proses desain, pengujian, dan evaluasi yang dilakukan mahasiswa.

Tantangan selanjutnya adalah menjaga keberlanjutan riset agar pengalaman kompetisi dapat berkembang menjadi pengetahuan dan inovasi yang lebih matang.

Dengan dukungan kampus, dosen, fasilitas pengujian, dan kolaborasi lintas disiplin, riset mahasiswa berpeluang terus berkontribusi terhadap pengembangan teknologi kendaraan yang lebih efisien.

Di sinilah nilai pendidikan dari kompetisi terlihat: bukan hanya mengejar kemenangan, melainkan membangun kemampuan untuk menguji gagasan dan memperbaikinya berdasarkan bukti.

Leave a Comment

Related Post