Media Sosial Mengubah Gaya Hidup Anak Muda, Benarkah Semua Tren Harus Diikuti?

Mazaya Farandy

October 7, 2026

6
Min Read
Media sosial semakin sulit dipisahkan dari keseharian anak muda, mulai dari mencari hiburan, berkomunikasi, menemukan informasi, hingga melihat gaya hidup orang lain.

sekitarmalangraya – Media sosial semakin sulit dipisahkan dari keseharian anak muda, mulai dari mencari hiburan, berkomunikasi, menemukan informasi, hingga melihat gaya hidup orang lain.

Di tengah arus konten yang bergerak sangat cepat, muncul pertanyaan penting: benarkah semua tren yang muncul perlu diikuti?

Pertanyaan ini relevan karena internet telah menjadi ruang yang sangat dekat dengan generasi muda. Survei Profil Internet Indonesia 2026 dari APJII mencatat penetrasi internet Gen Z mencapai 89,02%, sementara penetrasi internet nasional mencapai 81,7%.

Data tersebut memang berbicara tentang akses internet secara umum, bukan penggunaan media sosial secara khusus. Namun, angka itu menunjukkan besarnya ruang digital dalam kehidupan generasi muda.

Di satu sisi, media sosial membuka kesempatan menemukan komunitas, ide, hiburan, pengetahuan, dan peluang ekonomi. Di sisi lain, derasnya tren dapat membuat gaya hidup terasa seperti perlombaan.

Karena itu, persoalannya bukan apakah anak muda boleh mengikuti tren. Persoalannya adalah apakah mereka masih memiliki ruang untuk memilih ketika sebuah tren terus muncul di layar.

Media Sosial Membuat Tren Semakin Cepat Menyebar

Media sosial membuat tren tidak lagi membutuhkan waktu lama untuk dikenal banyak orang. Satu video dapat memicu tren makanan, pakaian, olahraga, tempat nongkrong, bahasa pergaulan, atau aktivitas tertentu dalam waktu singkat.

Ketika konten serupa muncul berulang kali, sesuatu yang awalnya terasa asing dapat terlihat seperti bagian normal dari kehidupan sehari-hari.

Pew Research Center dalam riset terhadap 1.458 remaja Amerika Serikat berusia 13–17 tahun menemukan bahwa hiburan menjadi alasan utama penggunaan TikTok, Instagram, dan Snapchat.

Banyak remaja juga menggunakan platform tersebut untuk terhubung dengan teman dan orang lain yang memiliki minat serupa. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya tempat melihat konten, tetapi juga ruang sosial.

Di Indonesia, APJII mencatat komunikasi dan jejaring sosial menjadi salah satu alasan utama masyarakat menggunakan internet.

Arus tren tidak hanya bekerja melalui konten yang dilihat, tetapi juga melalui percakapan dan interaksi dengan lingkungan sosial.

Masalah muncul ketika frekuensi paparan membuat sesuatu terasa wajib diikuti. Paparan berulang dapat membuat seseorang bertanya apakah dirinya tertinggal hanya karena belum mengikuti tren tersebut.

Mengapa Anak Muda Mudah Terpengaruh Tren?

Ada alasan psikologis dan sosial di balik kecenderungan mengikuti tren. Pada masa remaja, penerimaan dari kelompok sebaya dapat memiliki peran penting dalam pembentukan identitas.

Psikolog Cakra Medika Ayu S. Sadewo, yang dikutip ANTARA, menjelaskan bahwa remaja sering mengikuti tren karena kebutuhan untuk diterima teman sebaya, rasa ingin tahu, dan ketakutan tertinggal atau FOMO.

Dalam situasi seperti itu, mengikuti tren bukan selalu keputusan yang sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan pribadi. Ada kalanya keputusan dibuat karena ingin tetap dianggap nyambung dengan lingkungan.

Media sosial kemudian memperluas situasi tersebut. Anak muda bukan hanya membandingkan dirinya dengan teman di sekitar, tetapi juga dengan orang yang mereka lihat melalui layar.

Psikolog Teresa Indira Andani mengatakan penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mendorong perbandingan sosial.

Remaja dapat merasa dirinya kurang menarik, kurang populer, atau kurang berhasil ketika melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna.

Di sinilah penting membedakan inspirasi dan tekanan. Melihat seseorang berolahraga lalu tertarik mencoba olahraga baru adalah hal berbeda dengan merasa harus melakukannya karena takut dianggap tidak mengikuti perkembangan.

Mengikuti Tren Tidak Selalu Berarti Buruk

Menyalahkan media sosial setiap kali anak muda mengikuti tren juga terlalu sederhana. Tidak semua tren membawa pengaruh buruk.

Ada tren yang justru memperkenalkan aktivitas positif, membuka ruang kreativitas, mempertemukan orang dengan komunitas yang memiliki minat sama, atau membuat seseorang berani mencoba pengalaman baru.

