Teknologi Membantu Banyak Hal, Tapi Apakah Semua Hal Harus Dibuat Digital?

Mazaya Farandy

September 29, 2026

6
Min Read
Teknologi membuat banyak hal menjadi lebih praktis. Masyarakat kini dapat membayar tanpa uang tunai, memesan kendaraan melalui ponsel, berbelanja dari rumah, belajar tanpa harus selalu berada di ruang kelas, hingga mengakses berbagai layanan tanpa datang langsung ke tempat tujuan.

sekitarmalangraya – Teknologi membuat banyak hal menjadi lebih praktis. Masyarakat kini dapat membayar tanpa uang tunai, memesan kendaraan melalui ponsel, berbelanja dari rumah, belajar tanpa harus selalu berada di ruang kelas, hingga mengakses berbagai layanan tanpa datang langsung ke tempat tujuan.

Perubahan tersebut tentu membawa banyak manfaat. Namun, ada satu hal yang mungkin terlalu jarang dipertanyakan: apakah semua hal memang harus dibuat digital?

Pertanyaan ini bukan berarti teknologi harus ditolak atau masyarakat perlu kembali menggunakan cara-cara lama.

Justru sebaliknya, teknologi akan terasa benar-benar bermanfaat ketika digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang memang membutuhkan teknologi.

Sebab, sesuatu yang dibuat digital belum tentu otomatis menjadi lebih sederhana. Sebuah layanan bisa terlihat modern, memiliki banyak fitur, dan dapat diakses melalui aplikasi, tetapi tetap terasa menyulitkan jika pengguna justru harus melewati lebih banyak tahapan untuk mendapatkan kebutuhan yang sebenarnya sederhana.

Karena itu, mungkin sudah waktunya digitalisasi tidak hanya dilihat dari seberapa banyak proses yang berhasil dipindahkan ke layar, tetapi dari seberapa besar perubahan tersebut benar-benar membantu manusia.

Teknologi Memang Praktis, Tetapi Tidak Semua Harus Digital

Sulit membantah bahwa teknologi telah mengubah kehidupan sehari-hari. Pembayaran digital, belanja daring, transportasi berbasis aplikasi, hingga layanan administrasi online membuat banyak aktivitas dapat dilakukan tanpa harus berpindah tempat.

Dalam layanan publik pun, teknologi menawarkan peluang untuk membuat berbagai sistem lebih terintegrasi.

World Bank menjelaskan bahwa infrastruktur publik digital seperti identitas digital, pembayaran digital, dan pertukaran data dapat menjadi fondasi bagi layanan yang lebih efisien dan terhubung.

Namun, pendekatan tersebut juga menekankan pentingnya inklusivitas, orientasi pada pengguna, privasi, dan tata kelola.

Di Indonesia, perkembangan kemampuan digital masyarakat juga terus diukur. Indeks Masyarakat Digital Indonesia atau IMDI 2025 mencatat skor nasional 44,53, meningkat 1,19 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Pengukurannya mencakup 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota serta memasukkan aspek keterampilan dan literasi digital.

Namun, menurut saya, meningkatnya kemampuan digital masyarakat tidak seharusnya diterjemahkan sebagai alasan untuk mendigitalisasi semua hal.

Teknologi memang layak digunakan ketika mampu memangkas proses yang tidak perlu, memperluas akses, atau membuat pekerjaan lebih efisien.

Tetapi jika sebuah proses justru menjadi semakin rumit setelah dibuat digital, mempertahankan cara lain seharusnya tidak dianggap sebagai bentuk keterbelakangan.

Tidak semua persoalan membutuhkan aplikasi. Tidak semua layanan membutuhkan chatbot. Dan tidak semua proses yang dilakukan secara langsung harus dianggap sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman.

Baca Juga : Mengapa Kita Sering Membeli Barang yang Sebenarnya Tidak Dibutuhkan?

Kemudahan Digital Belum Tentu Dirasakan Semua Orang

Masalahnya muncul ketika kemudahan teknologi dianggap berlaku sama bagi semua orang.

Penelitian yang diterbitkan dalam Humanities and Social Sciences Communications pada September 2026 menemukan bahwa keterampilan digital orang dewasa di Indonesia masih rendah.

Studi tersebut juga menemukan adanya perbedaan kemampuan antarkelompok. Keterampilan digital tingkat lanjut lebih banyak ditemukan pada kelompok dengan konektivitas lebih baik, pendidikan lebih tinggi, dan usia kerja utama.

Temuan tersebut menurut saya penting untuk dipertimbangkan ketika kita membicarakan digitalisasi.

Sebab, sebuah layanan digital tidak hanya membutuhkan ponsel dan koneksi internet. Pengguna mungkin harus membuat akun, mengingat kata sandi, melakukan verifikasi, mengunggah dokumen, memahami menu, menjaga keamanan data, hingga mencari solusi ketika sistem mengalami gangguan.

Bagi orang yang sudah terbiasa menggunakan teknologi, semua langkah tersebut mungkin terasa biasa.

Namun, bagi pengguna yang kurang terbiasa, satu proses sederhana bisa berubah menjadi rangkaian persoalan baru.

Di sinilah istilah “praktis” perlu dipertanyakan. Praktis bagi siapa?

