sekitarmalangraya – Hidup sehat kini tidak lagi sekadar soal pergi ke dokter ketika sakit. Masyarakat mulai menghitung langkah kaki, memantau tidur, mengatur makanan, menggunakan wearable, mengikuti kelas olahraga, hingga mencari informasi kesehatan melalui teknologi.
Namun, ketika semakin banyak orang berbicara tentang kesehatan, apakah masyarakat benar-benar menjadi lebih sehat?
Popularitas hidup sehat ternyata tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih sehat. Kesadaran bisa tumbuh dengan cepat, sementara kebiasaan membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk terbentuk.
Mengetahui pentingnya olahraga, makanan bergizi, atau tidur yang cukup merupakan satu hal. Menjalankannya secara konsisten merupakan persoalan yang berbeda.
Di sinilah fenomena hidup sehat sebagai tren menjadi menarik untuk dilihat lebih jauh.
Hidup Sehat Kini Menjadi Bagian dari Tren Gaya Hidup
Hidup sehat semakin masuk ke berbagai bagian kehidupan sehari-hari. Olahraga tidak lagi hanya dipandang sebagai aktivitas untuk atlet.
Lari, gym, padel, jalan kaki, hingga berbagai aktivitas kebugaran kini menjadi bagian dari rutinitas dan bahkan identitas sosial sebagian masyarakat.
Temuan PwC dalam Voice of the Consumer 2026 memperlihatkan perubahan tersebut. Sebanyak 59% konsumen Indonesia memprioritaskan hidup yang lebih panjang dan sehat sebagai tujuan utama kesehatan dan wellness.
Sementara itu, 58% mengaku rutin melakukan aktivitas kebugaran fisik. Survei tersebut melibatkan 503 responden Indonesia dan dilakukan pada Februari hingga Maret 2026.
Teknologi juga semakin dekat dengan keseharian. Sebanyak 86% konsumen Indonesia telah menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable.
Sebanyak 71% bahkan mengatakan akan mencari jawaban melalui AI terlebih dahulu ketika memiliki pertanyaan terkait kesehatan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesehatan semakin diperlakukan sebagai sesuatu yang perlu dipantau setiap hari.
Tubuh, tidur, aktivitas fisik, makanan, hingga kondisi mental menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Namun, semakin banyak informasi tidak otomatis berarti semakin mudah menjalankan kebiasaan yang baik.
Baca Juga : AI Makin Pintar, Tapi Apakah Manusia Harus Takut Kehilangan Pekerjaan?
Rajin Membicarakan Kesehatan Tidak Selalu Berarti Lebih Sehat
Di sinilah saya melihat adanya perbedaan antara kesadaran dan praktik. Kita bisa mengetahui bahwa olahraga penting, memahami perlunya makanan bergizi, bahkan memiliki aplikasi yang mencatat aktivitas setiap hari. Tetapi mengetahui sesuatu tidak selalu membuat kita melakukannya.
Kita mungkin mengetahui pentingnya tidur cukup, tetapi tetap tidur larut karena pekerjaan atau hiburan. Kita bisa mengetahui manfaat olahraga, tetapi rutinitas tersebut terhenti setelah beberapa minggu.
Kita juga dapat membaca berbagai informasi mengenai makanan sehat, tetapi belum tentu memiliki waktu untuk menyiapkannya setiap hari.
Data nasional memberikan gambaran yang menarik. Hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan 62,6% penduduk usia 10 tahun ke atas berada dalam kategori aktivitas fisik yang cukup.
Namun, masih terdapat 37,4% yang kurang melakukan aktivitas fisik. Alasan yang paling banyak disebut adalah tidak memiliki waktu, yaitu 48,7%.
Di sisi lain, prevalensi obesitas pada penduduk berusia lebih dari 18 tahun meningkat dari 21,8% pada 2018 menjadi 23,4% pada 2023.
Angka tersebut tentu tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa tren hidup sehat gagal. Status kesehatan masyarakat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, kondisi sosial-ekonomi, lingkungan, hingga akses terhadap layanan kesehatan.
Namun, data itu menunjukkan bahwa meningkatnya perhatian terhadap kesehatan belum otomatis menghapus persoalan kesehatan masyarakat.
Artinya, kita perlu berhati-hati agar tidak menganggap popularitas hidup sehat sebagai bukti bahwa masyarakat secara keseluruhan sudah semakin sehat.
Masalahnya Bukan Sekadar Kemauan
Sering kali kebiasaan sehat dijelaskan sebagai persoalan disiplin. Jika seseorang tidak berolahraga, seolah-olah masalahnya hanya karena kurang niat. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks.
