sekitarmalangraya – PISA 2025 kembali membuka pembahasan mengenai kemampuan membaca siswa di tengah perubahan cara belajar dan berkembangnya teknologi digital.
Hasil asesmen terbaru OECD menunjukkan penurunan kemampuan membaca yang cukup tajam pada rata-rata negara OECD, tetapi kondisi Indonesia perlu dilihat secara lebih hati-hati agar tidak disimpulkan sebagai penurunan dari hasil sebelumnya.
PISA 2025 merupakan asesmen terbesar sepanjang penyelenggaraannya. Lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan ekonomi mengikuti penilaian yang mengukur sains, membaca, matematika, serta computational problem solving. Pada edisi ini, sains menjadi bidang utama, sedangkan membaca dan matematika tetap diukur.
Di tingkat OECD, hasil membaca menjadi salah satu perhatian terbesar. Rata-rata skor membaca turun 28 poin antara 2015 dan 2025, sedangkan matematika turun 22 poin.
OECD menyebut hasil 2025 sebagai capaian rata-rata terendah yang pernah tercatat untuk ketiga bidang utama tersebut. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
PISA 2025 Menunjukkan Penurunan Kemampuan Membaca dan Matematika
PISA 2025 memperlihatkan adanya persoalan literasi yang lebih luas pada tingkat global. Penurunan rata-rata skor membaca negara-negara OECD tidak terjadi secara tiba-tiba.
OECD mencatat bahwa melemahnya performa pendidikan telah berlangsung dalam jangka lebih panjang di sejumlah negara dan tidak seluruhnya dapat dijelaskan oleh pandemi COVID-19.
Pada 2025, rata-rata skor membaca negara OECD berada di angka 461. Angka tersebut turun dari 489 pada 2015. Sementara itu, rata-rata matematika turun dari 485 menjadi 463 pada periode yang sama.
OECD juga mencatat bahwa penurunan membaca merupakan yang paling tajam di antara ketiga bidang utama.
Kondisi tersebut penting diperhatikan karena kemampuan membaca dalam PISA tidak sekadar mengukur apakah seorang siswa dapat membaca tulisan.
Kemampuan yang dinilai mencakup kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan berinteraksi dengan teks untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, serta berpartisipasi dalam masyarakat.
Artinya, ketika hasil membaca melemah, persoalannya bukan hanya kemampuan mengikuti pelajaran bahasa.
Kemampuan tersebut berkaitan dengan bagaimana siswa memahami informasi yang mereka temui dalam berbagai konteks.
Baca Juga : Koding dan AI Mulai Diajarkan di SD, Apa yang Perlu Disiapkan Siswa?
Indonesia Mengalami Hasil yang Relatif Stabil
Jika melihat Indonesia, PISA 2025 memberikan gambaran yang lebih kompleks. Indonesia memperoleh skor 389 untuk sains, 364 untuk matematika, dan 365 untuk membaca. Dalam computational problem solving, skor Indonesia mencapai 427.
Khusus membaca, skor Indonesia pada 2022 berada di angka 359, kemudian meningkat menjadi 365 pada PISA 2025. Namun, OECD menyatakan perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik.
Dengan demikian, kenaikan enam poin tidak dapat langsung dimaknai sebagai peningkatan kemampuan membaca yang signifikan.
Matematika justru turun dua poin dari 366 pada 2022 menjadi 364 pada 2025, tetapi perubahan tersebut juga tidak signifikan secara statistik. Sementara itu, skor sains meningkat enam poin dari 383 menjadi 389.
Karena itu, kurang tepat jika PISA 2025 digunakan untuk menyimpulkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia mengalami penurunan dibandingkan 2022.
Gambaran yang lebih sesuai adalah performa Indonesia relatif stabil, sementara tantangan untuk meningkatkan kemampuan dasar siswa masih besar.
Perubahan konteks juga perlu diperhatikan. OECD mencatat Coverage Index Indonesia mencapai sekitar 0,90 pada 2025, dibandingkan 0,46 pada partisipasi PISA pertama Indonesia pada 2003.
Artinya, cakupan siswa berusia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal telah meningkat secara besar.
Kemampuan Membaca Masih Menjadi Tantangan bagi Siswa Indonesia
Meskipun skor Indonesia relatif stabil, PISA 2025 tetap menunjukkan adanya pekerjaan besar dalam kemampuan membaca.
OECD mencatat hanya sekitar 27% siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca. Angka tersebut berada jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 74%.