Pertanyaan tersebut penting karena sebuah sistem biasanya dirancang berdasarkan alur yang dianggap paling efisien.

Namun, pengguna yang menghadapinya memiliki kemampuan, kebutuhan, dan kondisi yang berbeda-beda.

Menurut saya, keberhasilan digitalisasi seharusnya tidak hanya diukur dari apakah sistem tersebut dapat digunakan, tetapi juga apakah masyarakat dapat menggunakannya tanpa menghadapi hambatan yang tidak perlu.

Ketika Semua Hal Dipindahkan ke Layar, Apa yang Bisa Hilang?

Digitalisasi juga dapat mengubah pengalaman seseorang ketika mendapatkan layanan.

Bayangkan seseorang yang mengalami masalah ketika menggunakan sebuah aplikasi. Dahulu, ia mungkin dapat bertanya langsung kepada petugas dan menjelaskan persoalannya dengan bahasa sederhana.

Setelah layanan sepenuhnya digital, ia mungkin hanya menemukan menu bantuan, chatbot, atau formulir pengaduan yang meminta pengguna menjelaskan masalah berdasarkan kategori yang sudah ditentukan.

Untuk persoalan sederhana, sistem seperti itu mungkin cukup. Tetapi tidak semua masalah sederhana.

Ada kondisi yang sulit dimasukkan ke dalam pilihan menu. Ada pengguna yang tidak memahami istilah teknis. Ada pula situasi ketika seseorang sebenarnya hanya membutuhkan bantuan manusia untuk memahami langkah berikutnya.

Bukan berarti interaksi langsung selalu lebih baik. Justru untuk banyak kebutuhan, layanan digital memang jauh lebih cepat dan efisien. Yang menjadi persoalan adalah ketika pilihan tersebut hilang sepenuhnya.

Menurut saya, menyediakan kanal non-digital bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, pilihan tersebut dapat menjadi pengaman ketika sistem digital tidak mampu menjawab kebutuhan pengguna.

Teknologi seharusnya memperluas pilihan, bukan justru membuat masyarakat tidak memiliki pilihan lain.

Digitalisasi Seharusnya Menyelesaikan Masalah, Bukan Sekadar Mengikuti Tren

Ada kecenderungan untuk menganggap sesuatu lebih baik ketika sudah menggunakan teknologi.

Sebuah layanan yang memiliki aplikasi terlihat lebih modern daripada layanan yang masih dilakukan secara langsung.

Proses otomatis terlihat lebih maju daripada proses yang melibatkan petugas. Padahal, ukuran tersebut belum tentu tepat.

World Bank dalam kerangka digital public infrastructure menekankan bahwa sistem digital perlu berorientasi pada pengguna, inklusif, serta dibangun dengan tata kelola yang memadai.

Artinya, teknologi bukan sekadar persoalan memindahkan aktivitas ke sistem digital, tetapi bagaimana sistem tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat.

Hal ini juga penting dalam konteks Indonesia. World Bank mencatat bahwa akses internet memang berkembang, tetapi kualitas dan penggunaannya masih belum merata.

Tantangan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan infrastruktur digital tetap perlu berjalan bersama peningkatan keterampilan dan pemerataan akses.

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya diajukan sebelum melakukan digitalisasi bukan hanya, “Apakah proses ini bisa dibuat digital?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah membuatnya digital benar-benar membuat proses menjadi lebih mudah?” Jika jawabannya iya, teknologi dapat menjadi solusi yang tepat.

Namun, jika digitalisasi justru menambah langkah, membingungkan pengguna, atau membuat sebagian masyarakat kehilangan akses terhadap layanan, mungkin yang perlu diperbaiki bukan seberapa canggih teknologinya, tetapi keputusan untuk mendigitalisasi proses tersebut sejak awal.

Baca Juga : Serba Cepat di Era Digital, Tapi Mengapa Kita Justru Semakin Sulit Bersabar?

Teknologi Seharusnya Menjadi Pilihan, Bukan Selalu Keharusan

Perkembangan teknologi tidak perlu dipertentangkan dengan cara-cara lama. Keduanya bisa berjalan berdampingan selama masing-masing digunakan pada tempat yang tepat.

Teknologi layak digunakan ketika mampu memangkas pekerjaan yang tidak perlu, mempercepat proses, memperluas akses, atau meningkatkan keamanan.

Sebaliknya, layanan secara langsung tetap memiliki tempat ketika pengguna membutuhkan pendampingan, penjelasan, komunikasi manusia, atau fleksibilitas.

Menurut saya, ukuran keberhasilan teknologi bukan seberapa banyak aktivitas manusia yang berhasil dipindahkan ke aplikasi.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah perubahan tersebut membuat kehidupan menjadi lebih mudah.

Sebuah layanan tidak otomatis lebih baik hanya karena tersedia dalam bentuk digital. Begitu pula layanan yang masih dilakukan secara langsung tidak otomatis berarti tertinggal.

Pada akhirnya, teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia, bukan standar yang memaksa manusia menyesuaikan diri dengan sistem.

Karena itu, tidak semua hal yang bisa dibuat digital harus dibuat digital. Yang lebih penting adalah memastikan setiap teknologi benar-benar menyelesaikan masalah, bukan sekadar membuat kehidupan terlihat lebih modern.

Leave a Comment

Related Post