PwC menemukan 73% konsumen Indonesia mengalami kesulitan menjaga motivasi untuk mencapai tujuan kesehatan.
Sebanyak 67% menghadapi keterbatasan waktu dan 50% terkendala pendapatan. Bahkan, hanya 35% responden yang secara aktif menganggarkan dana untuk aktivitas kesehatan dan wellness.
Angka tersebut membuat persoalan hidup sehat terlihat lebih manusiawi. Seseorang bisa saja memiliki keinginan kuat untuk berolahraga, tetapi jadwal kerja, perjalanan, tanggung jawab keluarga, atau kondisi finansial membuat kebiasaan tersebut sulit dipertahankan.
Hal yang sama terlihat dalam SKI 2023. Dari masyarakat yang tidak melakukan aktivitas fisik secara memadai, alasan terbesar bukan selalu penolakan terhadap olahraga, melainkan keterbatasan waktu.
Karena itu, membicarakan hidup sehat seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Kenapa kamu tidak olahraga?” Pertanyaan yang lebih relevan mungkin adalah, “Apakah lingkungan hidupmu memungkinkan kamu untuk melakukannya secara konsisten?”
Ketika Hidup Sehat Berubah Menjadi Identitas dan Tren
Ada sisi lain dari fenomena hidup sehat yang juga menarik. Kesehatan kini bukan hanya urusan tubuh, tetapi dapat menjadi bagian dari identitas.
Pilihan olahraga, makanan, pakaian olahraga, wearable, aplikasi kebugaran, hingga konten wellness di media sosial membentuk ekosistem tersendiri. Pergi ke gym atau mengikuti olahraga tertentu dapat menjadi aktivitas kesehatan sekaligus aktivitas sosial.
PwC menemukan 34% konsumen Indonesia menyebut tren wellness sebagai salah satu pengaruh dalam perjalanan kesehatan mereka, sementara 27% dipengaruhi influencer.
Di sisi lain, tenaga kesehatan profesional tetap menjadi salah satu sumber pengaruh utama, disebut oleh 57% responden.
Menurut saya, tren semacam ini tidak selalu buruk. Popularitas kesehatan dapat membuat masyarakat lebih sadar terhadap tubuh dan kebiasaan sehari-hari.
Masalahnya muncul ketika hidup sehat tidak lagi hanya tentang kesehatan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang terlihat sehat di hadapan orang lain.
Kita kemudian bisa merasa harus memiliki jam olahraga tertentu, makanan tertentu, perangkat tertentu, atau rutinitas yang terlihat ideal di media sosial. Padahal, kesehatan tidak selalu memiliki tampilan yang menarik untuk dipamerkan.
Baca Juga : Ketika Algoritma Lebih Tahu Selera Kita, Apakah Kita Masih Benar-Benar Memilih?
Sehat Seharusnya Bukan Tren, tetapi Kebiasaan
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan apakah hidup sehat sedang populer, melainkan apakah kebiasaan tersebut bisa bertahan ketika tren berganti.
Menjalani hidup sehat tidak harus selalu terlihat spektakuler. Tidak semua orang membutuhkan perlengkapan olahraga mahal, aplikasi terbaru, atau rutinitas yang sangat kompleks. Bahkan, pendekatan yang terlalu rumit justru dapat membuat seseorang sulit mempertahankan kebiasaan.
Data PwC memperlihatkan adanya kesenjangan antara keinginan dan kemampuan. Masyarakat memiliki perhatian yang besar terhadap kesehatan, tetapi motivasi, waktu, dan kondisi finansial tetap menjadi hambatan.
Karena itu, hidup sehat sebaiknya tidak diperlakukan sebagai perlombaan untuk mencapai citra tertentu. Kesadaran kesehatan tetap penting, tetapi kesadaran tersebut baru memiliki makna ketika dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan yang realistis.
Mungkin kita tidak perlu bertanya apakah sudah menjalani hidup sehat dengan sempurna. Pertanyaan yang lebih masuk akal adalah apakah kebiasaan yang kita pilih bisa dilakukan secara konsisten, sesuai kondisi masing-masing, dan benar-benar membantu menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Sebab, jika hidup sehat hanya menjadi tren, ia bisa hilang ketika tren berikutnya datang. Tetapi jika berubah menjadi kebiasaan, manfaatnya tidak perlu menunggu sampai menjadi bahan pembicaraan lagi.









Leave a Comment