Level 2 menjadi salah satu batas penting dalam PISA karena menggambarkan kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk menggunakan keterampilan akademik dalam kehidupan.
Pada tingkat ini, siswa setidaknya diharapkan mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan panjang sedang dan mencari informasi berdasarkan kriteria tertentu.
Persoalannya menjadi lebih kompleks ketika siswa berhadapan dengan informasi yang semakin beragam. Membaca berita, memahami instruksi, membandingkan informasi, atau menentukan apakah sebuah pernyataan didukung oleh bukti membutuhkan kemampuan yang lebih dari sekadar memahami arti kalimat.
PISA sendiri mendefinisikan kemampuan membaca sebagai kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan terlibat dengan teks.
Definisi tersebut menunjukkan bahwa literasi berkaitan erat dengan kemampuan berpikir ketika berhadapan dengan informasi.
Karena itu, angka 27& seharusnya tidak hanya dibaca sebagai statistik pendidikan. Angka tersebut dapat menjadi pengingat bahwa masih banyak siswa yang membutuhkan penguatan kemampuan dasar untuk memahami informasi secara efektif.
Mengapa Kemampuan Membaca Menjadi Semakin Penting di Era Digital?
PISA 2025 dilakukan ketika cara siswa mendapatkan informasi sudah berubah. Buku pelajaran bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan.
Siswa juga berhadapan dengan mesin pencari, media sosial, video pendek, chatbot AI, artikel daring, dan berbagai bentuk informasi digital.
OECD menilai kemampuan membaca semakin penting dalam lingkungan digital karena siswa perlu menemukan, mengevaluasi, menafsirkan, dan merefleksikan informasi.
Pada PISA 2025, kemampuan belajar di dunia digital juga untuk pertama kalinya dinilai sebagai domain inovatif, termasuk kemampuan membangun pengetahuan dan memecahkan masalah menggunakan perangkat komputasional.
Menariknya, laporan OECD menyebut peningkatan digitalisasi, waktu penggunaan layar yang lebih panjang, dan menurunnya kebiasaan membaca untuk kesenangan berjalan beriringan dengan melemahnya hasil literasi di sejumlah negara.
Namun, hubungan tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa penggunaan layar secara otomatis menyebabkan kemampuan membaca menurun.
Justru tantangannya adalah bagaimana pendidikan membekali siswa agar mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk membaca secara mendalam, memeriksa informasi, dan berpikir kritis.
Baca Juga : Belajar dari Rumah Saat Sekolah Tidak Aman, Apakah Pembelajaran Jarak Jauh Bisa Jadi Solusi?
PISA 2025 Bisa Menjadi Cermin untuk Pendidikan Indonesia
PISA 2025 pada akhirnya tidak cukup dibaca sebagai daftar skor atau peringkat antarnegara. Hasilnya dapat menjadi bahan untuk melihat bagaimana sistem pendidikan membantu siswa membangun kemampuan yang dibutuhkan di luar ruang kelas.
Indonesia memang belum menunjukkan penurunan signifikan dalam kemampuan membaca dibandingkan 2022.
Namun, capaian 365 poin dan proporsi siswa yang mencapai Level 2 atau lebih yang masih sekitar 27% menunjukkan bahwa kemampuan membaca tetap menjadi tantangan.
Di sisi lain, meningkatnya akses pendidikan juga menjadi bagian penting dari gambaran tersebut. Kemendikdasmen mencatat Coverage Index Indonesia hampir mencapai 90% pada 2025. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak anak usia 15 tahun yang tercakup dalam sistem pendidikan formal.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memastikan perluasan akses tersebut berjalan bersama peningkatan kualitas pembelajaran.
Sekolah tidak hanya perlu membantu siswa menyelesaikan materi pelajaran. Siswa juga perlu dibiasakan memahami bacaan, mencari bukti, membandingkan sumber, mempertanyakan informasi, dan menyusun kesimpulan berdasarkan apa yang dibaca.
Dengan demikian, PISA 2025 dapat menjadi cermin untuk melihat satu persoalan yang lebih luas: ketika informasi semakin mudah ditemukan, apakah siswa juga semakin siap untuk memahami dan menilainya?
Kemampuan membaca pada akhirnya bukan hanya urusan nilai asesmen. Kemampuan tersebut menjadi dasar bagi siswa untuk belajar, memahami lingkungan, menggunakan teknologi, dan mengambil keputusan ketika berhadapan dengan informasi yang terus bertambah.









Leave a Comment