HP Dibatasi di Sekolah, Benarkah Siswa Bisa Lebih Fokus Belajar?

Mazaya Farandy

October 2, 2026

5
Min Read
HP Dibatasi di Sekolah, Benarkah Siswa Bisa Lebih Fokus Belajar? Pertanyaan ini kembali muncul setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan pada Juli 2026.

sekitarmalangraya – HP Dibatasi di Sekolah, Benarkah Siswa Bisa Lebih Fokus Belajar? Pertanyaan ini kembali muncul setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan pada Juli 2026.

Kebijakan tersebut bukan pelarangan total, melainkan pengaturan agar penggunaan perangkat digital lebih sesuai dengan kebutuhan pendidikan.

HP di Sekolah Mulai Dibatasi, Apa Aturan Barunya?

Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 diterbitkan pada 14 Juli 2026 sebagai pedoman bagi satuan pendidikan dalam mengatur penggunaan gawai.

Pembatasan diterapkan selama kegiatan belajar di sekolah dengan tujuan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, kondusif, serta mengurangi distraksi yang dapat mengganggu proses pembelajaran.

Aturan tersebut tidak berarti HP harus selalu dilarang. Kemendikdasmen menegaskan bahwa pembatasan bukan pelarangan.

Gawai tetap dapat dimanfaatkan untuk kepentingan edukatif ketika penggunaannya diarahkan dan diawasi pendidik.

Sekolah juga didorong menyesuaikan tata tertib berdasarkan karakteristik, kebutuhan, dan kondisi masing-masing satuan pendidikan.

Dengan demikian, bentuk penerapan dapat berbeda antara sekolah satu dan lainnya. Ada sekolah yang meminta perangkat disimpan selama pembelajaran, sementara penggunaan kembali diperbolehkan ketika guru memberikan instruksi untuk aktivitas belajar.

Baca Juga : Skill Bahasa Inggris Jadi Bekal Penting Siswa SD, Apa yang Perlu Disiapkan?

Mengapa Penggunaan HP Perlu Dibatasi di Sekolah?

Alasan utama kebijakan ini berkaitan dengan upaya menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif.

Kemendikdasmen menyebut pembatasan penggunaan gawai diarahkan untuk meningkatkan konsentrasi belajar, memperkuat interaksi sosial antarmurid, melindungi peserta didik dari dampak penggunaan teknologi yang tidak tepat, serta membangun budaya digital yang sehat dan bertanggung jawab.

Dalam praktiknya, HP dapat menjadi sumber distraksi ketika perhatian siswa berpindah dari materi pelajaran menuju notifikasi, percakapan, media sosial, gim, atau konten lain.

Karena itu, persoalannya bukan terletak pada keberadaan HP semata, tetapi pada kapan dan bagaimana perangkat tersebut digunakan.

Pembatasan juga dapat menjadi bagian dari pembiasaan. Ketika perangkat tidak selalu berada di tangan selama kegiatan belajar, siswa memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan guru dan teman, mengikuti penjelasan, serta menyelesaikan aktivitas tanpa terus-menerus berpindah perhatian ke layar.

Benarkah HP Dibatasi Bisa Membuat Siswa Lebih Fokus?

Jawabannya tidak bisa digeneralisasi sebagai jaminan bahwa seluruh siswa otomatis menjadi lebih fokus.

Namun, pengalaman sekolah yang telah menerapkan aturan tersebut menunjukkan adanya perubahan suasana belajar yang dirasakan oleh warga sekolah.

Salah satu contohnya adalah SMAN 2 Sidoarjo. Sekolah ini menerapkan penyimpanan perangkat dalam kotak khusus selama kegiatan sekolah.

Kemendikdasmen mencatat sekolah menyediakan 36 kotak penyimpanan gawai di setiap kelas. Perangkat dapat digunakan kembali apabila ada instruksi khusus dari guru untuk kebutuhan pembelajaran.

Kepala SMAN 2 Sidoarjo, Ristiwi Peni, mengatakan kebijakan tersebut diharapkan membuat siswa lebih fokus mengikuti pembelajaran.

Dari sisi siswa, Ketua OSIS Muhammad Luqman Raykhandy menyampaikan bahwa ia merasakan kebijakan tersebut efektif, terutama karena siswa kelas XII membutuhkan fokus untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.

Siswa lainnya, Diajeng Veronica, juga menggambarkan suasana kelas sebagai lebih tenang dan kondusif.

Pengalaman tersebut penting sebagai contoh penerapan, tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa pembatasan HP selalu meningkatkan fokus semua siswa.

Efeknya dapat dipengaruhi usia siswa, aturan sekolah, cara guru mengajar, kebutuhan pembelajaran, serta kebiasaan penggunaan perangkat di luar sekolah.

Baca Juga : Belajar Bukan Sekadar Mengejar Nilai, Mengapa Proses Memahami Tetap Penting?

HP Tetap Bisa Digunakan untuk Mendukung Pembelajaran

Pembatasan tidak berarti sekolah harus menjauhkan teknologi dari proses belajar. Justru, salah satu tujuan kebijakan adalah mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital secara bertanggung jawab.

Di SMAN 2 Sidoarjo, misalnya, siswa tetap menggunakan Google, YouTube, dan kecerdasan artifisial seperti ChatGPT ketika guru memberikan arahan.

Penggunaan tersebut juga disertai penekanan pada verifikasi data. Artinya, perangkat dapat berubah fungsi dari sumber distraksi menjadi alat belajar ketika penggunaannya memiliki tujuan yang jelas.

Dalam konteks ini, guru memegang peran penting. Siswa perlu mengetahui kapan perangkat boleh digunakan, apa yang harus dicari, dan bagaimana memastikan informasi yang ditemukan dapat dipercaya.

Kemampuan memeriksa sumber menjadi bagian penting dari literasi digital, terutama ketika siswa berhadapan dengan informasi internet dan keluaran AI yang belum tentu selalu benar.

Pembatasan HP Perlu Diikuti Kebiasaan Digital yang Sehat

Pembatasan di sekolah tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan penggunaan teknologi. Kebiasaan siswa terbentuk bukan hanya di kelas, tetapi juga di rumah dan lingkungan sosial.

Karena itu, sekolah, guru, dan orang tua perlu memiliki pemahaman yang sejalan mengenai penggunaan perangkat secara sehat.

Kemendikdasmen mendorong prinsip 3S, yaitu screen time, screen zone, dan screen break. Screen time berkaitan dengan pengaturan durasi penggunaan layar, screen zone mengatur tempat atau situasi yang tepat untuk menggunakan perangkat, sedangkan screen break menekankan pentingnya jeda dari aktivitas layar.

Prinsip tersebut juga diarahkan untuk diterapkan sesuai usia, perkembangan, dan kebutuhan anak.

Guru juga diharapkan menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang bijaksana, aman, dan bertanggung jawab.

Sementara itu, orang tua dapat membantu membangun kebiasaan serupa di rumah melalui aturan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.

Pada akhirnya, pembatasan HP di sekolah lebih tepat dipahami sebagai upaya mengatur penggunaan teknologi, bukan memusuhi teknologi.

Jika diterapkan secara konsisten dan tetap memberi ruang bagi kebutuhan pembelajaran, kebijakan ini dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih tertib.

Namun, kemampuan siswa untuk menggunakan teknologi secara bijak tetap membutuhkan pendampingan, literasi digital, dan kebiasaan yang dibangun bersama.

Leave a Comment

Related Post