Tren gaya hidup juga dapat menjadi pintu masuk untuk perubahan bermanfaat, seperti berolahraga, membaca, memasak, membuat karya visual, atau belajar keterampilan baru.

Data PwC Indonesia dalam Voice of the Consumer 2026 juga memperlihatkan bahwa pengaruh eksternal menjadi bagian dari keputusan konsumen.

Sebanyak 45% responden menyebut konten media sebagai salah satu pengaruh, sementara 34% menyebut tren wellness dan 27% influencer.

Angka tersebut tidak berarti semua orang mengikuti tren otomatis, tetapi menunjukkan bahwa lingkungan informasi digital dapat ikut membentuk pilihan.

Karena itu, masalah sebenarnya bukan keberadaan tren. Yang perlu dipertanyakan adalah alasan di balik keputusan untuk mengikutinya.

Jika seseorang mengikuti tren karena memang tertarik, mampu menjalaninya, dan merasa sesuai dengan kebutuhannya, tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Sebaliknya, jika keputusan muncul karena tekanan sosial atau ketakutan tertinggal, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak.

Ketika FOMO Membuat Gaya Hidup Terasa Seperti Perlombaan

FOMO atau Fear of Missing Out membuat seseorang takut tertinggal dari pengalaman orang lain. Dalam konteks media sosial, perasaan tersebut dapat semakin kuat karena pengguna terus menerima pembaruan tentang aktivitas orang lain.

Bayangkan seseorang membuka ponsel dan melihat teman pergi ke tempat yang sedang populer. Beberapa menit kemudian muncul video tren makanan terbaru.

Setelah itu, muncul konten olahraga, fesyen, konser, atau perjalanan yang sedang ramai. Jika semuanya terlihat sebagai standar kehidupan yang harus dicapai, gaya hidup dapat berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.

Psikolog Teresa Indira Andani juga mengingatkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat berkaitan dengan FOMO, perbandingan sosial, dan gangguan tidur.

Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa media sosial pasti menyebabkan kondisi tersebut pada semua orang.

Pengalaman setiap pengguna berbeda, dan persoalan biasanya berkaitan dengan pola penggunaan serta bagaimana seseorang merespons konten yang dikonsumsi.

Yang perlu disadari adalah media sosial tidak menampilkan kehidupan secara utuh. Orang cenderung membagikan momen yang dianggap menarik atau layak ditampilkan.

Karena itu, membandingkan kehidupan sehari-hari dengan potongan kehidupan orang lain di layar sebenarnya tidak sepenuhnya setara.

Tidak Semua Tren Harus Diikuti

Di titik inilah konsep JOMO atau Joy of Missing Out menjadi menarik. JOMO menggambarkan rasa nyaman ketika seseorang memilih tidak mengikuti sesuatu yang sedang ramai.

Konsep ini bukan ajakan untuk menjauhi media sosial atau menolak semua tren, melainkan kemampuan untuk merasa cukup dengan pilihan sendiri.

Menurut saya, kemampuan mengatakan “tidak ikut” justru menjadi semakin penting ketika pilihan di media sosial semakin banyak.

Anak muda tidak harus mencoba semua tempat yang viral, membeli semua produk yang sedang ramai, mengikuti setiap gaya berpakaian, atau memiliki pengalaman yang sama dengan orang lain.

Memilih tidak mengikuti tren juga bukan berarti seseorang ketinggalan zaman. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa seseorang mulai mengenali batas kebutuhan dan minatnya.

Media sosial seharusnya menjadi tempat menemukan pilihan, bukan penentu bagaimana seseorang harus hidup. Tren boleh menjadi inspirasi, tetapi keputusan akhir tetap seharusnya berada di tangan pengguna.

Pada akhirnya, tantangan anak muda di era digital bukan sekadar bagaimana menghindari pengaruh media sosial. Tantangannya adalah membangun kemampuan untuk memilah pengaruh tersebut.

Mana yang benar-benar sesuai, mana yang hanya menarik sesaat, dan mana yang diikuti hanya karena takut tertinggal.

Tidak ada yang salah dengan mengikuti tren. Tidak ada pula yang salah dengan melewatkannya. Yang perlu dijaga adalah kebebasan untuk memilih tanpa merasa harus membuktikan diri kepada orang lain.

Ketika pilihan tersebut semakin sadar, media sosial dapat kembali menjadi alat untuk memperkaya pengalaman, bukan ukuran untuk menentukan apakah kehidupan seseorang sudah cukup menarik.

One response to “Media Sosial Mengubah Gaya Hidup Anak Muda, Benarkah Semua Tren Harus Diikuti?”

  1. […] Baca Juga: Media Sosial Mengubah Gaya Hidup Anak Muda, Benarkah Semua Tren Harus Diikuti? […]

Leave a Comment

Related Post